Rabu, 04 September 2024

Takut

 Dear Puan  Pencipta Rindu

TAKUT

sumber gambar: pichwallpaper.com

 

Aku tidak takut jika kelak nanti;

Kita bertemu

Kita saling merapah

Dari mata-ke mata

Kamu dengan duniamu

Aku dengan duniaku

Lalu kamu tersipu malu

Aku hanya diam membisu

 

Kamu mencari cara dan cela

Berusaha tuk berhenti menatap mataku

Karena kamu sudah tahu bahwa

Duniamu dan duniaku tidak sama

Lalu tiba-tiba kamu minta tuk pamit dari dunia kita

 

Aku tidak takut jika kelak nanti;

Kita tak lagi berkabar

Tak lagi menyapa

Tak lagi mengukir cerita

Apalagi bercanda tawa lewat video call

Tak lagi menceritakan pernak-perniknya duniamu

Dan akhirnya kita saling melukai

Lalu berusaha untuk saling melupakan

Kenangan

Beribuh-ribuh pesan

 

Aku tidak takut jika kelak nanti;

Kita menguburkan semua kenangan yang ada


Aku hanya takut jika kelak nanti;

Aku berhenti mencintaimu

Memikirkanmu

Menyanyangimu


Hanya aku

Bukan kamu

Tetapi jika itu kamu

AKU TIDAK TAKUT

 

Sekian

Wairklau, 04 September 2024

Rabu, 28 Agustus 2024

 

Mimpi buruk

**

Mimpi terburuk seorang anak lelaki adalah menerima kenyataan bahwa pada akhirnya ia harus bangun pagi dan membuat makanan sendiri dan menikmati kopi sendiri sambil memandang dapur dan tungku ibu yang tak lagi hangat dan segelas kopi ayah yang tak lagi bercerita apa adanya tentang pahit dan manisnya kehidupan.

Di suatu soreh yang sepih, ketika udara dingin begitu apik menggigili sekujur tubuh, ada seorang lekaki sedang duduk merekam senja dengan tampilah wajah sedikit layu dan resah. Ia membayangi kehidupan di hari esok, meskipun ia tahu bahwa kehidupan hari esok mempunyai kesusahannya sendiri, namun ada agenda lain yang harus dipersiapkan dan tentunya lelaki itu tahu bahwa di sana ia akan menghadapi kesusahan-kesusahan yang lain.

Lelaki itu terus membayanginya. Berjuta-juta kesusahan yang terlintas dalam isi kepala lelaki itu. Sembari menikmati sang raja barat mempertontonkan keindahannya yang sedikit lagi selesai ditelan waktu, tampak wajah lelaki itu semakin murung dan senduh. Air di bak matanya seakan penuh. Lelaki itu menggigit bibirnya dan melihat ke langit sambil menghembuskan nafas yang terasa sesak di dada, lalu menumpahkan sedikit cairan dari mata lebam itu. 

Ia teringat akan bapa dan emaknya. Sosok wajah yang kian hari kian memudar, keriput dengan rambut yang telah didominasi oleh si putih. Sedangkan lelaki senja itu baru memulai kuliah semester 3. Tentunya ia masih membutuhkan 5 semester lagi atau 2 setengah tahu untuk menuntaskan perjalanan akademiknya. 

Banyak pertanyaan yang mengalir dalam isi kepala pemuda itu, salah satu pertanyaan yang menjadi titik dilemanya pemuda itu adalah, akankah bapa dan emak masih bisa menikmati kesuksesannya di masa senja mereka?  pertanyaan itu menjadi perjalanan paling jauh yang harus ditempuh  si lelaki senduh itu. 

Setelah mengalami pergumulan yang amat panjang di rumah sunyi itu, tibalah saatnya untuk melepas penat sekaligus membebaskan isi kepala yang dipenuhi bayang-bayang rasa akan risau dengan berlibur di kampung halaman. Barang kali juga untuk meregangkan otot-otot kaki yang keram ketika  berdoa untuk Tuhan. Ah benarkah berdoa untuk Tuhan? Bukankah kita berdoa karena takut formator? Ah, entahlah, yang tentunya setiap insan berdoa karena membutuhkan Tuhan dalam setiap hembusan nafas. Yang paling penting adalah pulang.

