Aku punya hari yang buruk.
Rasanya aku belum selesai
dengan kisah pilu tiga hari yang lalu.
Ia memutuskanku setelah sehari indonesia merdeka.
Payah.
Mungkin ia mau seperti bendera
yang bergantung bebas di atas tiang
lalu berkibar semaunya mengikuti ritme angin.
Ke kiri dan ke kanan
tanpa ada larangan dan tekanan.
Mungkin ia tidak mau lagi ada di cerita itu.
Ya,
cerita cinta yang mebawa banyak luka dan kecewa.
Luka itu mulai mengiris hati pada cinta di awal juli
dan mati setelah indonesia bebas dari duka negri.
Awal juli memberi cuaca yang tak pasti, kadang hujan, kadang panas, kadang angin yang membawa dingin. Akibatnya, harapan hidup pada sepiring nasi semakin tak berisi. Mati, kering dan tidak berbuah. Hanya bermodalkan tubuh yang kuat dan dua pohon tuak yang siap berkorban, terluka untuk memberi harapan pada jiwa.
Selain itu, awal juli juga memberi cinta, membawa angin suka cita. Hujan dalam rindu, panas asmara yang menggebu-gebu menumbuhkan rasa pada jiwa yang sekian lama mati dalam isi kepala. Dengan PDnya aku mengungkapkan rasa sukaku padanya. Dan ia menanggapinya dengan baik adanya. Ternyata ia juga memiliki rasa yang sama.
"kamu lagi apa?"
"jangan panggil dengan kata KAMU"
"ohiya sori ya"
"iya tidak apa-apa no"
"ohiya Oa. Terima kasih ee"
"Sama-sama"
Maklum saja masih awal. Hhhh
Panggilan akrab versi flores timur telah melekat dalam komunikasi kesaeharian kami. Oa, no. Iya, Oa dan No adalah awal cerita yang mengandung banyak rasa. Tapi sayang, rasa dalam cinta itu masih berumuran jagung namun terpaksa di bunuh dan mengakhirinya dengan sebuah kata yaitu bersambung.
Tidak tahu episode selanjutnya masih dengan pemeran yang sama atau tidak. "Pasti yang jelasnya tidak lah, masa Iya pemerannya Sudah mati tapi hidup kembali. Kan tidak mungkin"
Aku merasa bersalah. Setelah tiga hari lamanya jarum cinta itu berhenti pada malam yang kelam, akupun kehilangan arah untuk balik menyapanya. Aku telah melukai dia. Tujuh belas agustus adalah kemerdekaanku yang dipaksa mati. Cinta itu tumbuh dan mati dalam isi kepalaku. Ia berhasil membuatku berhenti untuk menunggu dan merindu. Katanya saat ini ia malas untuk pacaran. Tapi sejatinya itu hanyalah sebuah alasan. Ia membunuh harapanku dengan tidak mempedulikan perkataanku. Aku sayang padanya. Maka kupaksakan mengakhiri kisah ini.
Setelah beberapa hari, aku mencoba untuk merenung. Semudah itu ia mengatakan pisah setelah ia membuatku untuk menunggu.
"Sebelumnya minta maaf. Kita dua urus panggilan masing-masing sudah."
Maka disitulah ku paksakan untuk mematahkan sayapkyu untuk terbang menggapai angan bersamanya dalam bayangan. Aku mencoba untuk mengutip sebuah kata-kata dari seoarang frater waktu kami mengikuti PKKMB (Pengenalan Kehidupan Kampus Mahasiswa Baru) "Kemarin adalah bayangan, besok hanyalah sebuah mimpi".Dan kujadikan hal demikian seperti bayangan dan mimpi. Semuanya hanya sekedar halu. Sebuah imajinasi yang tak pasti.
Ah bukankah jika engkau sayang, engkau tak akan rela melepaskannya? Tanyaku dalam hati. Sebab jika engkau melepasknya, maka engkau juga merelakan dia untuk bersama yang lain. Apakah cintaku tak setulus dan tak sekokoh itu? Pertanyaan itu selalu muncul dalam isi kepalaku. "Seandainya saja waktu itu aku mencoba untuk bersabar, lalu mengangkat video callnya dengan hati yang bahagia, dan mencoba untuk mengubur amarah dan rasa kesal itu, mungkin cinta itu masih tumbuh hinga sekarang. Tapi aku salah. Penyesalan itu selalu menghantui hari-hariku. Ya. Penyesalan memang selalu datang di akhir.
"Maaf e di sini jarigan parah"
"Ohiya sayang tidak apa-apa"
Kapan kita begini terus? Hening sekali. Alasan jaringan parah tapi update story wa lancar. Gumamku dalam hati.
Perenpuan memang begitu, selalu ingin di mengerti. Jika tidak maka kamu akan jadi kaum yang tidak pernah lolos dari salah. Kamu akan tetap menjadi manusia lemah yang selalu ingin mengalah.
Perempuan Selain mau menang sendiri, mereka juga merasa paling tersakiti setelah merasa dikhianati dan mengakhiri lalu pergi. Kemudian kasih postingan di sosmed "ikhlas! Jangan lama-lama menyesal pada orang yang selama ini dikira baik" Dan di situlah aku percaya kalau seribuh kebaikan akan dilupakan setelah ada satu kesalahan yang datang. Selepas kepergianya, aku sempat mengirim pesan kepadanya. "besok tanggal sembilan belas, semoga kita ikhlas pada kisah yang telah ditulis namun terlampau singkat" "Maaf kalau saya adalah kisah terburuk yang pernah engkau tulis"
Kalian pernah berada dalam posisi sepertiku? Mungkin iya mungkin juga belum tentu. Tetapi salah satu keunikan dari seorang laki-laki adalah merasa baik-baik saja dan berusaha untuk selalu mau memahami wanitanya. Karena kebanyakan laki-laki rajin mengirarkan janji untuk mau mendengarkan cerita dari wanitanya. Entah itu cerita suka yang membawa kebahagiaan ataupun duka yang membawa pilu. Ya meskipun kadang hanya sekedar trik atau cara agar kesannya ia selalu ada. Tetapi setidaknya laki-laki sudah berusaha untuk menjadi yang terbaik.
Sembilan belas, angka di mana kisah itu ditulis walapun terlampau singkat dan sadis. Rasanya aku yang berperan dalam tokoh antagonis. Padahal aku telah berusaha berperan sebagi tokoh protaginis dan pernah dipaksa jadi toko tritagonis (orang ketiga) dikalah ia belum selesai dengan masalalunya yang katanya sangat romantis.
Sembilan belas adalah cinta yang tumbuh tanpa mekar. Dalam semak ia keluar. Ia tumbuh dalam himpitan belukar yang tak enggan memberinya ia tumbuh segar. Cinta memang begitu. Selalu ikhlas dalalm setiap ruang dan waktu. Tetapi cinta itu Tulus. Lahir dari hati yang tulus namun kadang salah untuk menempatkanya.
Sudahlah. Aku tidak tahu lagi. Aku sudah kehilangan arah. Aku hanya ingin sembuh dari sayap yang patah setelah indonesia merdeka.
terus lanjutkan karyamu,
BalasHapusterima kasih bung
Hapus