Tugas Pastoral Kitab
Suci
Laporan Hasil Kegiatan
Katekese
Pertemuan I
Kelompok
The Youth Eltras
Di Susun Oleh:
Paulus Leo Lego Hurit
(23757634)
Marianus Liwu Kelen
(23757599)
Markus Belili Maran
(23757604)
Yohananes
Taek Loy (23757698)
LAPORAN HASIL KATEKESE PENDALAMAN KITAB
SUCI
PERTEMUAN PERTAMA - OKTOBER 2025
A.
PENGANTAR
Puji dan syukur
kami haturkan kepada Allah yang Maha baik dan penuh Belaskasihan, karena atas
ridohnya, kami dapat menjalankan kegiatan Katekese Pendalam Kitab Suci pada
pertemuan yang pertama ini dengan baik dan mantap.
Pada pertemuan pertama yang digelar
pada 10 Oktober 2025 yang lalu merupakan
suatu pertemuan yang cukup mengesankan. Sebab dalam kegiatan itu, kami
menemukan berbagai macam pesan dan kesan, baik bersifat positif maupun negatif.
Namun kami tetap percaya bahwa itu merupakan bagian dari proses dan menjadi
pengalaman yang baik.
Fokus atau sasaran
kelompok dalam menyusun perencanaan hingga pada hari H kegiatan itu
dilaksanakan adalah para kaum remaja dan dewasa yang berasrama di wilayah Paroki Spiritu Santo
Misir, Eltari Atas (Eltras)
(Lokus), Maumere-Kabupaten Sikka, secara khusus di wilayah Paroki Spiritu Santo
Misir. Mereka adalah remaja SMA dan Mahasiswi.
Di bawah tema
“Sahabat Sejati: Kasih yang Berkorban”, kami memilih kaum remaja dan dewasa
sebagai sasaran Katekese ini, dengan menyoroti model kasih yang diajarkan Yesus
Kristus. Tema ini menjadi pokok sentral yang dapat memberikan pemahaman kepada
peserta katekese untuk memahami Apa perintah yang diberikan Yesus kepada
manusia? Model Kasih seperti apa yang diajarkan Yesus? Dan sebutan apa yang
diberikan Yesus kepada murid-murid-Nya? Tema ini juga hendak menghantar
peserta katekese untuk lebih mendalami dan memahami arti kasih yang berkorban
dalam persahabatan remaja zaman sekarang, dan bagaimana meneladani Yesus
sebagai sahabat dalam lingkungan sekolah, komunitas, dan masyarakat.
Kami menyadari
bahwa kegiatan ini tidak akan berjalan tanpa ada kerja sama yang baik dan atau
dukungan dari pihak lain. Maka sebagai bentuk kewajiban moral, kami hendak
mengucapkan terima kasih kepada:
Pertama, Pater Ito Dhogo, SVD selaku dosen
pengampuh matakulia Pastoral Kitab Suci, yang telah mempercayakan dan
memberikan kami kesempatan untuk berpastoral. Kedua, untuk semua peserta
katekese yang telah menyatakan kesediaan menjadi sasaran kegiatan ini. Ketiga,
Secara khusus kepada pemilik asrama (ibu asrama) yang dengan sukarela dan
dengan senang hati menerima permintaan serta kehadiran kami untuk melakukan
katekese bersama anak-anak asrama. Keempat,
terima kasih sepenuhnya dan sebangga-bangganya kepada “team” yang sudah
bekerja dengan baik dan tulus untuk menyukseskan kegiatan ini: Paulus Leo Lego
Hurit (Paul Hurit), Marianus Liwu Kelen (Nus), Markus Belili Maran (Billi), dan
Yohanes Taek Loy (Johan).
B.
PROSES
KATEKESE
TEMA KATEKESE:
“SAHABAT SEJATI:
KASIH YANG BERKORBAN”
1.
Tujuan
Berdasarkan
tema yang diangkat, fasilitator merumuskan beberapa tujuan yang hendak dicapai
oleh peserta katekese. Tujuanya adalah sebagai berikut:
a.
