Mimpi
buruk
**
Mimpi
terburuk seorang anak lelaki adalah menerima kenyataan bahwa pada akhirnya ia
harus bangun pagi dan membuat makanan sendiri dan menikmati kopi sendiri sambil
memandang dapur dan tungku ibu yang tak lagi hangat dan segelas kopi ayah yang
tak lagi bercerita apa adanya tentang pahit dan manisnya kehidupan.
Di
suatu soreh yang sepih, ketika udara dingin begitu apik menggigili sekujur
tubuh, ada seorang lekaki sedang duduk merekam senja dengan tampilah wajah sedikit
layu dan resah. Ia membayangi kehidupan di hari esok, meskipun ia tahu bahwa
kehidupan hari esok mempunyai kesusahannya sendiri, namun ada agenda lain yang
harus dipersiapkan dan tentunya lelaki itu tahu bahwa di sana ia akan menghadapi kesusahan-kesusahan yang lain.
Lelaki itu terus membayanginya. Berjuta-juta kesusahan yang terlintas dalam isi kepala lelaki itu. Sembari menikmati sang raja barat mempertontonkan keindahannya yang sedikit lagi selesai ditelan waktu, tampak wajah lelaki itu semakin murung dan senduh. Air di bak matanya seakan penuh. Lelaki itu menggigit bibirnya dan melihat ke langit sambil menghembuskan nafas yang terasa sesak di dada, lalu menumpahkan sedikit cairan dari mata lebam itu.
Ia teringat akan bapa dan emaknya. Sosok wajah yang kian hari kian memudar, keriput dengan rambut yang telah didominasi oleh si putih. Sedangkan lelaki senja itu baru memulai kuliah semester 3. Tentunya ia masih membutuhkan 5 semester lagi atau 2 setengah tahu untuk menuntaskan perjalanan akademiknya.
Banyak pertanyaan yang mengalir dalam isi kepala pemuda itu, salah satu pertanyaan yang menjadi titik dilemanya pemuda itu adalah, akankah bapa dan emak masih bisa menikmati kesuksesannya di masa senja mereka? pertanyaan itu menjadi perjalanan paling jauh yang harus ditempuh si lelaki senduh itu.
Setelah mengalami pergumulan yang amat panjang di rumah sunyi itu, tibalah saatnya untuk melepas penat sekaligus membebaskan isi kepala yang dipenuhi bayang-bayang rasa akan risau dengan berlibur di kampung halaman. Barang kali juga untuk meregangkan otot-otot kaki yang keram ketika berdoa untuk Tuhan. Ah benarkah berdoa untuk Tuhan? Bukankah kita berdoa karena takut formator? Ah, entahlah, yang tentunya setiap insan berdoa karena membutuhkan Tuhan dalam setiap hembusan nafas. Yang paling penting adalah pulang.
Kesempatan untuk pemuda bermata lebam bisa berkumpul dengan keluarga, mengahabiskan sisa-sisa senja bersama bapa dan emak, mengunjungi tetangga dan pergi memancing ikan di laut.
**
Setelah merayakan Kurban Kristus di meja perjamuan, semuanya berajak ke ruang makan. Lelaki itu masih memilih masuk kembali ke kamar. Sekejap lelaki itu keluar dan menuju ke ruang perjamuan pagi. Ia mendapati ruangan itu sudah ramai oleh teman-teman yang baru saja menunggunya untuk berdoa bersama sebelum makan. Udara pagi membisik pelan ke ruang yang sedikit temaram, suara sendok beradu piring terdengar di sela-sela percakapam dan tawa teman-teman tentang cerita hari kemarin saat berpesta di tempat pelayanan. Pagi itu semua terlihat sedang berusaha mengakrabi keadaan yang sedikit amburaduk dengan posisi kesadaran yang masih belum stabil akibat terlalu banyak mengkonsumsi alkohol.
Setelah sarapan pagi, pemimpin mengumumkan bahwa hari ini sudah bisa pulang berlibur.
"Hari ini yang mau pulang silakan! yang belum, atau masih menunggu tiket penerbangan, bisa pulang di hari rabu nanti".
"Huuuuuuu, horreeee, yesss akhirnya pulang. huuuu". Suara teriakan sekejap memcah keheningan pagi itu.
"jadi, siapa yang pulang hari ini?" "saya, saya, saya.........."....satu, dua, tiga, empat, lima. oke hari ini ada lima orang yang pulang. jadi sisah yang belum pulang hari ini bisa siap-siap dan boleh pulang di hari rabu nanti....."oke terima kasih" tandas semuanya.
Tidak peduli, semua orang berusaha melupakan sejenak beban yang ada, sekarang yang ada dalam isi kepala hanyala "pulang".
**
Setelah melalui perjalanan yang sedikit jauh dengan waktu tempuh empat sampai lima jam lebih, akhirnya lelaki senduh itu tiba di kampung halamannya yang terletak di bagian barat paling ujung. Turubean, nama kampung yang menjadi titik rindu kepulangan itu. Wajah senduh itu seketika luntur ketika tubuhnya yang lelah disambut dalam pelukan emak. Emak juga rindu pada anaknya hingga pelukan itu......
MASIH DALAM PROSES
BELUM SELESAI..................................
**
Kau
akan segera mengakui bahwa kehidupan memang seperti itu. Suatu waktu hidup akan
membawamu pada suatu kenyataan yang benar-benar sunyi dan sepih lalu membuatmu
merasa ingin berteriak sekencang-kencangnya bahkan sampai meraung-meraung dalam
kolom bagaikan anak anjing yang ditinggal pergi oleh induknya sewaktu matanya
belum bisa melihat dunianya. Dan teriakanmu tak lebih dari sekedar ungkapan
rindu yang tak tersampaikan. Dan orang lain akan lebih memilih mengabaikan
teriakan itu karena mereka juga sedang berteriak tentang apa yang sedang
diperjuangkan.