 Kesempatan untuk pemuda bermata lebam bisa berkumpul dengan keluarga, mengahabiskan sisa-sisa senja bersama bapa dan emak, mengunjungi tetangga dan pergi memancing ikan di laut.

                                                                                **

Setelah merayakan Kurban Kristus di meja perjamuan, semuanya berajak ke ruang makan. Lelaki itu masih memilih masuk kembali ke kamar. Sekejap lelaki itu keluar dan menuju ke ruang perjamuan pagi. Ia mendapati ruangan itu sudah ramai oleh teman-teman yang baru saja menunggunya untuk berdoa bersama sebelum makan. Udara pagi membisik pelan ke ruang yang sedikit temaram, suara sendok beradu piring terdengar di sela-sela percakapam dan tawa teman-teman tentang cerita hari kemarin saat berpesta di tempat pelayanan. Pagi itu semua terlihat sedang berusaha mengakrabi keadaan yang sedikit amburaduk dengan posisi kesadaran yang masih belum stabil akibat terlalu banyak mengkonsumsi alkohol.

Setelah sarapan pagi, pemimpin mengumumkan bahwa hari ini sudah bisa pulang berlibur. 

"Hari ini yang mau pulang silakan! yang belum, atau masih menunggu tiket penerbangan, bisa pulang di hari rabu nanti".

 "Huuuuuuu, horreeee, yesss akhirnya pulang. huuuu". Suara teriakan sekejap memcah keheningan pagi itu. 

"jadi, siapa yang pulang hari ini?" "saya, saya, saya.........."....satu, dua, tiga, empat, lima. oke hari ini ada lima orang yang pulang. jadi sisah yang belum pulang hari ini bisa siap-siap dan boleh pulang di hari rabu nanti....."oke terima kasih" tandas semuanya.

Tidak peduli, semua orang berusaha melupakan sejenak beban yang ada, sekarang yang ada dalam isi kepala hanyala "pulang". 

                                                                                 **

Setelah melalui perjalanan yang sedikit jauh dengan waktu tempuh empat sampai lima jam lebih, akhirnya lelaki senduh itu tiba di kampung halamannya yang terletak di bagian barat paling ujung. Turubean, nama kampung yang menjadi titik rindu kepulangan itu. Wajah senduh itu seketika luntur ketika tubuhnya yang lelah disambut dalam pelukan emak. Emak juga rindu pada anaknya hingga pelukan itu......

MASIH DALAM PROSES

BELUM SELESAI..................................




**

Kau akan segera mengakui bahwa kehidupan memang seperti itu. Suatu waktu hidup akan membawamu pada suatu kenyataan yang benar-benar sunyi dan sepih lalu membuatmu merasa ingin berteriak sekencang-kencangnya bahkan sampai meraung-meraung dalam kolom bagaikan anak anjing yang ditinggal pergi oleh induknya sewaktu matanya belum bisa melihat dunianya. Dan teriakanmu tak lebih dari sekedar ungkapan rindu yang tak tersampaikan. Dan orang lain akan lebih memilih mengabaikan teriakan itu karena mereka juga sedang berteriak tentang apa yang sedang diperjuangkan.

Senin, 15 Juli 2024

Nota: "Aku Mencintainya"


Sumber: Majalah perbincangan perempuan

 


***

 Mencintai seseorang yang tidak bisa dimiliki itu sama halnya mencintai seseorang yang tidak bisa dicintai. Bukan saudari sedarah, berdiri di pintu yang berbeda, namun terasa bernaung di bawah atap yang sama. Sama-sama mencintai rumah sunyi.


"Aku tak peduli, aku hanya ingin mengatakan bahwa aku mencintainya!"


***

Aku memang baru mengenalnya tiga bulan dua minggu yang lalu. Tapi rasanya aku sudah mengenalnya seumur hidup. Dan kini aku sadar dia telah menjadi bagian yang terpenting dalam hidupku. 


