Di depan teras
perpustakaan
Seorang
lelaki lagi duduk merekam pagi
Matanya
menatap kesunyian yang rapuh
Bibirnya
terlihat merapal nada-nada abstrak
Dalam
huruf-huruf mati yang bertingkah
hurut-huruf
mati itu menjadi kumpulan diksi-diksi yang sunyi
Sesunyi
hatinya yang kala menjelma pagi
Kicauan
burung pun ikut meratapi kesunyian itu
Di
depan teras perpustakaan
Lelaki
itu sedang merayu waktu
Ia
sedang memangku lamunan di atas kursi kayu lapuk bertubuh namun tak berjantung
Tubuh
kursi itu hidup dalam hembusan nafas penyair
Lelaki
itupun mulai sadar
kelapukan
kursi adalah kefanaan diri sang penyair
Dan
diksi-diksi sunyi adalah syair keabadian
Lelaki
itu terlihat seperti bajingan kesepian
Di
depan teras perpustakaan
Lelaki
itu sedang memanjakan penanya
Yang
di dalam penanya itu terlintas berjuta-juta lamunan yang tak bisa diungkapkan
secara lisan
Ia
hanya bisa memahatnya di tembok-tembok lusuh bertajuk “Sunyi”
Sambil
ia memandang burung-burung yang mengepakan sayapnya
Berusaha
menghibur hati lelaki yang sepih
Pada
mentari yang kian sempurna memancarkan cahayanya
Lelaki
itu mulai bercerita apa adanya pada kesunyian
Tentang
petualangan hati
Yang
merantai di atas kursi lapuk itu
Ia
mulai bercerita apa adanya pada pagi
Dalam
kata-kata
Lelaki
itu tak mau hatinya terbenam dan padam
Tidak ada komentar:
Posting Komentar