Rabu, 24 April 2024

CERPEN: Es-ku Tumpah "gugupkah?"

                                            sumber gambar: lifestyle.okezone.com
 


Oleh: Paul

Es-ku Tumpah

"gugupkah?"

**

Tidak

tidak 

itu kesalahan teknis 

terjadi di luar kendali

mungkin karena kurang hati-hati

atau mungkin juga karena matamu telah mengikat perhatianku

sehingga gelas es yang ada di samping tanganku tidak lagi kulihat. "Maaf sayang".

**

Aku masih ingat betul kisah itu. "Di kedai kecil itu kan sayang? kau ingat itu?'. 

Setelah kita keluar dari Gramedia, engkau menyuruh agar kita langsung pulang. Namun, aku mencoba bertahan sedikit lebih lama denganmu, dengan memilih untuk mengajakmu makan siang. Engkau mengangguk-mengangguk tak bersuara. Namun aku yakin, anggukan itu bertanda bahwa engkau juga mau. "Kita makan dulu e, suh lapar ni. Jam berapa sekarang?" engkau menjawab "jam 12 lewat". "oke kalau begitu kita cari makan dulu.” Tandasku.

Matahari mulai menyempurnakan senyumnya dan mulai menguasai siang menghalau pekatnya awan yang sedikit lagi mau hujan. Bayangan tubuh kita terlihat semaki lebih kecil, dan aku melihat keningmu sudah mulai mengalir keringat. Maka segera ku ajak engkau makan, dan engkau membawaku pada sebuah kedai kecil milik seorang ibu (janda) yang ditinggal suaminya setahun yang lalu. Kedai kecil itu menjadi tumpuan hidupnya untuk menghidupi menafkai anak-anaknya.  Katanya, engkau sering mengunjungi kedai itu ketika pulang kuliah.

**

Hari sudah siang, seekor kupu-kupu mulai melebarkan sayapnya dan terbang hinggap pada kuncup mawar yang kian layu dan sendu. Mawar itu seakan-akan hanya berserah pasrah, kupu-kupu itu datang tidak tepat pada waktunya. Namun kupikir senyummu di kala siang itu tidak seredup mawar, sehingga hatikupun tetap melebar dan ingin sedikit lebih lama bersamamu di kedai itu. Ibu pemiliki kedai itu bertanya, “mau minum apa?” engkau berkata “sebentar dulu mama, duduk sedikit dulu!”

Kedai itu sangat ramai, banyak pengunjung yang datang, ada yang hanya singgah berteduh, dan ada juga yang singgah untuk mengisi perut. Engkau bertanya kepadaku “mau minum apa?” “minum apa saja!” jawabku. Lalu engkau berdiri dan tanganmu meraih dua saset bubuk es berasa lemon, dan memberikannya ke ibu itu untuk membuatnya. Kita lalu melanjutkan bercerita. Tiba-tiba dua gelas es mendarat tepat di depan mata. Lalu engkau menyodorkan satu gelas es untukku dan juga untukmu. Kita menikmatinya sambil asyik bercerita. Melepas senyum dalam rindu yang telah kita sepakati untuk bertemu. Tidak peduli bunyi musik yang merisak begitu lama di sekitar kedai itu.

**

Engaku menebarkan senyum yang memukau. Engkau tak membiarkan musik yang merundung suasana itu menenggelamkan rasa kita, rasa rindu yang sudah kita pupuk. Seekor semut merah di sudut gelas itu ikut tersenyum, mungkin ia juga mendengar perbincangan kita hingga lupa menenggelamkan tubuh mungilnya ke dalam gelas berisi lemon manis. Hingga akhirnya es itu tumpah meninggalkan gelas yang kaku di atas meja itu.

Es itu akhirnya tumpah dengan sia-sia. Padahal aku baru sekali meneguknya. Setengahpun belum. Entah bagaimana tiba-tiba tanganku menyambar gelas es itu. Rasa kagetku sedikit lebih lambat dari lincahnya gelas yang berguling dan menumpahkan es tepat di atas meja. Semutpun ikut terhanyut bersama tumpahan es itu, seakan-akan meminta pertolongan, tetapi apalah daya aku hanya memusatkan perhatian pada gelas, takut jangan sampai jatuh ke lantai dan pecah. Tetapi tidak apa-apa, biarkan dia tenggelam, setidaknya ia sedikit merasakan es itu. Akupun langsung berdiri untuk meraih selembar tisu untuk membersihkan meja itu. Wajahku sedikit memerah. Aku jadi malu dan mengatakan, “maaf (sambil tersenyum malu)”. Engkau hanya tersenyum kecil dan mengatakan “hmmm rese. Hati-hati ka!”. Ibu pemilik kedai itu mengatakan, “tidak apa-apa, sudah sering terjadi seperti ini. Biarkan saja. Nanti ibu yang membersihkannya.” Namun, aku tidak enakan, sehingga aku memilih untuk membersihkannya hingga tuntas. Kira-kira belasan lembar tisu yang kuhabiskan untuk melap meja itu.

 

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

    LAPORAN HASIL KEGIATAN KATEKESE PEDNALAMAN KITAB SUCI PERTEMUAN KEDUA - OKTOBER 2025 Dikerjakan Oleh: Paulus Leo Lego Hurit (237...