Selasa, 02 Desember 2025

LAPORAN HASIL KATEKESE PENDALAMAN KITAB SUCI PERTEMUAN PERTAMA - OKTOBER 2025

 

 




Tugas Pastoral Kitab Suci

Laporan Hasil Kegiatan Katekese

Pertemuan I

Kelompok The Youth Eltras

Di Susun Oleh:

Paulus Leo Lego Hurit (23757634)

Marianus Liwu Kelen (23757599)

Markus Belili Maran (23757604)

Yohananes Taek Loy (23757698)

 

LAPORAN HASIL KATEKESE PENDALAMAN KITAB SUCI

PERTEMUAN PERTAMA - OKTOBER 2025

A.    PENGANTAR

Puji dan syukur kami haturkan kepada Allah yang Maha baik dan penuh Belaskasihan, karena atas ridohnya, kami dapat menjalankan kegiatan Katekese Pendalam Kitab Suci pada pertemuan yang pertama ini dengan baik dan mantap.

Pada pertemuan pertama yang digelar pada  10 Oktober 2025 yang lalu merupakan suatu pertemuan yang cukup mengesankan. Sebab dalam kegiatan itu, kami menemukan berbagai macam pesan dan kesan, baik bersifat positif maupun negatif. Namun kami tetap percaya bahwa itu merupakan bagian dari proses dan menjadi pengalaman yang baik.

Fokus atau sasaran kelompok dalam menyusun perencanaan hingga pada hari H kegiatan itu dilaksanakan adalah para kaum remaja dan dewasa yang berasrama di wilayah Paroki Spiritu Santo Misir, Eltari Atas (Eltras) (Lokus), Maumere-Kabupaten Sikka, secara khusus di wilayah Paroki Spiritu Santo Misir. Mereka adalah remaja SMA dan Mahasiswi.

Di bawah tema “Sahabat Sejati: Kasih yang Berkorban”, kami memilih kaum remaja dan dewasa sebagai sasaran Katekese ini, dengan menyoroti model kasih yang diajarkan Yesus Kristus. Tema ini menjadi pokok sentral yang dapat memberikan pemahaman kepada peserta katekese untuk memahami Apa perintah yang diberikan Yesus kepada manusia? Model Kasih seperti apa yang diajarkan Yesus? Dan sebutan apa yang diberikan Yesus kepada murid-murid-Nya? Tema ini juga hendak menghantar peserta katekese untuk lebih mendalami dan memahami arti kasih yang berkorban dalam persahabatan remaja zaman sekarang, dan bagaimana meneladani Yesus sebagai sahabat dalam lingkungan sekolah, komunitas, dan masyarakat.

Kami menyadari bahwa kegiatan ini tidak akan berjalan tanpa ada kerja sama yang baik dan atau dukungan dari pihak lain. Maka sebagai bentuk kewajiban moral, kami hendak mengucapkan terima kasih kepada:

Pertama, Pater Ito Dhogo, SVD selaku dosen pengampuh matakulia Pastoral Kitab Suci, yang telah mempercayakan dan memberikan kami kesempatan untuk berpastoral. Kedua, untuk semua peserta katekese yang telah menyatakan kesediaan menjadi sasaran kegiatan ini. Ketiga, Secara khusus kepada pemilik asrama (ibu asrama) yang dengan sukarela dan dengan senang hati menerima permintaan serta kehadiran kami untuk melakukan katekese bersama anak-anak asrama.  Keempat, terima kasih sepenuhnya dan sebangga-bangganya kepada “team” yang sudah bekerja dengan baik dan tulus untuk menyukseskan kegiatan ini: Paulus Leo Lego Hurit (Paul Hurit), Marianus Liwu Kelen (Nus), Markus Belili Maran (Billi), dan Yohanes Taek Loy (Johan).

 

B.    PROSES KATEKESE

 

TEMA KATEKESE:

“SAHABAT SEJATI: KASIH YANG BERKORBAN”

 

1.     Tujuan

Berdasarkan tema yang diangkat, fasilitator merumuskan beberapa tujuan yang hendak dicapai oleh peserta katekese. Tujuanya adalah sebagai berikut:

a.      Peserta diharapkan agar dapat mendalami dan memahami arti Kasih yang berkorban dalam hubungan persahabatan

b.     Peserta mampu meneladani model kasih yang diajarkan Yesus di dalam kehidupan bersama setiap hari.

c.      Peserta diharapkan untuk memahami arti kasih seorang sahabat yang berkorban, secara khusus dalam dunia masa ini.

