Ruang Risau
Atapnya tak selalu menyediakan keteduhan
dindingnya tak selalu memberikan nyaman
tiang-tiangnya tak selalu berdiri kokoh
Ruang Risau
Atapnya tak selalu menyediakan keteduhan
dindingnya tak selalu memberikan nyaman
tiang-tiangnya tak selalu berdiri kokoh
Malam semakin larut
aku masih setia memeluk kerisauan
batinku tersentil pada ufuk langit gemerlapan
pada cahay bintang yang bertaburan
Malam semakin larut
udara malam begitu apik menggigili tubuh lusuh
memeluk sepih yang tak pernah luput dalam kisah yang terlampau surut
Malam semakin larut
jemariku tak kunjung berhenti
menuliskan sebuah puisi dalam sepih
hingga malamku tak kunjung pamit
karena waktu tak pernah sempit
Agustus, 2023
Tak ada dingin yang berkepanjangan
Kita menciptakan senduh pada tangkai senja
Dan berakhir tawa dalam bilangan-bilangan kenangan
Kita mengadorasikan cinta di bawah tiang-tiang rindu
Bahagia pun membumbung ke awangan
Kisah ini begitu apik menyulam dalam rentetan senyuman
Dan menjahit luka-luka abstrak dalam keluguhan hati.
Cinta memiliki ruangan yang abstrak
Ia menemukan bahagia bukan pada gedung mewah ataupun arca-arca megahRuang cinta tak memperhitungkan rana dalam kaprah tiang-tiang lusuh
Ia empunya bahagia yang sederhana
Yang selalu ingin melebih-lebihkan
Makhluk yang hidupnya di bawah kendali logika
Kurang bilang susah
Sudah ada masih ingin tamba
Lebih bukannya bersyukur
Hilang membuat pikiranya jadi hancur
Manusia Behati ganda
Yang selalu mencari yang baru, mengaharapkan yang baru
Tak ingin merawat yang lama, membunuh yang ada, membiarkan mereka berlalu
mati dalam merawat harapan
Sungguh, susah sampe…
Manusia bermata segitiga
Relanya tak menetap menatap yang lain sebagai rasa
Sekali ingin mengubahnya
Tanpa berdiskusi dari mata ke mata dan dari hati ke hati
Manusia berisik…
Ia punya hati, tapi kadang tak hati-hati
Manusia berisik
Ingin kutulis sajak ini dalam hati yang geram
Mengungkapkan di depan pelataran teras rumah
Mencukur habis masa-masa fajar milenium dan senja yang menyingsing
Membangunkan kemanusiaanmu dalam kesadaran yang kebanyakan berisik namun lupa
memikirkannya.
**
Namanya Arayan (bukan nama asli), anak kecil lelaki berparas
tampan dan lugu. Sejak kecil ia sudah mulai belajar hidup disiplin di tengah
lingkungan yang penuh dengan pergumulan batin dan otak para penghuninya.
Sepertinya Arayan sudah terbiasa dengan situasi demikian, yang rutinitas setiap
harinya hanya berdoa di setiap subuh, mengikuti perayaan kurban Tuhan di altar
perjamuan, sarapan pagi bersama tepat waktu, belajar, bekerja, olahraga
(bermain futsal, voli, basket, badminton), kemudian berdoa lagi
lalu belajar dan tidur.
Anak kecil mana sih yang mampu beradaptasi
dengan lingkungan yang penuh dengan aturan yang menjenuhkan ini? jarang ya? Tetapi
sudahlah, mungkin ia belum mengerti sepenuhnya, mungkin ia merasa nyaman
dengan situasi seperti itu dan mungkin juga ia hanya sekedar suka-suka
saja. Tetapi rasanya itu sangat baik. Hidup dalam lingkungan yang tertib sejak
dini, memberikan pengalaman positif untuk kehidupan di masa mendatang, di mana
kita hanya perlu tenang. Tenang menjadikan kita dewasa dalam berpikir dan
bertindak (termasuk mengambil resiko).
