Sayapku Belum Utuh
Ibuku, anak perempuanmu tumbuh dalam gerimis dan mendung,
hingga enggan merangkak ke pagi
Sebab terlalu dingin untuk menyetubuhi hari-hari seorang
diri
Sudah mampu sendiri memetik embun yang berkumpul di ujung-ujung
daun
Dan memasaknya di bola mataku
Ibuku, ijinkanku membasahi bingkai fotomu dengan rinduku
yang kian bercucuran
Aku ingin memeluk kesendirianku di rumah kecil kita
Ibu meninggalkan lemari kita yang penuh dengan boneka yang
pernah ibu pungut di pasar untuk menghiasi senyumku
Kini aku hanya sendiri dipaksa kawin subuh oleh tungkumu
Aku disiksa dan ditindas oleh waktu yang kupungut sendiri
usai berlari di taman sekolah
Ibuku, sayapku belum tumbuh sempurnah tetapi aku telah
dihujani gerimis hingga badai yang tak kunjung kupahami.
Kamar, 2025
.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar