Aku memang baru mengenalnya tiga bulan dua minggu yang lalu. Tapi rasanya aku sudah mengenalnya seumur hidup. Dan kini aku sadar dia telah menjadi bagian yang terpenting dalam hidupku.
Aku masih ingat betul tempat pertama kali aku bertemu dengannya, melihat matanya dengan jelas, dengan senyum yang dibungkus masker hitam, kerudung putih bergaung lurus di atas kepala sampai pada belakang dada.
Di pantai itu, iya di pantai itu, pantai Kajuwulu salah satu pantai yang memiliki daya tarik yang khusus sehingga setiap hari dipenuhi manusia-manusia berisik. Di pantai itu aku bertemu dengannya, menatap dekat-dekat bola matanya, namun aku belum sempat menanyakan identitasnya. Aku tidak tahu siapa namanya, juga dari mana asalnya. Yang hanya kutahu darinya adalah matanya. Iya matanya. Matanya yang membuatku tak usai memimpikannya setiap malam ketika aku tidur.
Aku sempat bercanda dengannya. Namun ia hanya membalas dingin, dengan senyum yang ramah. Aku memberinya nilai tujuh koma lima.
***
Lalu, tanpa sengaja aku kembali bertemu dengannya di depan warung fotocopy, ketika aku pulang dari kampus kuliah. Waktu itu sekitar pukul sebelas lewat. Ia sedang bersama dengan adik-adiknya yang seatap dengannya. Mereka semua mengenakan baju putih. Pertama kali aku memegang tangannya, lalu aku mencium tangan itu dengan sebuah cincin yang melingkar manis di jarinya. Sepertinya ia sudah menikah. Entah, ia menikah dengan siapa aku tidak peduli. Aku hanya ingin mencintainya. "Aku mencintainya".
Rupanya ia sudah mengenali temanku. Aku hanya berdiri membisu di sampingnya, ia asyik bercerita dengan temanku. Aku melihat senyum yang menggantung manis di bibirnya, ia tertawa seakan sangat bahagia.
Iapun membalik badan dan menatap aku. Aku sedikit gerogi. Dengan dua buku yang kupegang di tangan kananku, aku membawanya ke dalam topik pembicaraan yang berbeda. Aku mengatakan "jika kau bisa melihat isi kepalaku penuh dengan ayat-ayat alkitab dan dogma-dogma agama. Hhhh" ia tertawa kecil. Ia memukul pundaku sambil tertawa. Aku memberinya nilai delapan. Ia memukulku seakan sudah mengenal aku lebih dari tiga atau empat kali. Dipertemuan yang kedua itu, aku juga belum sempat menanyakan nama dan asalnya. Yang aku tahu adalah mata, senyum, dan suara renyah ketika ia tertawa, dan pukulan yang kurasa sedikit pedas pada bahuku.
Ternyata waktu itu ia juga sedang menunggu mobil jemputan. Aku melihat sedikit kegelisahan yang menempel pada wajah natural itu. Wajah polos tak bermakeup. Namun, aku tak peduli dengan tampilan wajah itu. Aku hanya terdiam membisu di sampingnya. Hanya temanku yang sempat bertanya, "mau ke mana?" "Ke kampus" jawabnya singkat. "Jam berapa mulai kuliah?" "Jam dua belas".
Tiba-tiba ia mengangkat tangan kanannya dan melambai bertanda mobil sudah datang siap menjemput mereka. "Daaaa kami pulang dulu ya". "Oke" sambungku. Dengan senyum yang tulus, ia melambaikan tangannya sambil berjalan dengan mata penuh hati-hati melihat ruang untuk menerobos masuk ke pintu mobil.
Akupun berjalan pelan ke depan dengan tatapan lurus ke depan tanpa menoleh. Namun terdengar suara teriakan manis dari balik jalan, "daaaa" aku melihat ia melambaikan tanganya yang semakin menjauh. Aku memang tidak percaya yang namanya kebetulan. Tetapi kesempatan kedua aku bertemu dengannya adalah kebetulan yang penuh keberuntungan. Akupun mengetahui namanya dipertemua ketiga. Kami dipertemukan dalam ruang virtual di jalan chatingan pada malam hari sekitar jam sebelas malam hampir jam dua belas malam. Kali ini, Aku tidak bisa menatap matanya, menikmati senyumnya dan memasang bahuku untuk ditinjunya. Namun kami sering beradu kata hingga selisih paham yang membuat kami berdua sering bertengkar yang tak pasti masalahnya. Waktu itu aku baru pulang dari Gereja seusai perayaan malam paskah atau Sabtu suci. Karena sangat lelah, akupun memilih mebaringkan badan di tempat tidur. Aku sangat lelah, namun dalam kelelahan itu aku menyempatkan waktu utuk membuka ponsel dan mengucapkan selamat hari raya paskah untuk keluarga, sahabat, dan kenalanku yang berada di tempat yang jauh. Tangan kananku merabah-rabah di bawah bantal lalu menarik keluar ponsel itu dan menempelkan di teliga kanan "Alllo" iya....ohiya selamat pesta paskah juga buatmu dan keluarga. Semoga damai paskah menyertai kalian semua.....iya...Aminnn...oke baik, daaaa"
***
Aku beralih pandang ke beranda Facebook. Ketika sedang asyik-asyikan mengucap selamat hari raya Paskah ke teman-temanku, aku melihat ada satu bintang jatuh tepat di bola mataku.