Peserta
diharapkan agar dapat mendalami dan memahami arti Kasih yang berkorban dalam
hubungan persahabatan
b.
Peserta
mampu meneladani model kasih yang diajarkan Yesus di dalam kehidupan bersama
setiap hari.
c.
Peserta
diharapkan untuk memahami arti kasih seorang sahabat yang berkorban, secara
khusus dalam dunia masa ini.
2.
Pemikiran
dasar
Dalam dunia masa sekarang, perkembangan pengetahuan
dan teknologi telah banyak membawa perubahan yang signifikan bagi manusia
secara khusus dalam bidang sosial. Dan perkembangan itu mampu membawa manusia
ke dalam situasi hidup yang serba individual. Dalam situasi tertentu, seseorang
kerap menjadi sosok yang apatis, arogan, dan bahkan menjadi sosok yang anti
sosial. Hal ini diakibatkan oleh adanya model hidup yang serba instan “fast-food”
sehingga manusia kerap kehilangan jiwa sosialismenya, dan menjadi orang
yang mati sebelum waktunya. Hidup saling membutuhkan satu dengan yang lain
menjadi sebuah prinsip yang kabur.
Dan dalam konteks ini, situasi demikian kerap terjadi
dalam hubungan persahabatan zaman sekarang. Persahabatan zaman sekarang kerap mengalami kehilangan mentalitas
persahabatan yang solid. Dalam situasi tertentu, sahabat itu sendiri
seolah-olah hanya sekedar tempat pelarian semata atau dapat diungkapkan dengan
bahasa “rindu karena butuh”. Sahabat bukan lagi sebagai sosok yang
selalu berjalan beriringan, saling tolong-menolong, saling melengkapi, tetapi
malah hanya sebagai “suplemen” yang dibutuhkan sesaat. Ini menjadi tantangan
bagi kaum remaja ataupun dewasa, dan juga untuk seluruh orang beriman akan
Yesus Kristus sebagai model sahabat yang sejati.
Sahabat sejati adalah seseorang yang “bukan hanya
sebagai tempat berteduh” tetapi ia adalah sosok yang siap dan yang mau masuk
dan merasakan suka dan duka yang dialami oleh sahabatnya. Dan model persahabat
seperti ini telah ditunjukan oleh Yesus Kristus. Dia menyebut kita sebagai
sahabat-Nya, dan seorang sahabat adalah dia yang rela mengorbankan nyawa. Maka
dalam persahabat yang diajarkan Yesus adalah persahabatan yang mengenakan
pakain “Kasih” dan “kebenaran” yang melampaui batas.
Oleh karena itu, dalam katekese ini, kita diharapkan
dapat meneladani Yesus sebagai model kasih yang sejati dalam hidup bersama
sebagai sahabat.
3.
Bahan
Yohanes
15:12-15
|
|
“Inilah
perintah-Ku, yaitu supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi
kamu. |
|
|
“Tidak ada kasih
yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk
sahabat-sahabatnya.” |
|
|
“Kamu adalah
sahabat-Ku, jikalau kamu berbuat apa yang Kuperintahkan kepadamu.” |
|
|
“Aku tidak
menyebut kamu lagi hamba, sebab hamba tidak tahu, apa yang diperbuat oleh
tuannya, tetapi Aku menyebut kamu sahabat, karena Aku telah memberitahukan
kepada kamu segala sesuatu yang telah Kudengar dari Bapa-Ku.” |
4.
Sarana
Sarana
yang digunakan dalam katekese ini adalah:
Kitab
Suci, sticky notes atau kertas memo tempel, kertas karton putih dan
spidol.
5.
Peserta
Anak
Asrama kompleks GNR-Eltras di
wilayah Paroki Spiritu Santo Misir.
6.
Waktu
Kurang
lebih 2 jam. Dilaksanakan pada soreh hari pukul 15:30 sampai selesai.
7.
Proses
pertemuan
a.
Pembukaan
-Doa Pembukaan: doa dibuka dengan sebuah
lagu “Yesus Kekasih Jiwaku”
-
Perkenalan nama (Fasilitator dan peserta Katekese).
Alasan
perkenalan nama dilangsungkan pada pembukaan, karena sesuai dengan tema yang
dibiacarakan, bahwa agar kita dapat saling mengasihi dan kasih itu tumbuh di
antara kita, alangkah baiknya didahuli dengan perkenalan. Seperti pepatah lama
yang mengatakan “tak kenal maka tak sayang”.
-
P/F: Dalam Nama Bapa dan Putera
dan Roh Kudus
PK: Amin
-
Doa Pembukaan
-Game
atau Ice Breaking: “Tebak siapa nama temanmu”.
Sebelum
memulai permainan, fasilitator menghitung jumlah seluruh peserta katekese.
Jumlah mereka adalah 13 orang. Peserta dibagi dalam 3 kelompok (Mawar, melati,
dan Anggrek) dan masing-masing kelompok mengutus dua orang untuk menjadi
pemeran game tersebut. Peserta ditutup matanya, disentuh bahu oleh seorang
teman, dan menebak siapa teman yang disentuh. Game ini mengajarkan mereka
tentang pentingnya mengenal sahabat dengan hati dan perasaan.
-hening
sejenak, dan dilanjutkan dengan salam
dan pengantar awal oleh fasilitator, serta menjelaskan makna dari game
tersebut.
b.
Pendalaman
Kitab Suci
-
Injil
Yohanes 15:12-15 dibacakan oleh peserta dalam 2 kelompok secara bergantian
(ayat ganjil dan ayat genap). Setelah itu dibacakan lagi secara bersama-sama,
dan dibacakan ulang satu kali oleh pemandu/ fasilitator.
-
Peserta
menjawab Pertanyaan penuntun: Apa perintah yang diberikan Yesus? Model kasih
seperti apa yang diajarkan Yesus? Sebutan apa yang diberikan Yesus kepada
murid-murid-Nya? Mengapa?
c.
Aktivitas
diskusi
Dalam tahap diskusi ini, peserta melakukan diskusi
ringan tentang apa arti kasih yang berkorban dalam persahabatan remaja
sekarang? Dan bagaimana caranya meneladani Yesus sebagai sahabat dalam
lingkungan sekolah/ komunitas?
Pertanyaan-pertanyaan di atas dijawab dengan baik dan
mantap oleh peserta katekese yang dibagi dalam dua kelompok. Berikut adalah
jawaban dari masing-masing kelompok:
Jawaban
Kel. Mawar:
Pertanyaan
pertama, “menurut kelompok
kami, kasih yang berkorban dalam persahabatan remaja sekarang adalah:
mengunjungi teman yang sedang sakit. Zaman sekarang tindakan mengunjungi teman
yang sakit secara langsung dengan pergi ke rumahnya sudah menjadi hal yang
lumrah atau biasa. Akan tetapi kebiasaan itu sudah jarang kita temui, apalagi
dalam dunia saat ini, di mana komunikasi atau relasi secara tatap muka atau
bertemu langsung sudah diganti dengan komunikasi jarak jauh dengan menggunakan
handphone (hp). jadi jawaban yang kami berikan itu seharusnya menjadi alarm
untuk kita semua, agar kita dapat sadar bahwa untuk meneladani Yesus sebagai
pusat kasih yang rela berkorban adalah dengan mengunjungi teman yang sakit
secara langsung dan memberikan hiburan untuknya.
Jawaban Pertanyaan kedua,
“menurut kelompok kami,
cara meneladani Yesus sebagai sahabt dalam lingkungan sekolah atau komunitas
adalah dengan cara:
Pertama, kita harus mengasihi sesama tanpa
membedakan latar budaya, suku, ras, dll. Sama seperti Yesus yang mengasihi
tanpa membedakan satu dengan yang lainnya. Kedua, kita harus saling
mengampuni sama seperti Yesus yang telah mengampuni dosa-dosa kita.”
