Rabu, 24 April 2024

CERPEN: Es-ku Tumpah "gugupkah?"

                                            sumber gambar: lifestyle.okezone.com
 


Oleh: Paul

Es-ku Tumpah

"gugupkah?"

**

Tidak

tidak 

itu kesalahan teknis 

terjadi di luar kendali

mungkin karena kurang hati-hati

atau mungkin juga karena matamu telah mengikat perhatianku

sehingga gelas es yang ada di samping tanganku tidak lagi kulihat. "Maaf sayang".

**

Aku masih ingat betul kisah itu. "Di kedai kecil itu kan sayang? kau ingat itu?'. 

Setelah kita keluar dari Gramedia, engkau menyuruh agar kita langsung pulang. Namun, aku mencoba bertahan sedikit lebih lama denganmu, dengan memilih untuk mengajakmu makan siang. Engkau mengangguk-mengangguk tak bersuara. Namun aku yakin, anggukan itu bertanda bahwa engkau juga mau. "Kita makan dulu e, suh lapar ni. Jam berapa sekarang?" engkau menjawab "jam 12 lewat". "oke kalau begitu kita cari makan dulu.” Tandasku.

Matahari mulai menyempurnakan senyumnya dan mulai menguasai siang menghalau pekatnya awan yang sedikit lagi mau hujan. Bayangan tubuh kita terlihat semaki lebih kecil, dan aku melihat keningmu sudah mulai mengalir keringat. Maka segera ku ajak engkau makan, dan engkau membawaku pada sebuah kedai kecil milik seorang ibu (janda) yang ditinggal suaminya setahun yang lalu. Kedai kecil itu menjadi tumpuan hidupnya untuk menghidupi menafkai anak-anaknya.  Katanya, engkau sering mengunjungi kedai itu ketika pulang kuliah.

**

Hari sudah siang, seekor kupu-kupu mulai melebarkan sayapnya dan terbang hinggap pada kuncup mawar yang kian layu dan sendu. Mawar itu seakan-akan hanya berserah pasrah, kupu-kupu itu datang tidak tepat pada waktunya. Namun kupikir senyummu di kala siang itu tidak seredup mawar, sehingga hatikupun tetap melebar dan ingin sedikit lebih lama bersamamu di kedai itu. Ibu pemiliki kedai itu bertanya, “mau minum apa?” engkau berkata “sebentar dulu mama, duduk sedikit dulu!”

Kedai itu sangat ramai, banyak pengunjung yang datang, ada yang hanya singgah berteduh, dan ada juga yang singgah untuk mengisi perut. Engkau bertanya kepadaku “mau minum apa?” “minum apa saja!” jawabku. Lalu engkau berdiri dan tanganmu meraih dua saset bubuk es berasa lemon, dan memberikannya ke ibu itu untuk membuatnya. Kita lalu melanjutkan bercerita. Tiba-tiba dua gelas es mendarat tepat di depan mata. Lalu engkau menyodorkan satu gelas es untukku dan juga untukmu. Kita menikmatinya sambil asyik bercerita. Melepas senyum dalam rindu yang telah kita sepakati untuk bertemu. Tidak peduli bunyi musik yang merisak begitu lama di sekitar kedai itu.

**

Engaku menebarkan senyum yang memukau. Engkau tak membiarkan musik yang merundung suasana itu menenggelamkan rasa kita, rasa rindu yang sudah kita pupuk. Seekor semut merah di sudut gelas itu ikut tersenyum, mungkin ia juga mendengar perbincangan kita hingga lupa menenggelamkan tubuh mungilnya ke dalam gelas berisi lemon manis. Hingga akhirnya es itu tumpah meninggalkan gelas yang kaku di atas meja itu.

Es itu akhirnya tumpah dengan sia-sia. Padahal aku baru sekali meneguknya. Setengahpun belum. Entah bagaimana tiba-tiba tanganku menyambar gelas es itu. Rasa kagetku sedikit lebih lambat dari lincahnya gelas yang berguling dan menumpahkan es tepat di atas meja. Semutpun ikut terhanyut bersama tumpahan es itu, seakan-akan meminta pertolongan, tetapi apalah daya aku hanya memusatkan perhatian pada gelas, takut jangan sampai jatuh ke lantai dan pecah. Tetapi tidak apa-apa, biarkan dia tenggelam, setidaknya ia sedikit merasakan es itu. Akupun langsung berdiri untuk meraih selembar tisu untuk membersihkan meja itu. Wajahku sedikit memerah. Aku jadi malu dan mengatakan, “maaf (sambil tersenyum malu)”. Engkau hanya tersenyum kecil dan mengatakan “hmmm rese. Hati-hati ka!”. Ibu pemilik kedai itu mengatakan, “tidak apa-apa, sudah sering terjadi seperti ini. Biarkan saja. Nanti ibu yang membersihkannya.” Namun, aku tidak enakan, sehingga aku memilih untuk membersihkannya hingga tuntas. Kira-kira belasan lembar tisu yang kuhabiskan untuk melap meja itu.

