Rabu, 22 Mei 2024

Lelaki di depan Teras Perpustakaan


Di depan teras perpustakaan

Seorang lelaki lagi duduk merekam pagi

Matanya menatap kesunyian yang rapuh

Bibirnya terlihat merapal nada-nada abstrak

Dalam huruf-huruf mati yang bertingkah

hurut-huruf mati itu menjadi kumpulan diksi-diksi yang sunyi

Sesunyi hatinya yang kala menjelma pagi

Kicauan burung pun ikut meratapi kesunyian itu

 

Di depan teras perpustakaan

Lelaki itu sedang merayu waktu

Ia sedang memangku lamunan di atas kursi kayu lapuk   bertubuh namun tak berjantung

Tubuh kursi itu hidup dalam hembusan nafas penyair

Lelaki itupun mulai sadar

kelapukan kursi adalah kefanaan diri sang penyair

Dan diksi-diksi sunyi adalah syair keabadian

Lelaki itu terlihat seperti bajingan kesepian

 

Di depan teras perpustakaan

Lelaki itu sedang memanjakan penanya

Yang di dalam penanya itu terlintas berjuta-juta lamunan yang tak bisa diungkapkan secara lisan

Ia hanya bisa memahatnya di tembok-tembok lusuh bertajuk “Sunyi”

Sambil ia memandang burung-burung yang  mengepakan sayapnya

Berusaha menghibur hati lelaki yang sepih

 

Pada mentari yang kian sempurna memancarkan cahayanya

Lelaki itu mulai bercerita apa adanya pada kesunyian

Tentang petualangan hati

Yang merantai di atas kursi lapuk itu

Ia mulai bercerita apa adanya pada pagi

Dalam kata-kata

Lelaki itu tak mau hatinya terbenam dan padam

 

 


Rabu, 24 April 2024

CERPEN: Es-ku Tumpah "gugupkah?"

                                            sumber gambar: lifestyle.okezone.com
 


Oleh: Paul

Es-ku Tumpah

"gugupkah?"

**

Tidak

tidak 

itu kesalahan teknis 

terjadi di luar kendali

mungkin karena kurang hati-hati

atau mungkin juga karena matamu telah mengikat perhatianku

sehingga gelas es yang ada di samping tanganku tidak lagi kulihat. "Maaf sayang".

**

Aku masih ingat betul kisah itu. "Di kedai kecil itu kan sayang? kau ingat itu?'. 

Setelah kita keluar dari Gramedia, engkau menyuruh agar kita langsung pulang. Namun, aku mencoba bertahan sedikit lebih lama denganmu, dengan memilih untuk mengajakmu makan siang. Engkau mengangguk-mengangguk tak bersuara. Namun aku yakin, anggukan itu bertanda bahwa engkau juga mau. "Kita makan dulu e, suh lapar ni. Jam berapa sekarang?" engkau menjawab "jam 12 lewat". "oke kalau begitu kita cari makan dulu.” Tandasku.

Matahari mulai menyempurnakan senyumnya dan mulai menguasai siang menghalau pekatnya awan yang sedikit lagi mau hujan. Bayangan tubuh kita terlihat semaki lebih kecil, dan aku melihat keningmu sudah mulai mengalir keringat. Maka segera ku ajak engkau makan, dan engkau membawaku pada sebuah kedai kecil milik seorang ibu (janda) yang ditinggal suaminya setahun yang lalu. Kedai kecil itu menjadi tumpuan hidupnya untuk menghidupi menafkai anak-anaknya.  Katanya, engkau sering mengunjungi kedai itu ketika pulang kuliah.

**

Hari sudah siang, seekor kupu-kupu mulai melebarkan sayapnya dan terbang hinggap pada kuncup mawar yang kian layu dan sendu. Mawar itu seakan-akan hanya berserah pasrah, kupu-kupu itu datang tidak tepat pada waktunya. Namun kupikir senyummu di kala siang itu tidak seredup mawar, sehingga hatikupun tetap melebar dan ingin sedikit lebih lama bersamamu di kedai itu. Ibu pemiliki kedai itu bertanya, “mau minum apa?” engkau berkata “sebentar dulu mama, duduk sedikit dulu!”

Kedai itu sangat ramai, banyak pengunjung yang datang, ada yang hanya singgah berteduh, dan ada juga yang singgah untuk mengisi perut. Engkau bertanya kepadaku “mau minum apa?” “minum apa saja!” jawabku. Lalu engkau berdiri dan tanganmu meraih dua saset bubuk es berasa lemon, dan memberikannya ke ibu itu untuk membuatnya. Kita lalu melanjutkan bercerita. Tiba-tiba dua gelas es mendarat tepat di depan mata. Lalu engkau menyodorkan satu gelas es untukku dan juga untukmu. Kita menikmatinya sambil asyik bercerita. Melepas senyum dalam rindu yang telah kita sepakati untuk bertemu. Tidak peduli bunyi musik yang merisak begitu lama di sekitar kedai itu.

**

Engaku menebarkan senyum yang memukau. Engkau tak membiarkan musik yang merundung suasana itu menenggelamkan rasa kita, rasa rindu yang sudah kita pupuk. Seekor semut merah di sudut gelas itu ikut tersenyum, mungkin ia juga mendengar perbincangan kita hingga lupa menenggelamkan tubuh mungilnya ke dalam gelas berisi lemon manis. Hingga akhirnya es itu tumpah meninggalkan gelas yang kaku di atas meja itu.