 

2.     Pemikiran dasar

Dalam dunia masa sekarang, perkembangan pengetahuan dan teknologi telah banyak membawa perubahan yang signifikan bagi manusia secara khusus dalam bidang sosial. Dan perkembangan itu mampu membawa manusia ke dalam situasi hidup yang serba individual. Dalam situasi tertentu, seseorang kerap menjadi sosok yang apatis, arogan, dan bahkan menjadi sosok yang anti sosial. Hal ini diakibatkan oleh adanya model hidup yang serba instan “fast-food” sehingga manusia kerap kehilangan jiwa sosialismenya, dan menjadi orang yang mati sebelum waktunya. Hidup saling membutuhkan satu dengan yang lain menjadi sebuah prinsip yang kabur.

Dan dalam konteks ini, situasi demikian kerap terjadi dalam hubungan persahabatan zaman sekarang. Persahabatan zaman sekarang kerap mengalami kehilangan mentalitas persahabatan yang solid. Dalam situasi tertentu, sahabat itu sendiri seolah-olah hanya sekedar tempat pelarian semata atau dapat diungkapkan dengan bahasa “rindu karena butuh”. Sahabat bukan lagi sebagai sosok yang selalu berjalan beriringan, saling tolong-menolong, saling melengkapi, tetapi malah hanya sebagai “suplemen” yang dibutuhkan sesaat. Ini menjadi tantangan bagi kaum remaja ataupun dewasa, dan juga untuk seluruh orang beriman akan Yesus Kristus sebagai model sahabat yang sejati.

Sahabat sejati adalah seseorang yang “bukan hanya sebagai tempat berteduh” tetapi ia adalah sosok yang siap dan yang mau masuk dan merasakan suka dan duka yang dialami oleh sahabatnya. Dan model persahabat seperti ini telah ditunjukan oleh Yesus Kristus. Dia menyebut kita sebagai sahabat-Nya, dan seorang sahabat adalah dia yang rela mengorbankan nyawa. Maka dalam persahabat yang diajarkan Yesus adalah persahabatan yang mengenakan pakain “Kasih” dan “kebenaran” yang melampaui batas. 

Oleh karena itu, dalam katekese ini, kita diharapkan dapat meneladani Yesus sebagai model kasih yang sejati dalam hidup bersama sebagai sahabat. 

 

3.     Bahan

Yohanes 15:12-15

 

“Inilah perintah-Ku, yaitu supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu.

 

“Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya.”

 

“Kamu adalah sahabat-Ku, jikalau kamu berbuat apa yang Kuperintahkan kepadamu.”

 

“Aku tidak menyebut kamu lagi hamba, sebab hamba tidak tahu, apa yang diperbuat oleh tuannya, tetapi Aku menyebut kamu sahabat, karena Aku telah memberitahukan kepada kamu segala sesuatu yang telah Kudengar dari Bapa-Ku.”

 

4.     Sarana

Sarana yang digunakan dalam katekese ini adalah:

Kitab Suci, sticky notes atau kertas memo tempel, kertas karton putih dan spidol.

5.     Peserta

Anak Asrama kompleks GNR-Eltras di wilayah Paroki Spiritu Santo Misir.

6.     Waktu

Kurang lebih 2 jam. Dilaksanakan pada soreh hari pukul 15:30 sampai selesai.

7.     Proses pertemuan

a.     Pembukaan

-Doa Pembukaan: doa dibuka dengan sebuah lagu “Yesus Kekasih Jiwaku”

- Perkenalan nama (Fasilitator dan peserta Katekese).

Alasan perkenalan nama dilangsungkan pada pembukaan, karena sesuai dengan tema yang dibiacarakan, bahwa agar kita dapat saling mengasihi dan kasih itu tumbuh di antara kita, alangkah baiknya didahuli dengan perkenalan. Seperti pepatah lama yang mengatakan “tak kenal maka tak sayang”.

-           P/F: Dalam Nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus

            PK: Amin

- Doa Pembukaan

-Game atau Ice Breaking: “Tebak siapa nama temanmu”.