Jawaban
Kel. Melati:
Jawaban Pertanyaan
pertama, “menurut kami,
kasih yang berkorban dalam persahabat zaman sekarang adalah menolong teman yang
sedang membutuhkan pertolongan. Misalnya memberikan buku, pulpen, atau uang.”
Jawaban Pertanyaan kedua,
“menurut kelompok kami,
cara meneladani Yesus sebagai sahabat dalam lingkungan sekolah atau komunitas
adalah dengan berteman dengan sesama tanpa ada niat-niat tertentu, seperti kita
berteman untuk mendapatkan keuntungan. Misalnya ada teman yang berasal dari
keluarga yang cukup mampu, kita berteman dengan dia untuk bisa mendapatkan
sesuatu seperti uang, kue, dll. Tetapi sebaliknya, kita harus berteman dengan
tulus dan ikhlas seperti Yesus yang tulus mencintai kita.”
ü Penegasan Ulang oleh Fasilitator
Sadari-saudari
yang terkasih, saya mengucapkan apresiasi kepada kamu semua yang telah menjawab
pertanyaan-pertanyaan tersebut. Jawaban yang telah diberikan adalah jawaban
yang benar dan memiliki makna yang cukup mendalam. Jawaban tersebut juga
sekaligus menjadi alarm positif yang dapat membangunkan kita dari tidur panjang
jiwa keegosian dan sikap tidak peduli terhadap sesama. (ajakan tepuk tangan
sebagai bentuk apresiasi).
Para sahabat
katekese yang terkasih, dalam pengantar awal tadi dikatakan bahwa sahabat
bukanlah tempat pelarian atau sahabat bukan semata sebagai tempat berteduh saat
lelah. Sahabat tidak datang saat butuh atau seperti yang ditegaskan “rindu
karena butuh”, tetapi sahabat adalah dia yang siap menerima segala suka dan
duka. Sahabat itu sendiri adalah hidup. Seperti hidup yang tidak sekedar
tentang suka atau bahagia, tetapi hidup adalah tentang bagaimana kita menerima
segala yang ada dan menjalaninya baik itu bahagia maupun luka atau derita.
Melalui Yesus
Kristus, kita belajar tentang persahabatan yang melampaui batas dengan standar
“kasih tanpa pamri”. Yesus menyebut kita sebagai sahabat dan bukan hamba, maka
kitapun demikian. Tidak ada yang lebih besar dan berkuasa di antara kita, kita
seharusnya sama – sebagaimana Tuhan telah menciptakan kita seturut gambar dan
rupa-Nya (Imago Dei). Ketika kita adalah “sama” di mata Tuhan, kita harus
saling menerima satu dengan yang lain tanpa harus membedakan suku, budaya,
rasa, dll seperti yang terjawab dalam diskusi tadi.
Para sahabat
katekese yang terkasih, melalui Yesus juga kita diajarkan untuk rela berkorban
untuk orang lain. Seperti cinta adalah korban dan hidup, Yesus telah menunjukan
itu kepada manusia melalui kisah sengsara, wafat, dan kebangkitan-Nya. Yesus
bersabda “Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seseorang yang
memberikan nyawa untuk sahabat-sahabat-Nya.” Maka baiklah kita pun berjuang
untuk meneladani sikap Yesus dalam hidup kita sehari-hari.
Dalam hidup kita,
terkadang kita berpikir bahwa mengasihi sesama adalah dengan memberikan barang
berharga atau berbagai jenis material lainnya kepada orang yang membutuhkan
atau berkorban tenaga dan waktu yang besar untuk membantu orang. Itu juga
merupakan tindakan kasih yang konkret. Tetapi tindakan itu kerap kali
mengandung niat yang lain seperti membutuhkan validasi atau pujian karena sudah
banyak memberikan bantuan. Tetapi lebih dari itu, tindakan mengasihi dan
berkorban terhadap yang lain dapat juga kita lakukan dengan hal-hal kecil atau
sederhana.
