Rabu, 22 Mei 2024

Lelaki di depan Teras Perpustakaan


Di depan teras perpustakaan

Seorang lelaki lagi duduk merekam pagi

Matanya menatap kesunyian yang rapuh

Bibirnya terlihat merapal nada-nada abstrak

Dalam huruf-huruf mati yang bertingkah

hurut-huruf mati itu menjadi kumpulan diksi-diksi yang sunyi

Sesunyi hatinya yang kala menjelma pagi

Kicauan burung pun ikut meratapi kesunyian itu

 

Di depan teras perpustakaan

Lelaki itu sedang merayu waktu

Ia sedang memangku lamunan di atas kursi kayu lapuk   bertubuh namun tak berjantung

Tubuh kursi itu hidup dalam hembusan nafas penyair

Lelaki itupun mulai sadar

kelapukan kursi adalah kefanaan diri sang penyair

Dan diksi-diksi sunyi adalah syair keabadian

Lelaki itu terlihat seperti bajingan kesepian

 

Di depan teras perpustakaan

Lelaki itu sedang memanjakan penanya

Yang di dalam penanya itu terlintas berjuta-juta lamunan yang tak bisa diungkapkan secara lisan

Ia hanya bisa memahatnya di tembok-tembok lusuh bertajuk “Sunyi”

Sambil ia memandang burung-burung yang  mengepakan sayapnya

Berusaha menghibur hati lelaki yang sepih

 

Pada mentari yang kian sempurna memancarkan cahayanya

Lelaki itu mulai bercerita apa adanya pada kesunyian

Tentang petualangan hati

Yang merantai di atas kursi lapuk itu

Ia mulai bercerita apa adanya pada pagi

Dalam kata-kata

Lelaki itu tak mau hatinya terbenam dan padam

 

 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

    LAPORAN HASIL KEGIATAN KATEKESE PEDNALAMAN KITAB SUCI PERTEMUAN KEDUA - OKTOBER 2025 Dikerjakan Oleh: Paulus Leo Lego Hurit (237...