**
Arayan baru berumur 9 tahun, kelihatannya belum cukup umur
untuk bisa hidup dalam biara. Apalagi harus mengikuti semua aturan seminari.
Namun tak di sangka, sejak ia masih berumur 1 tahun, ia sudah di asuh oleh
seorang pastor di sebuah paroki. jadi wajar saja jika hingga sekarang pun
Arayan masih berharap akan terus berlibur dan menikmati kehidupan seorang
seminarian, yakni di biara (rumah formasi para calon imam).
**
Setiap liburan, Arayan selalu memilih untuk
berlibur di biara Barnabite yang terletak di jalan wairklau, tepatnya di
sebelah barat RS TC. HILERS Maumere. Ketika di tanya apa alasannya ia suka
berlibur di Biara? Ia hanya menjawab, “karena Frater-Frater mereka sangat
baik.” Arayan memiliki kepribadian yang sangat beda dengan anak-anak lelaki
lain yang sebaya dengannya. Sikap ini sudah ditunjukan Arayan ketika bermain
bola bersama dengan anak-anak tetangga. Arayan selalu bersikap menghormati dan
mengalah. Tulangnya saja yang kecil, tetapi pembawaan dirinya seperti orang
yang dewasa. Ia sangat sopan, tenang dan tidak menjengkelkan. Hal ini
membuktikan bahwa, dewasa bukan tentang usia tetapi cara berpikir. Bagi Arayan,
usia hanyalah angka yang menjadi bukti bahwa kita sudah menua, tetapi menjadi
dewasa adalah tentang jiwa yang semakin mematang seiring besarnya otot-otot
tubuh kita.
Orangtua Arayan tidak pernah merasa keberatan
ketika Arayan memili berlibur bersama para Frater di Barnabite. Mungkin karena
sedari kecil, Arayan sudah diasuh oleh seorang pastor sehingga orangtuanya
tidak merasa takut ketika Arayan berlibur jauh dengan mereka.
**
Arayan sudah mulai berjudul tentang hidupnya di
kemudian hari, yakni menjadi seorang misionaris Yesus. Tetapi rasanya masih
sangat lama jika ia sudah mulai menulis satu judul harapannya dalam benaknya.
Karena ia masih sangat kecil. Pikiran manusia akan selalu berubah seiring
berjalannya waktu dalam penemuan kehidupan-kehidupan yang akan datang. Manusia
selalu berjudul buram di setiap subuh, seperti embun pagi mennyelimuti
dedaunan, dan awan kabut yang membungkus rapi mentari pagi. Sama halnya seperti
Arayan, yang ketika ditanya, “Arayan, kalau sudah selesai sekolah SMA, nanti
mau sekolah jadi Apa? Ia menjawab “mau jadi imam”. Mulut imutnya itu sangat
luguh ketika ia berjudul. “kalau mau jadi imam nanti Arayan pilih masuk biara
mana? Ia menjawab, “Barnabite.” Lihat, ia bukan hanya skedar berjudul, namun
sekaligus mengikat perjanjian dengan ordo Barnabite. “sah?” ia menjawab “ok
sah” lalu berjabatan tangan dengan seorang Frater sambil tertawa lepas. Arayan
sangat menggemaskan. Para frater sangat senang ketika ia datang. Ia mengikuti
semua jadwal formasi para Frater, sperti bangun pagi jam 04:30, lalu mandi,
mengikuti ibadat, merayakan kurban Kristus, dan belajar. Arayan sangat cepat
beradaptasi.
Di Biara, Arayan sangat disukai semua frater
karena ia anak yang peka terhadap seluruh kegiatan para frater, salah satunya
adalah ia tidak ribut. Ketika jadwal belajar, Arayan juga menyibukan dirinya
dengan menggambar dan terkadang membaca buku bahasa asing meskipun ia tidak
paham. Arayan memiliki satu teman yang sangat diakrabinya. Anto namanya. Anto
(bukan nama asli) adalah seorang frater yang baru menempuh tahap formasi
Aspirant tahun kedua dan sedang meramu studi Filsafat semester 2 di IFTK
Ledalero. Mereka berdua layaknya kakak dan adik kandung. Setiap malam Arayan
lebih memilih tidur di tempatnya Fr. Anto. Satu hal yang membuat Arayan senang
adalah sebelum tidur Fr. Anto selalu berdongeng dan terkadang mengajarkan
bahasa inggris kepadanya. Hal ini yang membuat Arayan betah dan suka berliburan
di Biara.
