**
Namanya Arayan (bukan nama asli), anak kecil lelaki berparas
tampan dan lugu. Sejak kecil ia sudah mulai belajar hidup disiplin di tengah
lingkungan yang penuh dengan pergumulan batin dan otak para penghuninya.
Sepertinya Arayan sudah terbiasa dengan situasi demikian, yang rutinitas setiap
harinya hanya berdoa di setiap subuh, mengikuti perayaan kurban Tuhan di altar
perjamuan, sarapan pagi bersama tepat waktu, belajar, bekerja, olahraga
(bermain futsal, voli, basket, badminton), kemudian berdoa lagi
lalu belajar dan tidur.
Anak kecil mana sih yang mampu beradaptasi
dengan lingkungan yang penuh dengan aturan yang menjenuhkan ini? jarang ya? Tetapi
sudahlah, mungkin ia belum mengerti sepenuhnya, mungkin ia merasa nyaman
dengan situasi seperti itu dan mungkin juga ia hanya sekedar suka-suka
saja. Tetapi rasanya itu sangat baik. Hidup dalam lingkungan yang tertib sejak
dini, memberikan pengalaman positif untuk kehidupan di masa mendatang, di mana
kita hanya perlu tenang. Tenang menjadikan kita dewasa dalam berpikir dan
bertindak (termasuk mengambil resiko).
**
Arayan baru berumur 9 tahun, kelihatannya belum cukup umur
untuk bisa hidup dalam biara. Apalagi harus mengikuti semua aturan seminari.
Namun tak di sangka, sejak ia masih berumur 1 tahun, ia sudah di asuh oleh
seorang pastor di sebuah paroki. jadi wajar saja jika hingga sekarang pun
Arayan masih berharap akan terus berlibur dan menikmati kehidupan seorang
seminarian, yakni di biara (rumah formasi para calon imam).
**
Setiap liburan, Arayan selalu memilih untuk
berlibur di biara Barnabite yang terletak di jalan wairklau, tepatnya di
sebelah barat RS TC. HILERS Maumere. Ketika di tanya apa alasannya ia suka
berlibur di Biara? Ia hanya menjawab, “karena Frater-Frater mereka sangat
baik.” Arayan memiliki kepribadian yang sangat beda dengan anak-anak lelaki
lain yang sebaya dengannya. Sikap ini sudah ditunjukan Arayan ketika bermain
bola bersama dengan anak-anak tetangga. Arayan selalu bersikap menghormati dan
mengalah. Tulangnya saja yang kecil, tetapi pembawaan dirinya seperti orang
yang dewasa. Ia sangat sopan, tenang dan tidak menjengkelkan. Hal ini
membuktikan bahwa, dewasa bukan tentang usia tetapi cara berpikir. Bagi Arayan,
usia hanyalah angka yang menjadi bukti bahwa kita sudah menua, tetapi menjadi
dewasa adalah tentang jiwa yang semakin mematang seiring besarnya otot-otot
tubuh kita.
Orangtua Arayan tidak pernah merasa keberatan
ketika Arayan memili berlibur bersama para Frater di Barnabite. Mungkin karena
sedari kecil, Arayan sudah diasuh oleh seorang pastor sehingga orangtuanya
tidak merasa takut ketika Arayan berlibur jauh dengan mereka.
**
Arayan sudah mulai berjudul tentang hidupnya di
kemudian hari, yakni menjadi seorang misionaris Yesus. Tetapi rasanya masih
sangat lama jika ia sudah mulai menulis satu judul harapannya dalam benaknya.
Karena ia masih sangat kecil. Pikiran manusia akan selalu berubah seiring
berjalannya waktu dalam penemuan kehidupan-kehidupan yang akan datang. Manusia
selalu berjudul buram di setiap subuh, seperti embun pagi mennyelimuti
dedaunan, dan awan kabut yang membungkus rapi mentari pagi. Sama halnya seperti
Arayan, yang ketika ditanya, “Arayan, kalau sudah selesai sekolah SMA, nanti
mau sekolah jadi Apa? Ia menjawab “mau jadi imam”. Mulut imutnya itu sangat
luguh ketika ia berjudul. “kalau mau jadi imam nanti Arayan pilih masuk biara
mana? Ia menjawab, “Barnabite.” Lihat, ia bukan hanya skedar berjudul, namun
sekaligus mengikat perjanjian dengan ordo Barnabite. “sah?” ia menjawab “ok
sah” lalu berjabatan tangan dengan seorang Frater sambil tertawa lepas. Arayan
sangat menggemaskan. Para frater sangat senang ketika ia datang. Ia mengikuti
semua jadwal formasi para Frater, sperti bangun pagi jam 04:30, lalu mandi,
mengikuti ibadat, merayakan kurban Kristus, dan belajar. Arayan sangat cepat
beradaptasi.
Di Biara, Arayan sangat disukai semua frater
karena ia anak yang peka terhadap seluruh kegiatan para frater, salah satunya
adalah ia tidak ribut. Ketika jadwal belajar, Arayan juga menyibukan dirinya
dengan menggambar dan terkadang membaca buku bahasa asing meskipun ia tidak
paham. Arayan memiliki satu teman yang sangat diakrabinya. Anto namanya. Anto
(bukan nama asli) adalah seorang frater yang baru menempuh tahap formasi
Aspirant tahun kedua dan sedang meramu studi Filsafat semester 2 di IFTK
Ledalero. Mereka berdua layaknya kakak dan adik kandung. Setiap malam Arayan
lebih memilih tidur di tempatnya Fr. Anto. Satu hal yang membuat Arayan senang
adalah sebelum tidur Fr. Anto selalu berdongeng dan terkadang mengajarkan
bahasa inggris kepadanya. Hal ini yang membuat Arayan betah dan suka berliburan
di Biara.
**