Es itu akhirnya tumpah dengan sia-sia. Padahal aku baru sekali meneguknya. Setengahpun belum. Entah bagaimana tiba-tiba tanganku menyambar gelas es itu. Rasa kagetku sedikit lebih lambat dari lincahnya gelas yang berguling dan menumpahkan es tepat di atas meja. Semutpun ikut terhanyut bersama tumpahan es itu, seakan-akan meminta pertolongan, tetapi apalah daya aku hanya memusatkan perhatian pada gelas, takut jangan sampai jatuh ke lantai dan pecah. Tetapi tidak apa-apa, biarkan dia tenggelam, setidaknya ia sedikit merasakan es itu. Akupun langsung berdiri untuk meraih selembar tisu untuk membersihkan meja itu. Wajahku sedikit memerah. Aku jadi malu dan mengatakan, “maaf (sambil tersenyum malu)”. Engkau hanya tersenyum kecil dan mengatakan “hmmm rese. Hati-hati ka!”. Ibu pemilik kedai itu mengatakan, “tidak apa-apa, sudah sering terjadi seperti ini. Biarkan saja. Nanti ibu yang membersihkannya.” Namun, aku tidak enakan, sehingga aku memilih untuk membersihkannya hingga tuntas. Kira-kira belasan lembar tisu yang kuhabiskan untuk melap meja itu.

 

 

 

Selasa, 23 April 2024

KEJAR

 Kejar....

inikah yang dinamakan cinta?

inikah pengorbanan?

kejar....

untuk apa?

Kita seringkali mengucapkan afirmasi ini

pedulikah kau dengan cinta?

pedulihkah engkau dengan dia?

tentang dia kau selalu menatap fotonya 

sedikit menebarkan senyuman

entah sedih atau bahagia

tapi kadang membuat kau bergairah

APA JUDULNYA? "Pertemuan?"


 Berdua dalam kebisuan

waktu

itu bisu

tak bersuara

tak bermata

tak jua mendengar

apalagi merisak

namun ia punya memori

mampu merekam semuanya


sedangkan kenangan

ia hanya menunggu

apakah kita akan mengabadikannya

atau membiarkannya mengalir begitu saja


di sini

hanya ada aku dan kamu

kita asyik bercerita

merapah dari mata ke mata

hati ke hati

matamu mendera hatiku

hatiku kau ikat dengan cinta

hingga pada lembayung asmara yang aku tak tahu apa judulnya


terima kasih untuk cintamu

di pertemuan itu

EKONOMIS CINTA

 Jika kamu cinta

cintailah dengan sewajarnya

jika kamu sayang

sayangilah dengan semampunya


Jangan memaksakan hatimu

untuk berkorban secara penuh

Cinta memang membutuhkan pengorbanan

namun, jika kita berkorban karena cinta dengan tanpa batas

maka, jangan menyesal

apabila pengorbananmu sendiri yang akan melukai hati dan perasaanmu


Batasi-------------------------------------------------------------------------------


Namun jangan pakai ego dan nafsu

Ego hanya akan membunuh hatimu untuk mencinta

Nafsu hanya menmbulkan emosi cinta yang tak teratur

hatimu boleh jujur-sejujurnya

tetapi jangan lupa libatkan juga otakmu

agar cinta yang tumbuh dalam perasaan yang besar

tidak menjatuhkan hatimu dalam cinta yang kecil

yang engkau terima dari mereka yang mencintaimu namun tak utuh

BERAKHIR CERITA DALAM PELUKAN RINAI HUJAN

 Begitu apik rinai hujan melumat tanah

hingga wangih tubuhnya meliuk-liuk sempurna

aromanya masih mengalir jelas di tapak-tapak kaki


Di ujung bulan April ini

wangi tubuhmu masih meliuk sempurnah 

matamu masih sangat indah

nampak jelas dalam isi kepala

 aroma tubuhmu masih membau

wanginya masih melekat utuh

ketika tubuhmu dicumbuh rinai kenangan


Di akhir pekan ini ada kenangan yang memburuh

jelas menancap dalam bola matamu

engkau menenun rindu

dan aku menikmati wangi rndumu

Sabtu, 20 April 2024

Untukmu, Puanku

 




Untukmu, Puanku

Selaksa rindu yang merapah dalam kalbu

Selaksa harapan yang dilangitkan di setiap subuh

Telah ku sematkan dalam bola matamu yang berkilau

Dikalah mataku dan matamu berpadu rasa dalam temu pada ceruk rak buku itu

 

Ruang yang sedikit temaram karena cahaya bola lampu dihalangi barisan buku-buku

 nampak terang oleh matamu, senyumanmu, dan lepas rindu kita  yang memegang teguh kendali suasana itu

Kita mengendalikan semuanya sayang

Meskipun ceruk rak buku itu bukan milik kita

Tetapi kita punya cinta yang begitu apik menenun kisah

 

Kita tak peduli rinai hujan yang merisak di luar sana

Bauh tanah yang masih basah

Engkau membawaku mengelilingi jejak cinta yang telah kau sematkan dalam matamu

Aku tenggelam hingga pada lembayung.

Hatiku kau derah dengan senyummu, akupun terjatuh dalam dekapan manja.

                                                                                                                                                                                                                                               Barnabite, 19 April 2023

Paul

 

 

 

 

 

    LAPORAN HASIL KEGIATAN KATEKESE PEDNALAMAN KITAB SUCI PERTEMUAN KEDUA - OKTOBER 2025 Dikerjakan Oleh: Paulus Leo Lego Hurit (237...