Sebelum memulai permainan, fasilitator menghitung jumlah seluruh peserta katekese. Jumlah mereka adalah 13 orang. Peserta dibagi dalam 3 kelompok (Mawar, melati, dan Anggrek) dan masing-masing kelompok mengutus dua orang untuk menjadi pemeran game tersebut. Peserta ditutup matanya, disentuh bahu oleh seorang teman, dan menebak siapa teman yang disentuh. Game ini mengajarkan mereka tentang pentingnya mengenal sahabat dengan hati dan perasaan.

-hening sejenak, dan dilanjutkan dengan  salam dan pengantar awal oleh fasilitator, serta menjelaskan makna dari game tersebut.

b.     Pendalaman Kitab Suci

-        Injil Yohanes 15:12-15 dibacakan oleh peserta dalam 2 kelompok secara bergantian (ayat ganjil dan ayat genap). Setelah itu dibacakan lagi secara bersama-sama, dan dibacakan ulang satu kali oleh pemandu/ fasilitator.

-        Peserta menjawab Pertanyaan penuntun: Apa perintah yang diberikan Yesus? Model kasih seperti apa yang diajarkan Yesus? Sebutan apa yang diberikan Yesus kepada murid-murid-Nya? Mengapa?

c.     Aktivitas diskusi

Dalam tahap diskusi ini, peserta melakukan diskusi ringan tentang apa arti kasih yang berkorban dalam persahabatan remaja sekarang? Dan bagaimana caranya meneladani Yesus sebagai sahabat dalam lingkungan sekolah/ komunitas?

Pertanyaan-pertanyaan di atas dijawab dengan baik dan mantap oleh peserta katekese yang dibagi dalam dua kelompok. Berikut adalah jawaban dari masing-masing kelompok:

                        Jawaban Kel. Mawar:

Pertanyaan pertama, “menurut kelompok kami, kasih yang berkorban dalam persahabatan remaja sekarang adalah: mengunjungi teman yang sedang sakit. Zaman sekarang tindakan mengunjungi teman yang sakit secara langsung dengan pergi ke rumahnya sudah menjadi hal yang lumrah atau biasa. Akan tetapi kebiasaan itu sudah jarang kita temui, apalagi dalam dunia saat ini, di mana komunikasi atau relasi secara tatap muka atau bertemu langsung sudah diganti dengan komunikasi jarak jauh dengan menggunakan handphone (hp). jadi jawaban yang kami berikan itu seharusnya menjadi alarm untuk kita semua, agar kita dapat sadar bahwa untuk meneladani Yesus sebagai pusat kasih yang rela berkorban adalah dengan mengunjungi teman yang sakit secara langsung dan memberikan hiburan untuknya.

Jawaban Pertanyaan kedua, “menurut kelompok kami, cara meneladani Yesus sebagai sahabt dalam lingkungan sekolah atau komunitas adalah dengan cara:

Pertama, kita harus mengasihi sesama tanpa membedakan latar budaya, suku, ras, dll. Sama seperti Yesus yang mengasihi tanpa membedakan satu dengan yang lainnya. Kedua, kita harus saling mengampuni sama seperti Yesus yang telah mengampuni dosa-dosa kita.”

                        Jawaban Kel. Melati:

Jawaban Pertanyaan pertama, “menurut kami, kasih yang berkorban dalam persahabat zaman sekarang adalah menolong teman yang sedang membutuhkan pertolongan. Misalnya memberikan buku, pulpen, atau uang.”

Jawaban Pertanyaan kedua, “menurut kelompok kami, cara meneladani Yesus sebagai sahabat dalam lingkungan sekolah atau komunitas adalah dengan berteman dengan sesama tanpa ada niat-niat tertentu, seperti kita berteman untuk mendapatkan keuntungan. Misalnya ada teman yang berasal dari keluarga yang cukup mampu, kita berteman dengan dia untuk bisa mendapatkan sesuatu seperti uang, kue, dll. Tetapi sebaliknya, kita harus berteman dengan tulus dan ikhlas seperti Yesus yang tulus mencintai kita.”

ΓΌ  Penegasan Ulang oleh Fasilitator

Sadari-saudari yang terkasih, saya mengucapkan apresiasi kepada kamu semua yang telah menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut. Jawaban yang telah diberikan adalah jawaban yang benar dan memiliki makna yang cukup mendalam. Jawaban tersebut juga sekaligus menjadi alarm positif yang dapat membangunkan kita dari tidur panjang jiwa keegosian dan sikap tidak peduli terhadap sesama. (ajakan tepuk tangan sebagai bentuk apresiasi).