 

 

 

Selasa, 23 April 2024

KEJAR

 Kejar....

inikah yang dinamakan cinta?

inikah pengorbanan?

kejar....

untuk apa?

Kita seringkali mengucapkan afirmasi ini

pedulikah kau dengan cinta?

pedulihkah engkau dengan dia?

tentang dia kau selalu menatap fotonya 

sedikit menebarkan senyuman

entah sedih atau bahagia

tapi kadang membuat kau bergairah

APA JUDULNYA? "Pertemuan?"


 Berdua dalam kebisuan

waktu

itu bisu

tak bersuara

tak bermata

tak jua mendengar

apalagi merisak

namun ia punya memori

mampu merekam semuanya


sedangkan kenangan

ia hanya menunggu

apakah kita akan mengabadikannya

atau membiarkannya mengalir begitu saja


di sini

hanya ada aku dan kamu

kita asyik bercerita

merapah dari mata ke mata

hati ke hati

matamu mendera hatiku

hatiku kau ikat dengan cinta

hingga pada lembayung asmara yang aku tak tahu apa judulnya


terima kasih untuk cintamu

di pertemuan itu

EKONOMIS CINTA

 Jika kamu cinta

cintailah dengan sewajarnya

jika kamu sayang

sayangilah dengan semampunya


Jangan memaksakan hatimu

untuk berkorban secara penuh

Cinta memang membutuhkan pengorbanan

namun, jika kita berkorban karena cinta dengan tanpa batas

maka, jangan menyesal

apabila pengorbananmu sendiri yang akan melukai hati dan perasaanmu


Batasi-------------------------------------------------------------------------------


Namun jangan pakai ego dan nafsu

Ego hanya akan membunuh hatimu untuk mencinta

Nafsu hanya menmbulkan emosi cinta yang tak teratur

hatimu boleh jujur-sejujurnya

tetapi jangan lupa libatkan juga otakmu

agar cinta yang tumbuh dalam perasaan yang besar

tidak menjatuhkan hatimu dalam cinta yang kecil

yang engkau terima dari mereka yang mencintaimu namun tak utuh

BERAKHIR CERITA DALAM PELUKAN RINAI HUJAN

 Begitu apik rinai hujan melumat tanah

hingga wangih tubuhnya meliuk-liuk sempurna

aromanya masih mengalir jelas di tapak-tapak kaki


Di ujung bulan April ini

wangi tubuhmu masih meliuk sempurnah 

matamu masih sangat indah

nampak jelas dalam isi kepala

 aroma tubuhmu masih membau

wanginya masih melekat utuh

ketika tubuhmu dicumbuh rinai kenangan


Di akhir pekan ini ada kenangan yang memburuh

jelas menancap dalam bola matamu

engkau menenun rindu

dan aku menikmati wangi rndumu

Sabtu, 20 April 2024

Untukmu, Puanku

 




Untukmu, Puanku

Selaksa rindu yang merapah dalam kalbu

Selaksa harapan yang dilangitkan di setiap subuh

Telah ku sematkan dalam bola matamu yang berkilau

Dikalah mataku dan matamu berpadu rasa dalam temu pada ceruk rak buku itu

 

Ruang yang sedikit temaram karena cahaya bola lampu dihalangi barisan buku-buku

 nampak terang oleh matamu, senyumanmu, dan lepas rindu kita  yang memegang teguh kendali suasana itu

Kita mengendalikan semuanya sayang

Meskipun ceruk rak buku itu bukan milik kita

Tetapi kita punya cinta yang begitu apik menenun kisah

 

Kita tak peduli rinai hujan yang merisak di luar sana

Bauh tanah yang masih basah

Engkau membawaku mengelilingi jejak cinta yang telah kau sematkan dalam matamu

Aku tenggelam hingga pada lembayung.

Hatiku kau derah dengan senyummu, akupun terjatuh dalam dekapan manja.

