Jumat, 12 April 2024

Arayan, si bocah pecinta sunyi

**

 Namanya Arayan (bukan nama asli), anak kecil lelaki berparas tampan dan lugu. Sejak kecil ia sudah mulai belajar hidup disiplin di tengah lingkungan yang penuh dengan pergumulan batin dan otak para penghuninya. Sepertinya Arayan sudah terbiasa dengan situasi demikian, yang rutinitas setiap harinya hanya berdoa di setiap subuh, mengikuti perayaan kurban Tuhan di altar perjamuan, sarapan pagi bersama tepat waktu, belajar, bekerja, olahraga (bermain futsal, voli, basket, badminton), kemudian berdoa lagi lalu belajar dan tidur.  

Anak kecil mana sih yang mampu beradaptasi dengan lingkungan yang penuh dengan aturan yang menjenuhkan ini? jarang ya? Tetapi sudahlah, mungkin ia belum mengerti sepenuhnya, mungkin ia merasa nyaman dengan situasi seperti itu dan mungkin juga ia hanya sekedar suka-suka saja. Tetapi rasanya itu sangat baik. Hidup dalam lingkungan yang tertib sejak dini, memberikan pengalaman positif untuk kehidupan di masa mendatang, di mana kita hanya perlu tenang. Tenang menjadikan kita dewasa dalam berpikir dan bertindak (termasuk mengambil resiko). 

**

Arayan baru berumur 9 tahun, kelihatannya belum cukup umur untuk bisa hidup dalam biara. Apalagi harus mengikuti semua aturan seminari. Namun tak di sangka, sejak ia masih berumur 1 tahun, ia sudah di asuh oleh seorang pastor di sebuah paroki. jadi wajar saja jika hingga sekarang pun Arayan masih berharap akan terus berlibur dan menikmati kehidupan seorang seminarian, yakni di biara (rumah formasi para calon imam).

**

Setiap liburan, Arayan selalu memilih untuk berlibur di biara Barnabite yang terletak di jalan wairklau, tepatnya di sebelah barat RS TC. HILERS Maumere. Ketika di tanya apa alasannya ia suka berlibur di Biara? Ia hanya menjawab, “karena Frater-Frater mereka sangat baik.” Arayan memiliki kepribadian yang sangat beda dengan anak-anak lelaki lain yang sebaya dengannya. Sikap ini sudah ditunjukan Arayan ketika bermain bola bersama dengan anak-anak tetangga. Arayan selalu bersikap menghormati dan mengalah. Tulangnya saja yang kecil, tetapi pembawaan dirinya seperti orang yang dewasa. Ia sangat sopan, tenang dan tidak menjengkelkan. Hal ini membuktikan bahwa, dewasa bukan tentang usia tetapi cara berpikir. Bagi Arayan, usia hanyalah angka yang menjadi bukti bahwa kita sudah menua, tetapi menjadi dewasa adalah tentang jiwa yang semakin mematang seiring besarnya otot-otot tubuh kita.

Orangtua Arayan tidak pernah merasa keberatan ketika Arayan memili berlibur bersama para Frater di Barnabite. Mungkin karena sedari kecil, Arayan sudah diasuh oleh seorang pastor sehingga orangtuanya tidak merasa takut ketika Arayan berlibur jauh dengan mereka.

**

Arayan sudah mulai berjudul tentang hidupnya di kemudian hari, yakni menjadi seorang misionaris Yesus. Tetapi rasanya masih sangat lama jika ia sudah mulai menulis satu judul harapannya dalam benaknya. Karena ia masih sangat kecil. Pikiran manusia akan selalu berubah seiring berjalannya waktu dalam penemuan kehidupan-kehidupan yang akan datang. Manusia selalu berjudul buram di setiap subuh, seperti embun pagi mennyelimuti dedaunan, dan awan kabut yang membungkus rapi mentari pagi. Sama halnya seperti Arayan, yang ketika ditanya, “Arayan, kalau sudah selesai sekolah SMA, nanti mau sekolah jadi Apa? Ia menjawab “mau jadi imam”. Mulut imutnya itu sangat luguh ketika ia berjudul. “kalau mau jadi imam nanti Arayan pilih masuk biara mana? Ia menjawab, “Barnabite.” Lihat, ia bukan hanya skedar berjudul, namun sekaligus mengikat perjanjian dengan ordo Barnabite. “sah?” ia menjawab “ok sah” lalu berjabatan tangan dengan seorang Frater sambil tertawa lepas. Arayan sangat menggemaskan. Para frater sangat senang ketika ia datang. Ia mengikuti semua jadwal formasi para Frater, sperti bangun pagi jam 04:30, lalu mandi, mengikuti ibadat, merayakan kurban Kristus, dan belajar. Arayan sangat cepat beradaptasi.

Di Biara, Arayan sangat disukai semua frater karena ia anak yang peka terhadap seluruh kegiatan para frater, salah satunya adalah ia tidak ribut. Ketika jadwal belajar, Arayan juga menyibukan dirinya dengan menggambar dan terkadang membaca buku bahasa asing meskipun ia tidak paham. Arayan memiliki satu teman yang sangat diakrabinya. Anto namanya. Anto (bukan nama asli) adalah seorang frater yang baru menempuh tahap formasi Aspirant tahun kedua dan sedang meramu studi Filsafat semester 2 di IFTK Ledalero. Mereka berdua layaknya kakak dan adik kandung. Setiap malam Arayan lebih memilih tidur di tempatnya Fr. Anto. Satu hal yang membuat Arayan senang adalah sebelum tidur Fr. Anto selalu berdongeng dan terkadang mengajarkan bahasa inggris kepadanya. Hal ini yang membuat Arayan betah dan suka berliburan di Biara.

**

 

 

 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

    LAPORAN HASIL KEGIATAN KATEKESE PEDNALAMAN KITAB SUCI PERTEMUAN KEDUA - OKTOBER 2025 Dikerjakan Oleh: Paulus Leo Lego Hurit (237...