Para sahabat katekese yang terkasih, dalam pengantar awal tadi dikatakan bahwa sahabat bukanlah tempat pelarian atau sahabat bukan semata sebagai tempat berteduh saat lelah. Sahabat tidak datang saat butuh atau seperti yang ditegaskan “rindu karena butuh”, tetapi sahabat adalah dia yang siap menerima segala suka dan duka. Sahabat itu sendiri adalah hidup. Seperti hidup yang tidak sekedar tentang suka atau bahagia, tetapi hidup adalah tentang bagaimana kita menerima segala yang ada dan menjalaninya baik itu bahagia maupun luka atau derita.

Melalui Yesus Kristus, kita belajar tentang persahabatan yang melampaui batas dengan standar “kasih tanpa pamri”. Yesus menyebut kita sebagai sahabat dan bukan hamba, maka kitapun demikian. Tidak ada yang lebih besar dan berkuasa di antara kita, kita seharusnya sama – sebagaimana Tuhan telah menciptakan kita seturut gambar dan rupa-Nya (Imago Dei). Ketika kita adalah “sama” di mata Tuhan, kita harus saling menerima satu dengan yang lain tanpa harus membedakan suku, budaya, rasa, dll seperti yang terjawab dalam diskusi tadi.

Para sahabat katekese yang terkasih, melalui Yesus juga kita diajarkan untuk rela berkorban untuk orang lain. Seperti cinta adalah korban dan hidup, Yesus telah menunjukan itu kepada manusia melalui kisah sengsara, wafat, dan kebangkitan-Nya. Yesus bersabda “Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seseorang yang memberikan nyawa untuk sahabat-sahabat-Nya.” Maka baiklah kita pun berjuang untuk meneladani sikap Yesus dalam hidup kita sehari-hari.

Dalam hidup kita, terkadang kita berpikir bahwa mengasihi sesama adalah dengan memberikan barang berharga atau berbagai jenis material lainnya kepada orang yang membutuhkan atau berkorban tenaga dan waktu yang besar untuk membantu orang. Itu juga merupakan tindakan kasih yang konkret. Tetapi tindakan itu kerap kali mengandung niat yang lain seperti membutuhkan validasi atau pujian karena sudah banyak memberikan bantuan. Tetapi lebih dari itu, tindakan mengasihi dan berkorban terhadap yang lain dapat juga kita lakukan dengan hal-hal kecil atau sederhana.

Kasih tanpa pamri juga merupakan kasih yang tak terbatas, atau saya namakan kasih itu sebagai “lubang tanpa dasar”. Kasih seperti lubang tanpa dasar artinya kita mengasihi sesama karena kita memiliki kasih itu, seperti halnya saya memberikan uang kepada sahabat saya atau siapapun itu, menyatakan bahwa saya memiliki uang itu. Atau secara sederhananya: saya memberi karena saya memiliki. Itu berarti kasih itu tidak miskin. Maka kita pun jangan memberi dengan kemiskinan. Memberi dengan kemiskinan adalah memberi dengan harapan untuk mendapatkan balasan atau imbalan. Kasih yang diajarkan Yesus tidaklah demikian. Yesus mengasihi kita karena ia adalah sumber kasih, maka baiklah kitapun mengasihi tanpa harus meminta imbalan.

Memang benar bahwa, terkadang dunia tidak memihak pada orang yang memihak pada kebenaran, dunia sering kali memihak pada apa yang paling banyak disukai atau yang paling banyak diminati, sedangkan yang benar malah sering dikhianati dan diabaikan. Tetapi cara pandang dunia seperti itu harus kita terima dan jalani sebagai bagian dari hidup.

Sahabat katekese yang terkasih, terkadang seseorang yang kita cintai seringkali melukai hati kita, baik melalui tindakan maupun melalui kata-kata. Tetapi marilah kita belajar untuk memaafkan dan mengasihi mereka yang melukai kita sama seperti Yesus yang mengasihi sahabat-sahabat-Nya hingga rela menyerahkan nyawa di kayu salib.

