Jumat, 25 Agustus 2023
MERDEKA DAN LUKA
Jumat, 18 Agustus 2023
AKU, KAMU DAN JARAK || Puisi Paul
Masih terjaga lama
Di ruang tamu duduk menganga
Menatap kekosongan hati dalam kisah yang belum selesai
Tangan mungil itu tak segan diam diri
Siap menari bersama pena di atas kertas putih
Malam itu isi kepalaku masih tertuju
Padamu wahai kekasihku
Yang selalu membuatku candu
Ingin selalu bertemu membagi kisah dalam kasih
Walau kutahu ini hanya sekedar mimpi
Aku, kamu dan jarak
Tiga kata yang menggambarkan kita saat ini
Ingatlah kata hati jangan ke lain hati
Jangan banyak diskusi pada mereka yang suka iri
Aku, kamu dan jarak
Adalah mimpi kita saat ini
Saat di mana malammu adalah siang untukku
Saat di mana rindu tidak bisa di bayar oleh satu pertemuan
Tapi jangan kau sungkan
Aku, kamu dan jarak
Kukira itu mudah
Malah menjadi penghambat aku dan kamu
Kita berada di bawah langit yang sama
Namun hangat senja yang menyelimutimu
Dapat melelehkan Salju di atapku
JADIKAN PEKERJAAN SEBAGAI PEMBELAJARAN || Paul
Anton dikejutkan dengan tumpukan piring kotor yang nampak jelas sedang menunggu di sana untuk segerah di cuci. "ah. Sialan. Sudah mengantuk baru cuci piring lagi. Hufffttt". kali ini Anton kembali menggaruk-garuk kepala sedikit lebih kencang dengan perasaan kesal. Namun, sebelum Anton mencuci piring, ia terlebih dahulu mengupas bawang dan kunyit serta menyiapkan segala macam keperluan masak untuk besok pagi. Ya, begitulah aktivitas yang dilakukan Anton setiap hari
**
Malam itu Anton masih terjaga lama di ruang tamu menatap selembar putih yang hampir penuh dengan coretan rindu yang terus menari-nari bersama pena tinta hitam. Ia menatap langit dari balik jendela ruang tamu. Masih sama. Seperti beberapa malam lalu, sebuah lengkungan sabit yang berukuran sedikit lebih besar dan beberapa bintang tampak berkilauan menemaninya dia atas sana. Matanya mulai sayup. Ia tak bisa menahan beban berat yang menggantung di kelopak matanya. Sedangkan bebarapa rumus kimia masih nampak jelas menunggu di depannya. Tinggal satu nomor lagi. Terakhir. Akhirnya selesai. Ia merentangkan tanganya dan menarik nafas lalu beranjak meninggalkan ruangan tamu dan menuju ke dapur. Brakk. beban berat yang masih bergantung rapi di matanya Itu skejap jatuh pecah bersamaan dengan sebuah gelas kaca yang tak sengaja di senggolnya ketika sedang meraba-raba mencari tombol sakelar untuk menyalakan lampu dapur. "sialan. Untung saja mereka suda tidur" gumam Anton dalam hati sembari membersihkan pecahan gelas itu.
**
Pagi masih gelap. Tampak dari fentilasi kamar terlihar masih pekat. Kira-kira jam tiga subuh Anton telah sadar dari tidurnya. Kepalanya masih berat. Dengan gerakan lamban ia bangun lalu melipat selimutnya dan meletkannya dengan rapih d atas bantal bergambar spiderman. Anton segera beranjak dari kasur yang sedikit usang itu lalu merapikannya. Ia keluar dari kamar dan menuju ke setiap jendela untuk membukanya. Angin pagi menggigili tubuh Anton yang membuat bibirnya komat-kamit tidak jelas. Ia menatap ke keluar dengan pandangan ke atas. Kali ini bulan terlihat penuh cahanya bersinar terang sampai ke bumi.
**
Anton segera menuju ke dapur dengan kondisi yang masih belum stabil. Anton bergeser ke meja dapur dengan kaki di seret. Tangan kanannya menyambar tumpukan bawang tapi lantas segera ia kumpulkan kembali ke dalam kotak. Kesadarannya belum penuh. Jadi Anton harus bekerja dalam stelan otomatis. Begitu tangannya menyentuh air barulah alaram dalam kepalanya menyentak dan menarik kembali kesadaranya. Tangan Anton meraih korek api lalu menyulut ke sumbuh kompor untuk segera menanak nasi alias aron. Anton memilih untuk segera menyapuh rumah bagian dalam, mulai dari ruang tamu bagian depan, ruang tengah, kamar tamu hingga di kamar lantai dua. Sesekali ia tidak lupa untuk mengepelnya. Kaki Anton cukup letih setelah menapaki anak tangga yang ke sekian menuju ke lantai atas. Seketika ada suara dari dalam dapur denga aroma yang cukup menggelisahkan, membuat langkahnya terhenti sejenak lalu ia segera lari ke dapur dan mendapati nasi yang hampir gosong dalam kuali. Uap dari dalam kuali menyembur tepat di wajah Anton yenag membuat ia mandi keringat subuh-subuh. "saya tidak pernah membayangkan bakal menemui kerepotan semacam ini" gumam Anton dengan nada sedikit kesal. Tapi sudalah. Inilah jalan hidup Anton yang harus ia tuntaskan selama masa sekolah di Maumere. Anton tidak pernah merasa putus asa. Meskipun harus bangun jam tiga subuh lalu masak dan sebagainya. Bahkan setiap pekerjaan yang dilakukan, ia menjadikannya sebagai sebuah proses pembelajaran dan bukan beban.
Udara masih dingin. cahaya matahari belum juga keluar dari sarangnya. Ayam tetangga suda turun dari tenggernya namun tuanya belum juga bangun dari tenggernya. Enak ya jadi mereka. Bisa tidur sepuasnya.
Memang. Masih gelap. Kira-kira jam empat lewat. Biasanya jam begini ibu Anas suda bangun untuk membuat lauk. "Suda jam berapa ini?" tanya Anton dalam hati dengan kening sedikit berkerut. Anton melihat sebuah jam bergantung diam di dinding tepat dekat pintu kamarnya. jarum merah itu kelihatan bergerak lebih lambat hari ini. "Andai saja ada opsi lompat jam, saya akan lebih memilih tersesat di dimensi lain dan kembali tanpa sadar bahwa waktu sudah berlalu. Supaya bangun seperti biasa di hari minggu bisa tidur sepuasnya.
Sabtu, 22 April 2023
"Hidup Memang Begitu" || CERPEN PAUL
Pagi masih gelap. pekat. Setetes embun jatuh dari sela-sela atap pondok mengenai pelipisku. Dengan mata yang masih tertutup aku berusaha menyekanya lalu dengan tenaga yang baru aku segera beranjak dari ranjang sederhana yang di buat ayah di pondok kecil kami. Sekejap aku kembali memejamkan mata lalu dalam hati aku melantunkan puji syukur kepada sang Ilahi. Karena telah menjaga aku dan ibu. Setelah berdoa, Aku keluar dan meregangkan urat-urat sembari mengulangi gerakan senam dasar yang di ajarkan guru sewaktu SD. Setelah itu aku pun mengganti gerakan dengan Push up di atas batu. Pada gerakan ke lima aku mulai lelah lalu dengan tenaga yang masih tersisa aku bangkit berdiri. Ibu sudah bangun sejam yang lalu. Aku melihat ia sedang berjalan di pinggir kebun mencari kayu kering. Urat di pergelangan tangannya mulai mengencang. Ia berusaha menarik kayu kering dari tumpukan jerami yang sedikit lembab karena di selimuti embun semalam hinggah pagi mendapatinya. Tangan kirinya memegang kayu itu dan melukainya dengan parang. Lalu ia merogokan kayu itu ke dalam tungku dan asap mulai mengepul keluar dari pondok kecil bertanda adanya kehidupan hari itu.
Ibu keluar sejenak dari pondok itu dan menatap ke atas langit yang masih agak remang-remang dan berharap agar mentari cepat merekah. Seekor ayam jantan sudah turun dari tenggernya dan mulai mecari makan. Tutupan periuk menari-nari di atasnya. Semburan air yang memberontak keluar menyebabkan abu dapur beterbangan di sekitar tungku itu. ternyata air sudah mendidih. ibu lalu membuatkan kopi untuk ayah yang baru saja pulang melaut. Biasanya aku menemani ayah melaut. Tetapi hari itu aku yang menggantikan ayah untuk mengiris tuak nya. Karena ia cepat-cepat ke pantai untuk memperbaiki sayap perahunya. kami menyebutnya dengan Ele. Jadinya ia sendiri yang pergi. Hasil tangkapan ikan cukup untuk makan hari ini. Bahkan sisanya bisa dibawa pulang ke rumah.
Matahri telah bergantung indah di ufuknya. Burung-burung tampak mulai menyempurnakan kicauannya. Dan asap di tungku itu terus membumbung ke atas langit. Langit di sepuh biru bersih. gumpalan awan tampak putih tanpa mendung. kelam malam telah ditelan sinar matahari yang menyalak angkuh. Sedangkan ayah masih duduk santai menikmati sebatang rokok surya dan sembari meneguk kopi yang sudah mulai habis sambil menatap tetesan tuak dari buah lontar yang aku iris kemarin sore. Ia pun mengambil parangnya dan mulai mengasah parang itu. ayah betul-betul memanfaatkan waktu. Ia tidak mau waktunya terbuang begitu saja tanpa aktivitas yang lebih berguna. Aku menyarankan agar biar aku saja yang mengiris tuak di samping pondok itu. ayah pun mengiyakannya.
Aku menarik nafas setelah kakiku menapaki sekian anak tangga dari batang bambu yang sudah tua dan ayah menatap ku dari bawah sambil mengatakan “hati-hati nak” tangan kananku sudah menggapai satu dahan daun lontar dan kaki kiri ku sudah menancap di sela-sela himpitan dahan lontar dan bambu lalu aku mencari tempat sandaran yang nyaman. Aku mengeluarkan pisau dan melukai buah lontar itu satu per satu. Lalu menadahnya dengan jerigen bekas dan botol aqua. Lalu menurunkan satu jerigen sadapan tuak yang sudah penuh. Ibu jariku penuh dengan luka-luka kecil akibat sayatan pisau yang tajam itu. Namun itu tidak membuatku putus asah dan takut. Semakin tubuh terluka ia semakin kebal dan rasa sakit telah memahamiku tentang kesabaran. Hidup memang begitu. Jika kita mau mendapatkan sesuatu yang kita inginkan kita harus terluka. Apalagi hanya luka kecil ini, pakai daun-daun rumput pun bisa sembuh. Gumamku dalam hati. Aku pun cepat-cepat turun dan mendapati ibu sedang mencari buah lontar tua yang sudah masak. Kami menyebutnya dengan tahak. Tahak artinya matang atau masak. Akupun segera menyayat buah lontar itu dan mengeluarkan sabutnya yang masih segar lalu menempel pada bibir periuk agar uap penyulingan tidak menyembur keluar dan kualitas arak tetap terjaga
Sedangkan ayah telah selesai mengasah parangnya dan mulai bergulat dengan rumput dan lumpur. Aku menatapnya dari sudut pondok itu dengan perasaan bahagia dan bangga. Ternyata panggilan hidup sebagai seoarang ayah tidaklah mudah. Mereka harus bekerja keras. Melawan hujan dan panas. Semak belukar menjadi musuh buyutan. bukan hanya itu. Menjadi seorang ayah merupakan tanggung jawab besar atas hidup keluarganya. Aku melihat ibu sedang berusaha mengibas api dan asap mulai mengepul. Matanya berkerut-kerut menampung air yang makin lama makin penuh. Dalam benak aku ingin menggambar alien berwajah ibu. Tetapi aku tidak setega itu. Karena hidup memang begitu. kita di lahirkan untuk menderita. Kebahagian tanpa air mata adalah usaha yang tidak nyata. Begitu pula dengan orang-orang kaya. Tinggal duduk di meja main HP, tiba-tiba pelayan datang membawa makanan. Namun itu bukan berarti mereka orang-orang pemalas. tetapi mereka telah bekerja keras hingga akhirnya menjadi sukses berkelas. gumamku dalam hati.
Mataku penuh serius terus menatap mereka layaknya pengamat yang turun lapangan melakukan observasi. Aku tak bisa membayangkan kehidupan tanpa mereka. Pasti hatiku akan terasa remuk redam, menangis berkepanjangan, meraung ke langit dan melolong-lolong seperti orang gila. Aku hanya melihat ayah tunduk lama sekali. hingga mtahari telah bergeser tepat di sudut sembilan puluh derajat. Memang sudah siang saatnya makan siang. Aku hanya membuang-buang waktu dengan berkhayal. “nak panggil ayahmu makan” seru ibu dari balik periuk tana sambil menyaring tuak untuk segera di suling.
LAPORAN HASIL KEGIATAN KATEKESE PEDNALAMAN KITAB SUCI PERTEMUAN KEDUA - OKTOBER 2025 Dikerjakan Oleh: Paulus Leo Lego Hurit (237...
-
Tugas Pastoral Kitab Suci Laporan Hasil Kegiatan Katekese Pertemuan I Kelompok The Youth Eltras Di Susun Oleh: Paulus Leo Le...
-
Surat D ari Anak Perempuanmu altaschool.id Selamat malam ibuku Aku merindukan dirimu Dengan seonggok bulan di kepalaku, aku ...
-
Nona Ini surat saya yang terakhir Larik-larik dalam surat ini saya tulis dengan air mata sebagai tintanya dan hati yang sakit sebagai insp...