                                                                                                                                                                                                                                               Barnabite, 19 April 2023

Paul

 

 

 

 

 

Sabtu, 13 April 2024

Pulanglah

 Pulanglah,

hari sudah mulai gelap

senja tak lagi menyirami dedaunan dengan cahayanya

tingkap-tingkap langit telah terkunci rapat

hingga cahayapun tak sempat keluar dari awan pekat


Di sini sudah gelap,

PULANGLAH,

nanti kamu akan kehilangan arah

kamu akan bimbang mencari jalan pulang

pulanglah,

Mereka sudah menutup erat pintu rumah

tak mungkin dibukakan kembali

pulanglah sebentar

apakah kamu tidak lelah menunggu sesuatu yang tak pasti

semakin menyiksa engkau pung hati


Kau tahukan?

menunggu itu menyiksa?

menunggu itu menjenuhkan?

pulanglah

 TUHAN

Terima kasih

kepingan rindu ini sudha kembali utuh dalam doa-doa yang kulangitkan disetiap subuh.

pada tapak yang menjemput kisah, Engkau telah membisik hati ini untuk menenun rindu pada subuh

agar kelak rindu ini tiba pada senja yang bahagia.

JANGAN MARAH

 JANGAN BIARKAN LIDAHMU

TERUS MENGECAP KEMARAHAN

KARENA, JIKA DIBIARKAN TERUS MENERUS

AKAN MENJADI SEBUAH KEBIASAAN.


DAN TANPA KITA SADARI

KEBIASAAN ITU AKAN MERENGGUT KEBAHAGIAAN

JARAK ADALAH RINDU

 SEJATINYA JARAK KITA SAAT INI BUKANLAH SATU-SATUNYA RUANG DAN SEKAT YANG MEMBATASI, MELAINKAN ITU ADALAH SEBUAH RASA, DAN HARAPAN DALAM SUJUD DOA YANG KITA LANGITKAN. KITA HARUS JAUH AGAR BISA SALING MERINDUKAN

JANGAN

 jangan biarkan cerita romansa ini buram

jika ia buram

kita tak lagi melihat dengan jelas arti dari semua kisah ini

"Engkau Datang Sebagi Bunga Tidur"

 Malam ini bulan di awan sedikit terang, ia berhasil menghalau pekatnya awan yang patah-patah

tak sempurnah, tapi indah


malam ini sedikit lebih terang

jiwaku berkelana sedikit lebih jauh

mataku terpejam hingga mengalir air tanpa henti tanpa kusadari


Pikiranku kini menjelma jadi mimpi yang sedikit menggemaskan

aku merassakan bassah di sudut bibir bantal

kecupan mimpi merambat erat dalam pelukan dingin malam itu


Aku ini berkelana lebih jauh lagi

bersamamu

iya, kamu

Aku bertemu denganmu

memgang tanganmu dan akupun berjudul

"Aku rindu"

Mengapa Engkau datang hanya sebagai bunga tidurku?

Kamu Adalah Mimpi

 Harum tubuhmu menempel pada tembok

bola matamu menggantung indah di atap-atap imajinasiku

kau membuatku membisu dalam huruf-huruf mati yang kubawa dari mimpi ini

aku menemukan banyah hal dalam kebisuanku


Kau membuatku terlena dalam balutan wangi tubuhmu

aku menatap atapku dirimu dalam mata yang terpejam

hingga bibirku tak bisa berkata

namun hatiku bersorak

karena aku menemukanmu dalam anganku


Memelukmu hingga tak ingin melepaskan

Tinggalah dalam hatiku dan tetap diam.


CINTA: Membunuh

 Cinta membunuh

cinta adalah dewa kematian

cinta dapat menghancurkan

cinta dapat melenyapkan

cinta membunuh hati

cinta membodohkan

cinta menipu akal

Ia adalah dewa kematian

cinta mematikan hati yang lemah

lugu

tak berdaya

AYAH

AYAH

Menyebut namamu dalam setiap aliran nandiku

membayangi wajahmu dalam perjalananku adalah harapan penuh yang aku tanam di atasa kepala dan aliran nadiku.

Berjuang kuat seperti dirimu mungkin aku harus hidup bersamamu seribuh tahun lagi 

Atap Sunyi

 Kita Sama-sama berteduh di bawah atap sunyi

dan penghuninya seperti sudah mati

yang tersisa hanyalah sepih


SUNYI, ada tapi seperti tidak ada nyatanya

SEPIH, tidak ada yang peduli

semuanya pergi 

mencari yang ramai

                                            13/08

DULU

 Dulu,

ketika chatingan lama dibalas

aku selalu overthinking yang tidak jelas


sekarang,

ketika chatingan lama dibalas

ada dua rasa yang muncul

antara curiga dan memahami


Tetapi,

Makin ke sini aku lebih sering memahami

apakah aku harus berhenti ataukah terus menunggu yang tak pasti?