Ingatlah bahwa “cinta tak selalu bahagia, tetapi yang bahagia adalah bukti dari cinta.” Terima kasih, Tuhan Yesus sayang kita semua. Amin.

d.     Aktivitas Kreatif

Pada bagian ini, kami (fasilitator) menyiapkan satu lembar kertas karton berwarna putih dan meminta peserta katekese untuk membuat peta sahabat. Tiap peserta menuliskan nama seorang atau lebih dari sahabat mereka di sticky notes atau kertas memo tempel yang sudah disiapkan serta menulis hal-hal baik yang pernah sahabat itu lakukan. Tulisan itu kemudian ditempelkan di kertas karton tersebut sebagai lambang jaringan kasih yang mengikat mereka.

e.      Pesan dan Penerapan

-        Pesan: pertama, Kasihilah sesamamu sebagiamana Tuhan megasihi kita, dan kasihilah sesamamu seperti dirimu sendiri. Kedua, kasih tidak menuntut imbalan. Maka kasihhilah sesama dengan tulus seperti seorang ibu yang mengasihi anaknya meskipun terkadang anak selalu melukai hati ibu.

-        Penerapan: pertama, sebagai bukti kasih terhadap Tuhan dan sesama, maka baiklah kita juga mencintai sabda Tuhan dengan cara membaca dan merenungkannya dalam kehidupan sehari-hari. Kedua, sebagai bentuk cinta terhadap Tuhan dan sesama, kita diharapkan untuk mencintai alam ciptaan seperti: membuang sampah pada tempatnya, menanam pohon (penghijauan), dan menanam bunga. Dan ketiga, menjaga kebersihan dan kerapihan diri baik secara fisik maupun secara batin.

f.      Doa Permohonan

Doa permohonan dibacakan oleh peserta katekese secara bersamaan. Berikut adalah doa permohonan yang disiapkan berdasarkan teks injil Yohanes 15:12-15:

Bapa kami yang di surga,

Kami datang ke hadapan-Mu dengan hati yang bersyukur atas kasih-Mu yang luar biasa, yang Engkau tunjukan melalui Putera-Mu, Yesus Kristus. Firman-Mu dalam Yohanes 15:12-15 mengingatkan kami akan perintah agung untuk saling mengasihi, sama seperti Kristus telah mengasihi kami.

Ya Tuhan, kami mohon agar Engkau menanamkan kasih ilahi-Mu di dalam hati kami. Bantulah kami untuk tidak hanya menjadi pendengar Firman, tetapi juga pelaku yang nyata, yang bersedia mengasihi sesama kami dengan kasih yang rela berkorban, seperti Kristus yang telah memberikan nyawa-Nya bagi sahabat-sahabat-Nya.

Ajarilah kami untuk hidup sebagai sahabat-sahabt-Mu, yang melakukan apa yang Engkau perintahkan. Kami bersyukur karena Engkau tidak lagi menyebut kami hamba, melainkan sahabat, dan telah memberitahukan kepada kami segala sesuatu yang engkau dengar dari Bapa. Tolonglah kami untuk menghargai hak istimewa ini dan berjalan dalam keintiman persekutuan dengan-Mu setiap hari.

Kami berdoa untuk keberanian dan kekuatan agar dapat mengasihi tanpa pamrih, melampaui kepentingan diri sendiri, dan siap berkorban demi kebaikan orang lain. Biarlah melalui kasih kami, nama-Mu dimuliakan dan banyak orang dapat melihat kebenaran firman-Mu.

Di dalam nama Tuhan Yesus Kristus, Sahabat kami dan penebus kami sepanjangn segala masa. Amin.

g.     Penutup

-        Membacakan kembali ayat 13: Tidak ada kasih yang lebih besar daripada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya.”

-        P/F: kemuliaan kepada Bapa, dan Putera, dan Roh Kudus

Peserta: Seperti pada permulaan, sepanjang segala abad, amin.

P/F: Dalam nama Bapa, dan Putera, dan Roh Kudus.

Peserta: Amin.

Kegiatan diakhiri dengan foto bersama.

 

C.    EVALUASI DAN REKOMENDASI LANJUTAN

1.     Satu minggu sebelum pertemuan pertama dilaksanakan, kami melakukan persiapan berupa diskusi kelompok untuk menetapkan tema dan sasaran serta efektivitas waktu yang pas untuk kegiatan ini. Selanjutnya kami mengunjungi peserta katekese untuk melakukan pendekatan sekaligus memastikan kesediaan dan ketaksediaan mereka. Dan tahap ini berjalan dengan lancar.