Aku masih ingat betul tempat pertama kali aku bertemu dengannya, melihat matanya dengan jelas, dengan senyum yang dibungkus masker hitam, kerudung putih bergaung lurus di atas kepala sampai pada belakang dada. 


Di pantai itu, iya di pantai itu, pantai Kajuwulu salah satu pantai yang memiliki daya tarik yang khusus sehingga setiap hari dipenuhi manusia-manusia berisik. Di pantai itu aku bertemu dengannya, menatap dekat-dekat bola matanya, namun aku belum sempat menanyakan identitasnya. Aku tidak tahu siapa namanya, juga dari mana asalnya. Yang hanya kutahu darinya adalah matanya. Iya matanya. Matanya yang membuatku tak usai memimpikannya setiap malam ketika aku tidur. 


Aku sempat bercanda dengannya. Namun ia hanya membalas dingin, dengan senyum yang ramah. Aku memberinya nilai tujuh koma lima. 


***

Lalu, tanpa sengaja aku kembali bertemu dengannya di depan warung fotocopy, ketika aku pulang dari kampus kuliah. Waktu itu sekitar pukul sebelas lewat. Ia sedang bersama dengan adik-adiknya yang seatap dengannya. Mereka semua mengenakan baju putih. Pertama kali aku memegang tangannya, lalu aku mencium tangan itu dengan sebuah cincin yang melingkar manis di jarinya. Sepertinya ia sudah menikah. Entah, ia menikah dengan siapa aku tidak peduli. Aku hanya ingin mencintainya. "Aku mencintainya".


Rupanya ia sudah mengenali temanku. Aku hanya berdiri membisu di sampingnya, ia asyik bercerita dengan temanku. Aku melihat senyum yang menggantung manis di bibirnya, ia tertawa seakan sangat bahagia. 


Iapun membalik badan dan menatap aku. Aku sedikit gerogi. Dengan dua buku yang kupegang di tangan kananku, aku membawanya ke dalam topik pembicaraan yang berbeda. Aku mengatakan "jika kau bisa melihat isi kepalaku penuh dengan ayat-ayat alkitab dan dogma-dogma agama. Hhhh" ia tertawa kecil. Ia memukul pundaku sambil tertawa. Aku memberinya nilai delapan. Ia memukulku seakan sudah mengenal aku lebih dari tiga atau empat kali. Dipertemuan yang kedua itu, aku juga belum sempat menanyakan nama dan asalnya. Yang aku tahu adalah mata, senyum, dan suara renyah ketika ia tertawa, dan pukulan yang kurasa sedikit pedas pada bahuku. 


Ternyata waktu itu ia juga sedang menunggu mobil jemputan. Aku melihat sedikit kegelisahan yang menempel pada wajah natural itu. Wajah polos tak bermakeup. Namun, aku tak peduli dengan tampilan wajah itu. Aku hanya terdiam membisu di sampingnya. Hanya temanku yang sempat bertanya, "mau ke mana?" "Ke kampus" jawabnya singkat. "Jam berapa mulai kuliah?" "Jam dua belas". 


Tiba-tiba ia mengangkat tangan kanannya dan melambai bertanda mobil sudah datang siap menjemput mereka. "Daaaa kami pulang dulu ya". "Oke" sambungku. Dengan senyum yang tulus, ia melambaikan tangannya sambil berjalan dengan mata penuh hati-hati melihat ruang untuk menerobos masuk ke pintu mobil. 