Kasih tanpa pamri
juga merupakan kasih yang tak terbatas, atau saya namakan kasih itu sebagai
“lubang tanpa dasar”. Kasih seperti lubang tanpa dasar artinya kita mengasihi
sesama karena kita memiliki kasih itu, seperti halnya saya memberikan uang
kepada sahabat saya atau siapapun itu, menyatakan bahwa saya memiliki uang itu.
Atau secara sederhananya: saya memberi karena saya memiliki. Itu berarti kasih
itu tidak miskin. Maka kita pun jangan memberi dengan kemiskinan. Memberi
dengan kemiskinan adalah memberi dengan harapan untuk mendapatkan balasan atau
imbalan. Kasih yang diajarkan Yesus tidaklah demikian. Yesus mengasihi kita
karena ia adalah sumber kasih, maka baiklah kitapun mengasihi tanpa harus
meminta imbalan.
Memang benar
bahwa, terkadang dunia tidak memihak pada orang yang memihak pada kebenaran,
dunia sering kali memihak pada apa yang paling banyak disukai atau yang paling
banyak diminati, sedangkan yang benar malah sering dikhianati dan diabaikan.
Tetapi cara pandang dunia seperti itu harus kita terima dan jalani sebagai
bagian dari hidup.
Sahabat katekese
yang terkasih, terkadang seseorang yang kita cintai seringkali melukai hati
kita, baik melalui tindakan maupun melalui kata-kata. Tetapi marilah kita
belajar untuk memaafkan dan mengasihi mereka yang melukai kita sama seperti
Yesus yang mengasihi sahabat-sahabat-Nya hingga rela menyerahkan nyawa di kayu
salib.
Ingatlah bahwa
“cinta tak selalu bahagia, tetapi yang bahagia adalah bukti dari cinta.” Terima
kasih, Tuhan Yesus sayang kita semua. Amin.
d.
Aktivitas
Kreatif
Pada
bagian ini, kami (fasilitator) menyiapkan satu lembar kertas karton berwarna
putih dan meminta peserta katekese untuk membuat peta sahabat. Tiap
peserta menuliskan nama seorang atau lebih dari sahabat mereka di sticky
notes atau kertas memo tempel yang sudah disiapkan serta menulis hal-hal
baik yang pernah sahabat itu lakukan. Tulisan itu kemudian ditempelkan di
kertas karton tersebut sebagai lambang jaringan kasih yang mengikat mereka.
e.
Pesan
dan Penerapan
-
Pesan: pertama, Kasihilah sesamamu
sebagiamana Tuhan megasihi kita, dan kasihilah sesamamu seperti dirimu sendiri.
Kedua, kasih tidak menuntut imbalan. Maka kasihhilah sesama dengan tulus
seperti seorang ibu yang mengasihi anaknya meskipun terkadang anak selalu
melukai hati ibu.
-
Penerapan: pertama, sebagai bukti kasih
terhadap Tuhan dan sesama, maka baiklah kita juga mencintai sabda Tuhan dengan
cara membaca dan merenungkannya dalam kehidupan sehari-hari. Kedua, sebagai
bentuk cinta terhadap Tuhan dan sesama, kita diharapkan untuk mencintai alam
ciptaan seperti: membuang sampah pada tempatnya, menanam pohon (penghijauan),
dan menanam bunga. Dan ketiga, menjaga kebersihan dan kerapihan diri
baik secara fisik maupun secara batin.
f.
Doa
Permohonan
Doa
permohonan dibacakan oleh peserta katekese secara bersamaan. Berikut adalah doa
permohonan yang disiapkan berdasarkan teks injil Yohanes 15:12-15:
Bapa
kami yang di surga,
Kami
datang ke hadapan-Mu dengan hati yang bersyukur atas kasih-Mu yang luar biasa,
yang Engkau tunjukan melalui Putera-Mu, Yesus Kristus. Firman-Mu dalam Yohanes
15:12-15 mengingatkan kami akan perintah agung untuk saling mengasihi, sama
seperti Kristus telah mengasihi kami.