2.     Pada saat pelaksanaan, proses berjalan dengan lancar dan berakhir dengan kesan yang baik. Kami merasa berhasil membawakan katekese pada saat itu, walapun masih banyak hal yang perlu diakui sebagai keterbatasan kami.

3.     Katekese dimulai pada jumad, 10 Oktober 2025. Waktu yang direncanakan adalah pukul 16.00 WITA. Sebagai antisipasi, kami memutuskan untuk berangkat ke lokasi kegiatan pada pukul 15.00 WITA. Tetapi pada saat kami tiba di lokasi kegiatan, peserta katekese masih dalam keadaan belum siap (dalam hal ini di antara mereka ada yang masih tidur, belum mandi, dll). Maka kegiatan dimulai tepat jam 16.30 dan selesai pada pukul 18.00 WITA.

4.     Pada akhir pertemuan, kami sempat mengajukan pertanyaan tentang perasaan yang dialami peserta katekese selama kegiatan berlangung. Dan jawaban yang diberikan adalah:

-        Waktu katekese terlalu sedikit. Peserta mengajukan waktu katekese diperpanjang lagi.

-        Penyediaan tempat atau ruanga katekese terlalu sempit.

-        Sesi tanya jawab ditambah

-        Ice breakingnya dibuat lebih banyak lagi

-        Harus ada nyanyi-nyanyian

 

D.    LAMPIRAN DOKUMENTASI

 

Selasa, 01 April 2025

Surat Dari Anak Perempuanmu

 

Surat Dari Anak Perempuanmu

altaschool.id


 

Selamat malam ibuku

Aku merindukan dirimu

 

Dengan seonggok bulan di kepalaku, aku menuliskan secarik rinduku

 

Bu, hari ini adalah ulang tahunku

Barangkali engkau lagi diam-diam menyiapkan kado ulang tahunku

Aku tahu, engkau adalah puan penuh kejutan

 

Berharap kado itu berisi senter tua dan sumbuh pelita

Agar aku bisa menyalakannya di kepalaku dan meletakannya di rumah kecil kita

 

Bu, aku berusaha membakar diriku bersama sebatang sepih yang menyalah di tiang-tiang ragaku, aku ingin meniupnya sebagai bentuk merayakan kepergian tahun-tahun yang berlalu. Aku takut, bu aku takut gelap

 

Aku hampir kehilangan diri

Sebab aku bersinar sendiri ibu, aku hanya sendiri, hanya sendiri.

 

Ibuku,

Aku ingin terus menuliskan kisah heroikmu di kala engkau berusaha tegar menyaksikan aku berlari dalam selaput rahimu hingga aku keluar menjadi anak perempuanmu.

 

(salam dari putrimu), Dapur, 12 Februari 2025

 

 

Sayapku Belum Utuh

 

Sayapku Belum Utuh

wallhere.com

 

Ibuku, anak perempuanmu tumbuh dalam gerimis dan mendung, hingga enggan merangkak ke pagi

Sebab terlalu dingin untuk menyetubuhi hari-hari seorang diri

 

Sudah mampu sendiri memetik embun yang berkumpul di ujung-ujung daun

Dan memasaknya di bola mataku

 

Ibuku, ijinkanku membasahi bingkai fotomu dengan rinduku yang kian bercucuran

Aku ingin memeluk kesendirianku di rumah kecil kita

 

Ibu meninggalkan lemari kita yang penuh dengan boneka yang pernah ibu pungut di pasar untuk menghiasi senyumku

 

Kini aku hanya sendiri dipaksa kawin subuh oleh tungkumu

Aku disiksa dan ditindas oleh waktu yang kupungut sendiri usai berlari di taman sekolah

 

Ibuku, sayapku belum tumbuh sempurnah tetapi aku telah dihujani gerimis hingga badai yang tak kunjung kupahami.

 

 

Kamar, 2025

 

 

 

    LAPORAN HASIL KEGIATAN KATEKESE PEDNALAMAN KITAB SUCI PERTEMUAN KEDUA - OKTOBER 2025 Dikerjakan Oleh: Paulus Leo Lego Hurit (237...