Akupun berjalan pelan ke depan dengan tatapan lurus ke depan tanpa menoleh. Namun terdengar suara teriakan manis dari balik jalan, "daaaa" aku melihat ia melambaikan tanganya yang semakin menjauh. Aku memang tidak percaya yang namanya kebetulan. Tetapi kesempatan kedua aku bertemu dengannya adalah kebetulan yang penuh keberuntungan. Akupun mengetahui namanya dipertemua ketiga. Kami dipertemukan dalam ruang virtual di jalan chatingan pada malam hari sekitar jam sebelas malam hampir jam dua belas malam. Kali ini, Aku tidak bisa menatap matanya, menikmati senyumnya dan memasang bahuku untuk ditinjunya. Namun kami sering beradu kata hingga selisih paham yang membuat kami berdua sering bertengkar yang tak pasti masalahnya. Waktu itu aku baru pulang dari Gereja seusai perayaan malam paskah atau Sabtu suci. Karena sangat lelah, akupun memilih mebaringkan badan di tempat tidur. Aku sangat lelah, namun dalam kelelahan itu aku menyempatkan waktu utuk membuka ponsel dan mengucapkan selamat hari raya paskah untuk keluarga, sahabat, dan kenalanku yang berada di tempat yang jauh. Tangan kananku merabah-rabah di bawah bantal lalu menarik keluar ponsel itu dan menempelkan di teliga kanan "Alllo" iya....ohiya selamat pesta paskah juga buatmu dan keluarga. Semoga damai paskah menyertai kalian semua.....iya...Aminnn...oke baik, daaaa"


***

Aku beralih pandang ke beranda Facebook. Ketika sedang asyik-asyikan mengucap selamat hari raya Paskah ke teman-temanku, aku melihat ada satu bintang jatuh tepat di bola mataku. 


Ternyata bintang keberuntunganku sedang bersinar terang di langit malam saat itu. Aku bertemu dengannya di beranda chatingan. Pertemuan ketiga kalinya. "Selamat malam" iya malam juga. Balasku. Belum sempat ia mengirim pesan keduanya, "ini dengan siapa?" "S*. ......, yang kemarin ketemu pas kalian pulang kuliah" ohhh S* apa kabar? "Baik" ohiya selamat pesta paskah ya S*. "Iya selamat juga" balasnya. Akupun menaikan nilai untuknya, dari delapan menjadi sembilang koma lima. Aku suka dengan cara bicaranya lewat chatingan. Seakan-akan sefrekuensi. Ketika aku mengirim pesan, aku sudah bisa menafsir sendiri nanti jawabannya akan seperti apa? Ternyata benar jawabannya tidak jauh-jauh dari isi kepalaku. Fiks, ini jodoh. Sekali lagi aku memang tidak percaya pada yang namanya kebetulan, tetapi kali ini betul-betul jodoh. Wanita musim dingin telah menyelimuti isi kepalaku. Aku jatuh hati padanya. Aku menghabiskan malam itu dengan senyum yang tak pernah habis. Tanpa sadar kami baru mulai pamit tidur pada jam dua subuh. 


Benar, wanita kerudung putih bermasker hitam yang kutemui di pantai Kajuwulu dan di depan teras warung fotocopy lalu di beranda chatingan  adalah orang yang sama, dan fiks ini bukan hanya kebetulan tapi ini takdir. 


***

Hari demi hari aku selalu dibuat rindu olehnya meskipun rindu itu masih dalam tanda tanya apakah aku jatuh hati padanya yang membuat hatiku jadi merindu padanya? Ahh...sial..aku jatuh cinta pada orang yang tiang-tiang raganya sudah digantungi jubah putih bak kolam susu dan hatinya telah dicintai banyak orang. 


"Hidup ini sungguh aneh juga tidak adil" Suatu kali hidup melambungkanmu setinggi langit dan suatu saat hidup juga mengehempaskanmu ke tanah yang paling rendah, dan yang hanya bisa kau lakukan adalah menerima hidup itu dan menjalankannya dengan rela. Mencintai seseorang yang hatinya telah dicintai oleh banyak orang adalah sama halnya mencintai dia yang tidak bisa dimiliki, meskipun dia sangat berarti yang kau butuhkan dalam hidupmu.