**
Tuhan bilang, Ampunilah sesamamu sebanyak 70 kali 7 kali
"Maka jangan segan-segan mengampuni dirimu dan jangan takut kalau nk buat salah. hanya nk punya dirilah pengampunan terbaik. Ampunilah dirimu, terimalah kekuranganmu, sembuhkanlah.
TUHAN SURUH ENGKO BUA BAE DENGAN DORANG YANG MEMBENCI NK. TAPI BUKAN HANYA SEKALI JO BERHENTI BUA BAE...
ENGKO PU BAE ITU HARUS SEBANYAK 70 (X) 7 (X). BIAR DOARANG TAU, DORANG BISA BUKA MATA. TE USAH BANYAK BENCI EEEE...
paul
Ketika hatiku dan hatimu sedang meramu teduh di bawah langit malam.
Aku tahu tak semuda itu membujuk cinta
Hingga purnama kita Kembali penuh
Rupanya dirimu dan diriku terlanjur tenggelam dalam rasa. Namun realita lebih memihak pada kepiluan pertemuan berujung pisah
Hai kamu, tahukah bahwa hadirmu membawa cahaya dalam gelapku
Dalam dirimu ada ketulusan
Namun kita terlalu lama berjalan di atas kelogisan hati
Hingga lupa bahwa kita memiliki hati yang pantas mencinta
Tentang kamu dan kenangan yang ada, nko telah lama menenggelamku dalam bola matamu itu waktu kita bertemu di pelataran warung kecil
Lalu nko kembali menyapaku lewat chatingan hingga sampai sekarang aku masih meratapi sebuah perasaan yang tak juah di dengar.
Ragu? Iya, kamu ragu.
Tentang kamu "D" dari jauh aku hanya bisa memujamu dalam diam. Biarkan kata-kata Ini mewakili perasaanku. Entah itu marah, jengkel, protes, ngomel ataupun cinta (namun itu belum nko percaya), seperti pertengkaran yang sempat kita ramu.
Namun, percayalah suatu saat kita akan kembali merindu tentang hal yang sama.
Aku tahu
Aku mengerti
Katamu, "maybe not maybe yes"
Iya, nko masih diselimuti rasa jengkel
Aku minta maaf
Tentang kamu, entah kenapa rasa ini tumbuh sendirinya, kamu unik (menurutku), kamu seperti narasi panjang yang harus aku baca dan pahami baik-baik. Kadang aku bingung sendiri
Malam setelah dari pamitmu itu, aku kembali mengusik bulan, entakah engkau begitu apik meredupkan senjaku, menggantungkan angan yang tinggi. Aku malu hingga hampir jatuh.
Tentang kamu "D" ada sejuta harap aka temu kita dalam purnama berikutnya.
Cinta tak selamanya tumbuh dalam kata-kata indah dan romantis. Tapi kita bisa menemukannya dalam perbedaan.
Katamu nko menggantungkan harapan demi mengenal citra yang sedikit beda dari yang lainya, tapi nyatanya nko masih temukan hal yang sama, bahkan sebaliknya dari ekspetasi yang nko gantungkan dalam isi kepala.
"D" satu hal besar kegagalan dalam cinta adalah mengenal seseorang dengan ukurann kita.
Tentang kamu "D" kita belum lama kenal, berpasan mata pun baru sekali, itupun hanya kebetulan ketemu. Namun senyummu membuatku candu, meskipun berhayal dari jauh.
Tentangmu, singkat namun bermakna
LAPORAN HASIL KEGIATAN KATEKESE PEDNALAMAN KITAB SUCI PERTEMUAN KEDUA - OKTOBER 2025 Dikerjakan Oleh: Paulus Leo Lego Hurit (237...