Ya
Tuhan, kami mohon agar Engkau menanamkan kasih ilahi-Mu di dalam hati kami.
Bantulah kami untuk tidak hanya menjadi pendengar Firman, tetapi juga pelaku
yang nyata, yang bersedia mengasihi sesama kami dengan kasih yang rela
berkorban, seperti Kristus yang telah memberikan nyawa-Nya bagi
sahabat-sahabat-Nya.
Ajarilah
kami untuk hidup sebagai sahabat-sahabt-Mu, yang melakukan apa yang Engkau
perintahkan. Kami bersyukur karena Engkau tidak lagi menyebut kami hamba,
melainkan sahabat, dan telah memberitahukan kepada kami segala sesuatu yang
engkau dengar dari Bapa. Tolonglah kami untuk menghargai hak istimewa ini dan
berjalan dalam keintiman persekutuan dengan-Mu setiap hari.
Kami
berdoa untuk keberanian dan kekuatan agar dapat mengasihi tanpa pamrih,
melampaui kepentingan diri sendiri, dan siap berkorban demi kebaikan orang
lain. Biarlah melalui kasih kami, nama-Mu dimuliakan dan banyak orang dapat
melihat kebenaran firman-Mu.
Di
dalam nama Tuhan Yesus Kristus, Sahabat kami dan penebus kami sepanjangn segala
masa. Amin.
g.
Penutup
-
Membacakan
kembali ayat 13: Tidak
ada kasih yang lebih besar daripada kasih seorang yang memberikan nyawanya
untuk sahabat-sahabatnya.”
-
P/F:
kemuliaan kepada Bapa, dan Putera, dan Roh Kudus
Peserta:
Seperti pada permulaan, sepanjang segala abad, amin.
P/F:
Dalam nama Bapa, dan Putera, dan Roh Kudus.
Peserta:
Amin.
Kegiatan diakhiri
dengan foto bersama.
C.
EVALUASI
DAN REKOMENDASI LANJUTAN
1.
Satu
minggu sebelum pertemuan pertama dilaksanakan, kami melakukan persiapan berupa
diskusi kelompok untuk menetapkan tema dan sasaran serta efektivitas waktu yang
pas untuk kegiatan ini. Selanjutnya kami mengunjungi peserta katekese untuk
melakukan pendekatan sekaligus memastikan kesediaan dan ketaksediaan mereka.
Dan tahap ini berjalan dengan lancar.
2.
Pada
saat pelaksanaan, proses berjalan dengan lancar dan berakhir dengan kesan yang
baik. Kami merasa berhasil membawakan katekese pada saat itu, walapun masih
banyak hal yang perlu diakui sebagai keterbatasan kami.
3.
Katekese
dimulai pada jumad, 10 Oktober 2025. Waktu yang direncanakan adalah pukul 16.00
WITA. Sebagai antisipasi, kami memutuskan untuk berangkat ke lokasi kegiatan
pada pukul 15.00 WITA. Tetapi pada saat kami tiba di lokasi kegiatan, peserta
katekese masih dalam keadaan belum siap (dalam hal ini di antara mereka ada
yang masih tidur, belum mandi, dll). Maka kegiatan dimulai tepat jam 16.30 dan
selesai pada pukul 18.00 WITA.
4.
Pada
akhir pertemuan, kami sempat mengajukan pertanyaan tentang perasaan yang
dialami peserta katekese selama kegiatan berlangung. Dan jawaban yang diberikan
adalah:
-
Waktu
katekese terlalu sedikit. Peserta mengajukan waktu katekese diperpanjang lagi.
-
Penyediaan
tempat atau ruanga katekese terlalu sempit.
-
Sesi
tanya jawab ditambah
-
Ice
breakingnya dibuat lebih banyak lagi
-
Harus
ada nyanyi-nyanyian
D.
LAMPIRAN
DOKUMENTASI

Tidak ada komentar:
Posting Komentar