Namun, cinta membutahkan mataku. Aku jatuh hati padanya. Akupun berani mengungkapkan isi hatiku kepadanya. Awalnya aku takut jika nanti dia tidak mau menerima cintaku, bukan karena ia sudah mendapatkan banyak cinta dari orang-orang yang dicintainya, namun ia tidak mau mencintai orang yang juga mencintai banyak orang. Kami sama-sama memiliki porsi cinta yang setara. Sama-sama mencintai rumah sunyi, dan hati kami sama-sama dipecahkan seperti roti dan dibagikan untuk kebahagiaan banyak orang. 


Bintang keberungan kembali menerangi malamku. Ia menerima cintaku. Ia juga mencintaiku seperti aku mencintainya. Kami sama-sama saling mencintai. Sesekali kami berjanji untuk hidup bersama. Menikah dan mempunyai anak, aku sudah membayangi kelak ia akan menjadi ibu dari anak-anak kami nanti. Aku mulai membayangi kelak ketika aku pulang kerja ia sudah menyiapkan pelukan yang hangat di malam hari dan menanak kasihnya untuk mengenyangkan perut aku dan anak-anakku. Namun apalah daya ia sudah menjadi ibu yang hanya menanak kasih dan melangitkan doa-doa di setiap subuh untuk perjalanan insan-insan Tuhan yang harus dikenyangkan dengan Kasih dan cinta. Ibu yang menjadi garam dan terang dunia. Ia adalah kenyataan yang berteriak di telingaku yang mengatakan bahwa aku tidak bisa memilikinya. Ia adalah gadis milik Tuhan. 


***

"Apakah manusia bisa merubah kenyataan?" Bisa. Namun berat. Ada hal-hal berat yang bisa dirubah, tetapi itu menjadi salah satu ketidakmungkinan, karena ia lebih memilih mencintai banyak orang-Pesan Tuhannya yang harus ia rawat. Tuhan telah mendandaninya dengan mahkota suci dan mengenakan cincin pengikat antara ia dan Janji Cintanya kepada Tuhannya. 


"Tuhan, maaf aku mencintainya".


Yang bisa kulakukan saat ini hanyalah keluar dari kehidupannya. Aku tidak bisa melupakannya aku hanya ingin keluar dan menghapus semua rasa yang pernah aku bangun dengannya, membakar atap yang pernah aku rakit bersamanya. Meskipun berat tetapi aku harus bisa melakukannya meskipun butuh waktu yang sangat lama. 


Sekarang, saat ini saja...untuk beberapa detik ini...aku tidak peduli dengan statusnya seperti apa, aku tidak peduli cincin yang melingkar manis di jarinya, aku berusaha melupakan matanya yang menampung begitu banyak senyuman orang-orang yang membutuhkannya, dan melupakan suara teriakan di telingaku bahwa aku tidak bisa mendapatkan raganya...tanpa beban, tuntutan dan harapan...aku ingin mengaku pada dunia..

"Aku mencintainya".






Senin, 01 Juli 2024

Ia

 

Sumner gambar: Gurusi



Mari Kuperkenalkan

Ia puan rembulan atap sunyi

Ia datang membawa dama dalam asa akan rasa


Ia, puan penghuni rumah sunyi

Yang nyatanya banyak penghuni yang sama-sama memuja sepih

Kaum bertudung putih


Memangku doa-doa syahdu tak bertepi

Tubuh doa itu isinya jantung semua

Yang darahnya adalah darah tuhannya

Ia, puan lututnya tak keram-keram

Sujud menanak doa-doa yang jatuh dari lumbung nirwana

Memuja bayang-bayang tuhan yang amerta

tuhan yang diabadikan dalam ikatan sumpah setia di depan altar kurban pengantin pria, tuhannya.


