Oleh: Paul
Es-ku Tumpah
"gugupkah?"
**
Tidak
tidak
itu
kesalahan teknis
terjadi
di luar kendali
mungkin
karena kurang hati-hati
atau
mungkin juga karena matamu telah mengikat perhatianku
sehingga
gelas es yang ada di samping tanganku tidak lagi kulihat. "Maaf
sayang".
**
Aku
masih ingat betul kisah itu. "Di kedai kecil itu kan sayang? kau ingat
itu?'.
Setelah kita keluar dari Gramedia, engkau menyuruh agar
kita langsung pulang. Namun, aku mencoba bertahan sedikit lebih lama denganmu, dengan
memilih untuk mengajakmu makan siang. Engkau mengangguk-mengangguk tak
bersuara. Namun aku yakin, anggukan itu bertanda bahwa engkau juga mau.
"Kita makan dulu e, suh lapar ni. Jam berapa sekarang?" engkau
menjawab "jam 12 lewat". "oke kalau begitu kita cari makan dulu.”
Tandasku.
Matahari mulai menyempurnakan senyumnya dan mulai menguasai
siang menghalau pekatnya awan yang sedikit lagi mau hujan. Bayangan tubuh kita
terlihat semaki lebih kecil, dan aku melihat keningmu sudah mulai mengalir
keringat. Maka segera ku ajak engkau makan, dan engkau membawaku pada sebuah
kedai kecil milik seorang ibu (janda) yang ditinggal suaminya setahun yang
lalu. Kedai kecil itu menjadi tumpuan hidupnya untuk menghidupi menafkai
anak-anaknya. Katanya, engkau sering
mengunjungi kedai itu ketika pulang kuliah.
**
Hari sudah siang, seekor kupu-kupu mulai melebarkan
sayapnya dan terbang hinggap pada kuncup mawar yang kian layu dan sendu. Mawar
itu seakan-akan hanya berserah pasrah, kupu-kupu itu datang tidak tepat pada
waktunya. Namun kupikir senyummu di kala siang itu tidak seredup mawar,
sehingga hatikupun tetap melebar dan ingin sedikit lebih lama bersamamu di
kedai itu. Ibu pemiliki kedai itu bertanya, “mau minum apa?” engkau berkata
“sebentar dulu mama, duduk sedikit dulu!”
Kedai itu sangat ramai, banyak pengunjung yang datang, ada
yang hanya singgah berteduh, dan ada juga yang singgah untuk mengisi perut.
Engkau bertanya kepadaku “mau minum apa?” “minum apa saja!” jawabku. Lalu
engkau berdiri dan tanganmu meraih dua saset bubuk es berasa lemon, dan
memberikannya ke ibu itu untuk membuatnya. Kita lalu melanjutkan bercerita.
Tiba-tiba dua gelas es mendarat tepat di depan mata. Lalu engkau menyodorkan
satu gelas es untukku dan juga untukmu. Kita menikmatinya sambil asyik
bercerita. Melepas senyum dalam rindu yang telah kita sepakati untuk bertemu.
Tidak peduli bunyi musik yang merisak begitu lama di sekitar kedai itu.
**
Engaku menebarkan senyum yang memukau. Engkau tak
membiarkan musik yang merundung suasana itu menenggelamkan rasa kita, rasa
rindu yang sudah kita pupuk. Seekor semut merah di sudut gelas itu ikut
tersenyum, mungkin ia juga mendengar perbincangan kita hingga lupa
menenggelamkan tubuh mungilnya ke dalam gelas berisi lemon manis. Hingga
akhirnya es itu tumpah meninggalkan gelas yang kaku di atas meja itu.
Es itu akhirnya tumpah dengan sia-sia. Padahal aku baru sekali
meneguknya. Setengahpun belum. Entah bagaimana tiba-tiba tanganku menyambar
gelas es itu. Rasa kagetku sedikit lebih lambat dari lincahnya gelas yang
berguling dan menumpahkan es tepat di atas meja. Semutpun ikut terhanyut
bersama tumpahan es itu, seakan-akan meminta pertolongan, tetapi apalah daya
aku hanya memusatkan perhatian pada gelas, takut jangan sampai jatuh ke lantai
dan pecah. Tetapi tidak apa-apa, biarkan dia tenggelam, setidaknya ia sedikit
merasakan es itu. Akupun langsung berdiri untuk meraih selembar tisu untuk
membersihkan meja itu. Wajahku sedikit memerah. Aku jadi malu dan mengatakan,
“maaf (sambil tersenyum malu)”. Engkau hanya tersenyum kecil dan mengatakan
“hmmm rese. Hati-hati ka!”. Ibu pemilik kedai itu mengatakan, “tidak apa-apa,
sudah sering terjadi seperti ini. Biarkan saja. Nanti ibu yang membersihkannya.”
Namun, aku tidak enakan, sehingga aku memilih untuk membersihkannya hingga
tuntas. Kira-kira belasan lembar tisu yang kuhabiskan untuk melap meja itu.
