Tampilkan postingan dengan label -. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label -. Tampilkan semua postingan

Jumat, 18 Agustus 2023

AKU, KAMU DAN JARAK || Puisi Paul





 AKU, KAMU DAN JARAK


Masih terjaga lama

Di ruang tamu duduk menganga

Menatap kekosongan hati dalam kisah yang belum selesai

Tangan mungil itu tak segan diam diri

Siap menari bersama pena di atas kertas putih


Malam itu isi kepalaku masih tertuju

Padamu wahai kekasihku

Yang selalu membuatku candu

Ingin selalu bertemu membagi kisah dalam kasih

Walau kutahu ini hanya sekedar mimpi 


Aku, kamu dan jarak

Tiga kata yang menggambarkan kita saat ini

Ingatlah kata hati jangan ke lain hati

Jangan banyak diskusi pada mereka yang suka iri


Aku, kamu dan jarak

Adalah mimpi kita saat ini

Saat di mana malammu adalah siang untukku

Saat di mana rindu tidak bisa di bayar oleh satu pertemuan

Tapi jangan kau sungkan 


Aku, kamu dan jarak

Kukira itu mudah

Malah menjadi penghambat aku dan kamu

Kita berada di bawah langit yang sama

Namun hangat senja yang menyelimutimu 

Dapat melelehkan Salju  di atapku 




JADIKAN PEKERJAAN SEBAGAI PEMBELAJARAN || Paul

  Anton dikejutkan dengan tumpukan piring kotor yang nampak jelas sedang menunggu di sana untuk segerah di cuci. "ah. Sialan. Sudah mengantuk baru cuci piring lagi. Hufffttt". kali ini Anton kembali menggaruk-garuk kepala sedikit lebih kencang dengan perasaan kesal. Namun, sebelum Anton mencuci piring, ia terlebih dahulu mengupas bawang dan kunyit serta menyiapkan segala macam keperluan masak untuk besok pagi. Ya, begitulah aktivitas yang dilakukan Anton setiap hari



                                                                                **


Malam itu Anton masih terjaga lama di ruang tamu menatap selembar putih yang hampir penuh dengan coretan rindu yang terus menari-nari bersama pena tinta hitam. Ia menatap langit dari balik jendela ruang tamu. Masih sama. Seperti beberapa malam lalu, sebuah lengkungan sabit yang berukuran sedikit lebih besar dan beberapa bintang tampak berkilauan menemaninya dia atas sana. Matanya mulai sayup. Ia tak bisa menahan beban berat yang menggantung di kelopak matanya. Sedangkan bebarapa rumus kimia masih nampak jelas menunggu di depannya. Tinggal satu nomor lagi. Terakhir. Akhirnya selesai. Ia merentangkan tanganya dan menarik nafas lalu beranjak meninggalkan ruangan tamu dan menuju ke dapur. Brakk.  beban berat yang masih bergantung rapi di matanya Itu skejap jatuh pecah bersamaan dengan sebuah gelas kaca yang tak sengaja di senggolnya ketika sedang meraba-raba mencari tombol sakelar untuk menyalakan lampu dapur. "sialan. Untung saja mereka suda tidur" gumam Anton dalam hati sembari membersihkan pecahan gelas itu.



                                                                                    **


Pagi masih gelap. Tampak dari fentilasi kamar terlihar masih pekat. Kira-kira jam tiga subuh Anton telah sadar dari tidurnya. Kepalanya masih berat. Dengan gerakan lamban ia bangun lalu melipat selimutnya dan meletkannya dengan rapih d atas bantal bergambar spiderman. Anton segera beranjak dari kasur yang sedikit usang itu lalu merapikannya. Ia keluar dari kamar dan menuju ke setiap jendela untuk membukanya.  Angin pagi menggigili tubuh Anton yang membuat bibirnya komat-kamit tidak jelas. Ia menatap ke keluar dengan pandangan ke atas.  Kali ini bulan terlihat penuh cahanya bersinar terang sampai ke bumi. 


                                                                                    **


Anton segera menuju ke dapur dengan kondisi yang masih belum stabil. Anton bergeser ke meja dapur dengan kaki di seret. Tangan kanannya menyambar tumpukan bawang tapi lantas segera ia kumpulkan kembali ke dalam kotak. Kesadarannya belum penuh. Jadi Anton harus bekerja dalam stelan otomatis. Begitu tangannya menyentuh air barulah alaram dalam kepalanya menyentak dan menarik kembali kesadaranya. Tangan Anton meraih korek api lalu menyulut ke sumbuh kompor untuk segera menanak nasi alias aron. Anton memilih untuk segera menyapuh rumah bagian dalam, mulai dari ruang tamu bagian depan, ruang tengah, kamar tamu hingga di kamar lantai dua. Sesekali ia tidak lupa untuk mengepelnya. Kaki Anton cukup letih setelah menapaki anak tangga yang ke sekian menuju ke lantai atas. Seketika ada suara dari dalam dapur denga aroma yang cukup menggelisahkan, membuat langkahnya  terhenti sejenak lalu ia segera lari ke dapur dan mendapati nasi yang hampir gosong dalam kuali. Uap dari dalam kuali menyembur tepat di wajah Anton yenag membuat ia mandi keringat subuh-subuh.  "saya tidak pernah membayangkan bakal menemui kerepotan semacam ini" gumam Anton dengan nada sedikit kesal. Tapi sudalah. Inilah jalan hidup Anton yang harus ia tuntaskan selama masa sekolah di Maumere. Anton tidak pernah merasa putus asa. Meskipun harus bangun jam tiga subuh lalu masak dan sebagainya. Bahkan setiap pekerjaan yang dilakukan, ia  menjadikannya sebagai  sebuah proses pembelajaran dan bukan beban. 

Udara  masih dingin. cahaya matahari belum juga keluar dari sarangnya. Ayam tetangga suda turun dari tenggernya namun tuanya belum juga bangun dari tenggernya. Enak ya jadi mereka. Bisa tidur sepuasnya.

 Memang. Masih gelap. Kira-kira jam empat lewat. Biasanya jam begini ibu Anas suda bangun untuk membuat lauk. "Suda jam berapa ini?"  tanya Anton dalam hati dengan kening sedikit berkerut. Anton melihat sebuah jam bergantung diam di dinding tepat dekat pintu kamarnya. jarum merah itu kelihatan bergerak lebih lambat hari ini. "Andai saja ada opsi lompat jam, saya akan lebih memilih tersesat di dimensi lain dan kembali tanpa sadar bahwa waktu sudah berlalu. Supaya bangun seperti biasa di hari minggu bisa tidur sepuasnya. 




 



 




    LAPORAN HASIL KEGIATAN KATEKESE PEDNALAMAN KITAB SUCI PERTEMUAN KEDUA - OKTOBER 2025 Dikerjakan Oleh: Paulus Leo Lego Hurit (237...