Ternyata bintang keberuntunganku sedang bersinar terang di langit malam saat itu. Aku bertemu dengannya di beranda chatingan. Pertemuan ketiga kalinya. "Selamat malam" iya malam juga. Balasku. Belum sempat ia mengirim pesan keduanya, "ini dengan siapa?" "S*. ......, yang kemarin ketemu pas kalian pulang kuliah" ohhh S* apa kabar? "Baik" ohiya selamat pesta paskah ya S*. "Iya selamat juga" balasnya. Akupun menaikan nilai untuknya, dari delapan menjadi sembilang koma lima. Aku suka dengan cara bicaranya lewat chatingan. Seakan-akan sefrekuensi. Ketika aku mengirim pesan, aku sudah bisa menafsir sendiri nanti jawabannya akan seperti apa? Ternyata benar jawabannya tidak jauh-jauh dari isi kepalaku. Fiks, ini jodoh. Sekali lagi aku memang tidak percaya pada yang namanya kebetulan, tetapi kali ini betul-betul jodoh. Wanita musim dingin telah menyelimuti isi kepalaku. Aku jatuh hati padanya. Aku menghabiskan malam itu dengan senyum yang tak pernah habis. Tanpa sadar kami baru mulai pamit tidur pada jam dua subuh.
Benar, wanita kerudung putih bermasker hitam yang kutemui di pantai Kajuwulu dan di depan teras warung fotocopy lalu di beranda chatingan adalah orang yang sama, dan fiks ini bukan hanya kebetulan tapi ini takdir.
***
Hari demi hari aku selalu dibuat rindu olehnya meskipun rindu itu masih dalam tanda tanya apakah aku jatuh hati padanya yang membuat hatiku jadi merindu padanya? Ahh...sial..aku jatuh cinta pada orang yang tiang-tiang raganya sudah digantungi jubah putih bak kolam susu dan hatinya telah dicintai banyak orang.
"Hidup ini sungguh aneh juga tidak adil" Suatu kali hidup melambungkanmu setinggi langit dan suatu saat hidup juga mengehempaskanmu ke tanah yang paling rendah, dan yang hanya bisa kau lakukan adalah menerima hidup itu dan menjalankannya dengan rela. Mencintai seseorang yang hatinya telah dicintai oleh banyak orang adalah sama halnya mencintai dia yang tidak bisa dimiliki, meskipun dia sangat berarti yang kau butuhkan dalam hidupmu.
Namun, cinta membutahkan mataku. Aku jatuh hati padanya. Akupun berani mengungkapkan isi hatiku kepadanya. Awalnya aku takut jika nanti dia tidak mau menerima cintaku, bukan karena ia sudah mendapatkan banyak cinta dari orang-orang yang dicintainya, namun ia tidak mau mencintai orang yang juga mencintai banyak orang. Kami sama-sama memiliki porsi cinta yang setara. Sama-sama mencintai rumah sunyi, dan hati kami sama-sama dipecahkan seperti roti dan dibagikan untuk kebahagiaan banyak orang.
Bintang keberungan kembali menerangi malamku. Ia menerima cintaku. Ia juga mencintaiku seperti aku mencintainya. Kami sama-sama saling mencintai. Sesekali kami berjanji untuk hidup bersama. Menikah dan mempunyai anak, aku sudah membayangi kelak ia akan menjadi ibu dari anak-anak kami nanti. Aku mulai membayangi kelak ketika aku pulang kerja ia sudah menyiapkan pelukan yang hangat di malam hari dan menanak kasihnya untuk mengenyangkan perut aku dan anak-anakku. Namun apalah daya ia sudah menjadi ibu yang hanya menanak kasih dan melangitkan doa-doa di setiap subuh untuk perjalanan insan-insan Tuhan yang harus dikenyangkan dengan Kasih dan cinta. Ibu yang menjadi garam dan terang dunia. Ia adalah kenyataan yang berteriak di telingaku yang mengatakan bahwa aku tidak bisa memilikinya. Ia adalah gadis milik Tuhan.
***
"Apakah manusia bisa merubah kenyataan?" Bisa. Namun berat. Ada hal-hal berat yang bisa dirubah, tetapi itu menjadi salah satu ketidakmungkinan, karena ia lebih memilih mencintai banyak orang-Pesan Tuhannya yang harus ia rawat. Tuhan telah mendandaninya dengan mahkota suci dan mengenakan cincin pengikat antara ia dan Janji Cintanya kepada Tuhannya.
"Tuhan, maaf aku mencintainya".
Yang bisa kulakukan saat ini hanyalah keluar dari kehidupannya. Aku tidak bisa melupakannya aku hanya ingin keluar dan menghapus semua rasa yang pernah aku bangun dengannya, membakar atap yang pernah aku rakit bersamanya. Meskipun berat tetapi aku harus bisa melakukannya meskipun butuh waktu yang sangat lama.
Sekarang, saat ini saja...untuk beberapa detik ini...aku tidak peduli dengan statusnya seperti apa, aku tidak peduli cincin yang melingkar manis di jarinya, aku berusaha melupakan matanya yang menampung begitu banyak senyuman orang-orang yang membutuhkannya, dan melupakan suara teriakan di telingaku bahwa aku tidak bisa mendapatkan raganya...tanpa beban, tuntutan dan harapan...aku ingin mengaku pada dunia..
"Aku mencintainya".