                                                

                                                                                        13/08

"Ruang Risau"

 Ruang Risau

Atapnya tak selalu menyediakan keteduhan

dindingnya tak selalu memberikan nyaman

tiang-tiangnya tak selalu berdiri kokoh

Puisi II Malam

 Malam semakin larut

aku masih setia memeluk kerisauan

batinku tersentil pada ufuk langit gemerlapan

pada cahay bintang yang bertaburan


Malam semakin larut

udara malam begitu apik menggigili tubuh lusuh

memeluk sepih yang tak pernah luput dalam kisah yang terlampau surut


Malam semakin larut

jemariku tak kunjung berhenti

menuliskan sebuah puisi dalam sepih

hingga malamku tak kunjung pamit

karena waktu tak pernah sempit

                                                            Agustus, 2023



DI MANA-MANA ADA CINTA

Sumber gambar: dari penulis



 Tak ada atap yang membenci rintik hujan

Tak ada dingin yang berkepanjangan

Kita menciptakan senduh pada tangkai senja

Dan berakhir tawa dalam bilangan-bilangan kenangan

Kita mengadorasikan cinta di bawah tiang-tiang rindu

Bahagia pun membumbung ke awangan

Kisah ini begitu apik menyulam dalam rentetan senyuman

Dan menjahit luka-luka abstrak dalam keluguhan hati.

Cinta memiliki ruangan yang abstrak

Ia menemukan bahagia bukan pada gedung mewah ataupun arca-arca megahRuang cinta tak memperhitungkan rana dalam kaprah tiang-tiang lusuh

Ia empunya bahagia yang sederhana

-Catatan: Ruang (fisik) bukanlah penawar tawa. Tetapi cinta menemukan kesederhanaannya dalam bahagia
Di bawah langit senduh
Di mana-mana ada CINTA
#Lamaojan, 26 Maret 2024
#Bersama mahasiswa KKN IKTL

Puisi: MNUSIA BERISIK


 Kita adalah makhluk yang tak berkecukupan

Yang selalu ingin melebih-lebihkan

Makhluk yang hidupnya di bawah kendali logika

Kurang bilang susah

Sudah ada masih ingin tamba

Lebih bukannya bersyukur

Hilang membuat pikiranya jadi hancur

Manusia Behati ganda

Yang selalu mencari yang baru, mengaharapkan yang baru

Tak ingin merawat yang lama, membunuh yang ada, membiarkan mereka berlalu

mati dalam merawat harapan

Sungguh, susah sampe…

Manusia bermata segitiga

Relanya tak menetap menatap yang lain sebagai rasa

Sekali ingin mengubahnya

Tanpa berdiskusi dari mata ke mata dan dari hati ke hati

Manusia berisik…

Ia punya hati, tapi kadang tak hati-hati

Manusia berisik

Ingin kutulis sajak ini dalam hati yang geram

Mengungkapkan di depan pelataran teras rumah

Mencukur habis masa-masa fajar milenium dan senja yang menyingsing

Membangunkan kemanusiaanmu dalam kesadaran yang kebanyakan berisik namun lupa

memikirkannya.

#pemberontakdalamdiam

Barnabite, 11 Maret 2023
13:58

Jumat, 12 April 2024

Arayan, si bocah pecinta sunyi

**

 Namanya Arayan (bukan nama asli), anak kecil lelaki berparas tampan dan lugu. Sejak kecil ia sudah mulai belajar hidup disiplin di tengah lingkungan yang penuh dengan pergumulan batin dan otak para penghuninya. Sepertinya Arayan sudah terbiasa dengan situasi demikian, yang rutinitas setiap harinya hanya berdoa di setiap subuh, mengikuti perayaan kurban Tuhan di altar perjamuan, sarapan pagi bersama tepat waktu, belajar, bekerja, olahraga (bermain futsal, voli, basket, badminton), kemudian berdoa lagi lalu belajar dan tidur.  