Dari arunika hingga ke sandya

Tak henti-hentinya memuja

Ia penikmat setia pada Dia sang penguat rasa


Minggu, 30 Juni 2024

Nota Pertama di awal bulan

Sumner gambar: Pinterest

Kekasih

Bacalah suratku ini

Di tubuh surat ini kekasih

Terpahat kata rindu 

Di dada suratku ini kekasih

Rindu ini berdetak kencang


Di awal juli ini kusambut pagi dengan kopi

Kekasih

Kubiarkan tubuhku tenggelam ke dalam kopi ini kekasih

Pahit kurasa

Manis rindumu 

Menjadi harap akan rinduku padamu kekasih


Inilah suratku kekasih

Di awal bulan ini

Hanya ada satu pesan di dalam isi suratku ini kekasih

Selamlah ke dalam tubuh surat ini kekasih

Ada pahit dan manis rindu kita

Sekian


Jumat, 07 Juni 2024

Puan Tudung abu-abu

 

Sumber gambar: Pinterest 


Puan bertudung abu-abu

Dia yang kupanggil Obe, pencipta rindu

Adalah kekasih misteri

Mewarnai khayalan-khayalan buram tak bermata

******

Kusapa  dia pencipta rindu

Ia membawaku pada suatu dimensi ruang

Yang di dalamnya terpahat sebuah harap akan rasa

Yang masih samar-samar rasanya

******

Puan bertudung abu-abu

Kupahat namamu dan rindu pada sampul buku

Agar kelak ketika aku merindumu

Aku tidak perlu mengusik lagi

Mungkin hanya perlu mengagumimu dalam rindu yang diam

Rindu yang kulangitkan dalam doa di setiap subuh

******

Puan bertudung abu-abu

Kau adalah rindu yang rela

Menenggelamkanku dalam harap yang semu

Kaku

Bisu

******

Puan bertudung abu-abu

Ijinkan kutanam mawar dalam bola matamu yang lebam

Dan kuharap kembangnya mekar dengan rela

Hingga aku dapat menikmati wanginya 

******

Puan bertudung abu-abu

Kususun satu persatu rindu ini dalam huruf-huruf mati yang sesungguhnya tak bernilai

namun ini terlahir dari hati yang paling tulus

******

Puan bertudung abu-abu 

Bolehkah kumanjakan namamu (OBE) 

Dalam kertas usang ini

Aku mau kelak kamu mengerti

Kalau rasa ini tak akan ada arti

Bila rindu tidak diabadikan dalam puisi ini


Terima kasih untuk rindumu 


Rabu, 22 Mei 2024

Lelaki di depan Teras Perpustakaan


Di depan teras perpustakaan

Seorang lelaki lagi duduk merekam pagi

Matanya menatap kesunyian yang rapuh

Bibirnya terlihat merapal nada-nada abstrak

Dalam huruf-huruf mati yang bertingkah

hurut-huruf mati itu menjadi kumpulan diksi-diksi yang sunyi

Sesunyi hatinya yang kala menjelma pagi

Kicauan burung pun ikut meratapi kesunyian itu

 

Di depan teras perpustakaan

Lelaki itu sedang merayu waktu

Ia sedang memangku lamunan di atas kursi kayu lapuk   bertubuh namun tak berjantung

Tubuh kursi itu hidup dalam hembusan nafas penyair

Lelaki itupun mulai sadar

kelapukan kursi adalah kefanaan diri sang penyair

Dan diksi-diksi sunyi adalah syair keabadian

Lelaki itu terlihat seperti bajingan kesepian

 

Di depan teras perpustakaan

Lelaki itu sedang memanjakan penanya

Yang di dalam penanya itu terlintas berjuta-juta lamunan yang tak bisa diungkapkan secara lisan

Ia hanya bisa memahatnya di tembok-tembok lusuh bertajuk “Sunyi”

Sambil ia memandang burung-burung yang  mengepakan sayapnya

Berusaha menghibur hati lelaki yang sepih

 

Pada mentari yang kian sempurna memancarkan cahayanya

Lelaki itu mulai bercerita apa adanya pada kesunyian

Tentang petualangan hati

Yang merantai di atas kursi lapuk itu

Ia mulai bercerita apa adanya pada pagi

Dalam kata-kata

Lelaki itu tak mau hatinya terbenam dan padam

 

 


    LAPORAN HASIL KEGIATAN KATEKESE PEDNALAMAN KITAB SUCI PERTEMUAN KEDUA - OKTOBER 2025 Dikerjakan Oleh: Paulus Leo Lego Hurit (237...