Anak kecil mana sih yang mampu beradaptasi dengan lingkungan yang penuh dengan aturan yang menjenuhkan ini? jarang ya? Tetapi sudahlah, mungkin ia belum mengerti sepenuhnya, mungkin ia merasa nyaman dengan situasi seperti itu dan mungkin juga ia hanya sekedar suka-suka saja. Tetapi rasanya itu sangat baik. Hidup dalam lingkungan yang tertib sejak dini, memberikan pengalaman positif untuk kehidupan di masa mendatang, di mana kita hanya perlu tenang. Tenang menjadikan kita dewasa dalam berpikir dan bertindak (termasuk mengambil resiko). 

**

Arayan baru berumur 9 tahun, kelihatannya belum cukup umur untuk bisa hidup dalam biara. Apalagi harus mengikuti semua aturan seminari. Namun tak di sangka, sejak ia masih berumur 1 tahun, ia sudah di asuh oleh seorang pastor di sebuah paroki. jadi wajar saja jika hingga sekarang pun Arayan masih berharap akan terus berlibur dan menikmati kehidupan seorang seminarian, yakni di biara (rumah formasi para calon imam).

**

Setiap liburan, Arayan selalu memilih untuk berlibur di biara Barnabite yang terletak di jalan wairklau, tepatnya di sebelah barat RS TC. HILERS Maumere. Ketika di tanya apa alasannya ia suka berlibur di Biara? Ia hanya menjawab, “karena Frater-Frater mereka sangat baik.” Arayan memiliki kepribadian yang sangat beda dengan anak-anak lelaki lain yang sebaya dengannya. Sikap ini sudah ditunjukan Arayan ketika bermain bola bersama dengan anak-anak tetangga. Arayan selalu bersikap menghormati dan mengalah. Tulangnya saja yang kecil, tetapi pembawaan dirinya seperti orang yang dewasa. Ia sangat sopan, tenang dan tidak menjengkelkan. Hal ini membuktikan bahwa, dewasa bukan tentang usia tetapi cara berpikir. Bagi Arayan, usia hanyalah angka yang menjadi bukti bahwa kita sudah menua, tetapi menjadi dewasa adalah tentang jiwa yang semakin mematang seiring besarnya otot-otot tubuh kita.

Orangtua Arayan tidak pernah merasa keberatan ketika Arayan memili berlibur bersama para Frater di Barnabite. Mungkin karena sedari kecil, Arayan sudah diasuh oleh seorang pastor sehingga orangtuanya tidak merasa takut ketika Arayan berlibur jauh dengan mereka.

**

Arayan sudah mulai berjudul tentang hidupnya di kemudian hari, yakni menjadi seorang misionaris Yesus. Tetapi rasanya masih sangat lama jika ia sudah mulai menulis satu judul harapannya dalam benaknya. Karena ia masih sangat kecil. Pikiran manusia akan selalu berubah seiring berjalannya waktu dalam penemuan kehidupan-kehidupan yang akan datang. Manusia selalu berjudul buram di setiap subuh, seperti embun pagi mennyelimuti dedaunan, dan awan kabut yang membungkus rapi mentari pagi. Sama halnya seperti Arayan, yang ketika ditanya, “Arayan, kalau sudah selesai sekolah SMA, nanti mau sekolah jadi Apa? Ia menjawab “mau jadi imam”. Mulut imutnya itu sangat luguh ketika ia berjudul. “kalau mau jadi imam nanti Arayan pilih masuk biara mana? Ia menjawab, “Barnabite.” Lihat, ia bukan hanya skedar berjudul, namun sekaligus mengikat perjanjian dengan ordo Barnabite. “sah?” ia menjawab “ok sah” lalu berjabatan tangan dengan seorang Frater sambil tertawa lepas. Arayan sangat menggemaskan. Para frater sangat senang ketika ia datang. Ia mengikuti semua jadwal formasi para Frater, sperti bangun pagi jam 04:30, lalu mandi, mengikuti ibadat, merayakan kurban Kristus, dan belajar. Arayan sangat cepat beradaptasi.

Di Biara, Arayan sangat disukai semua frater karena ia anak yang peka terhadap seluruh kegiatan para frater, salah satunya adalah ia tidak ribut. Ketika jadwal belajar, Arayan juga menyibukan dirinya dengan menggambar dan terkadang membaca buku bahasa asing meskipun ia tidak paham. Arayan memiliki satu teman yang sangat diakrabinya. Anto namanya. Anto (bukan nama asli) adalah seorang frater yang baru menempuh tahap formasi Aspirant tahun kedua dan sedang meramu studi Filsafat semester 2 di IFTK Ledalero. Mereka berdua layaknya kakak dan adik kandung. Setiap malam Arayan lebih memilih tidur di tempatnya Fr. Anto. Satu hal yang membuat Arayan senang adalah sebelum tidur Fr. Anto selalu berdongeng dan terkadang mengajarkan bahasa inggris kepadanya. Hal ini yang membuat Arayan betah dan suka berliburan di Biara.

**

 

 

 


buat bae sebanyak 70 kali 7 kali

 Tuhan bilang, Ampunilah sesamamu sebanyak 70 kali 7 kali

        "Maka jangan segan-segan mengampuni dirimu dan jangan takut kalau nk buat salah. hanya nk punya dirilah pengampunan terbaik. Ampunilah dirimu, terimalah kekuranganmu, sembuhkanlah.

TUHAN SURUH ENGKO BUA BAE DENGAN DORANG YANG MEMBENCI NK. TAPI BUKAN HANYA SEKALI JO BERHENTI BUA BAE...

ENGKO PU BAE ITU HARUS SEBANYAK 70 (X) 7 (X). BIAR DOARANG TAU, DORANG BISA BUKA MATA. TE USAH BANYAK BENCI EEEE...

                                                                                                paul

Senin, 01 April 2024

Tentang kamu "D"

                                                                

Nko menyapa dengan keunikan katamu Membuatku terus bertanya. Tutur katamu lewat Chatingan
membawakupada pertemuan kita waktu dulu. Nko pandai menenun senyum dalam kasih
Kamu, dan kisah itu masih samar-samar namun kamu telah menabur harapan dalam cinta 

Ketika hatiku dan hatimu sedang meramu teduh di bawah langit malam.

Aku tahu tak semuda itu membujuk cinta 

Hingga purnama kita Kembali penuh

Rupanya dirimu dan diriku terlanjur tenggelam dalam rasa. Namun realita lebih memihak pada kepiluan pertemuan berujung pisah


Hai kamu, tahukah bahwa hadirmu membawa cahaya dalam gelapku

Dalam dirimu ada ketulusan

Namun kita terlalu lama berjalan di atas kelogisan hati

Hingga lupa bahwa kita memiliki hati yang pantas mencinta


Tentang kamu dan kenangan yang ada, nko telah lama menenggelamku dalam bola matamu itu waktu kita bertemu di pelataran warung kecil

Lalu nko kembali menyapaku lewat chatingan hingga sampai sekarang aku masih meratapi sebuah perasaan yang tak juah di dengar.


Ragu? Iya, kamu ragu. 

Tentang kamu "D" dari jauh aku hanya bisa memujamu dalam diam. Biarkan kata-kata Ini mewakili perasaanku. Entah itu marah, jengkel, protes, ngomel ataupun cinta (namun itu belum nko percaya), seperti pertengkaran yang sempat kita ramu. 

Namun, percayalah suatu saat kita akan kembali merindu tentang hal yang sama.


Aku tahu

Aku mengerti 

Katamu, "maybe not maybe yes" 

Iya, nko masih diselimuti rasa jengkel

Aku minta maaf


Tentang kamu, entah kenapa rasa ini tumbuh sendirinya, kamu unik (menurutku), kamu seperti narasi panjang yang harus aku baca dan pahami baik-baik. Kadang aku bingung sendiri

Malam setelah dari pamitmu itu, aku kembali mengusik bulan, entakah engkau begitu apik meredupkan senjaku, menggantungkan angan yang tinggi. Aku malu hingga hampir jatuh.


Tentang kamu "D" ada sejuta harap aka temu kita dalam purnama berikutnya. 

Cinta tak selamanya tumbuh dalam kata-kata indah dan romantis. Tapi kita bisa menemukannya dalam perbedaan. 

Katamu nko menggantungkan harapan demi mengenal citra yang sedikit beda dari yang lainya, tapi nyatanya nko masih temukan hal yang sama, bahkan sebaliknya dari ekspetasi yang nko gantungkan dalam isi kepala. 

"D" satu hal besar kegagalan dalam cinta adalah mengenal seseorang dengan ukurann kita.


Tentang kamu "D" kita belum lama kenal, berpasan mata pun baru sekali, itupun hanya kebetulan ketemu. Namun senyummu membuatku candu, meskipun berhayal dari jauh.


Tentangmu, singkat namun bermakna


 

    LAPORAN HASIL KEGIATAN KATEKESE PEDNALAMAN KITAB SUCI PERTEMUAN KEDUA - OKTOBER 2025 Dikerjakan Oleh: Paulus Leo Lego Hurit (237...