Jumat, 25 Agustus 2023

MERDEKA DAN LUKA


                                                             kompasiana.com


    Aku punya hari yang buruk.
Rasanya aku belum selesai
dengan kisah pilu tiga hari yang lalu.
Ia memutuskanku setelah sehari indonesia merdeka.
Payah.
Mungkin ia mau seperti bendera
yang bergantung bebas di atas tiang
lalu berkibar semaunya mengikuti ritme angin.
Ke kiri dan ke kanan
tanpa ada larangan dan tekanan.
Mungkin ia tidak mau lagi ada di cerita itu.
Ya,
cerita cinta yang mebawa banyak luka dan kecewa.
Luka itu mulai mengiris hati pada cinta di awal juli
dan mati setelah indonesia bebas dari duka negri

Awal juli memberi cuaca yang tak pasti,  kadang hujan, kadang panas, kadang angin yang membawa dingin. Akibatnya, harapan hidup pada sepiring nasi semakin tak berisi. Mati, kering dan tidak berbuah. Hanya bermodalkan tubuh yang kuat dan dua pohon tuak yang siap berkorban, terluka untuk memberi harapan pada jiwa. 

Selain itu, awal juli juga memberi cinta, membawa angin suka cita. Hujan dalam rindu, panas asmara yang menggebu-gebu menumbuhkan rasa pada jiwa yang sekian lama mati dalam isi kepala. Dengan PDnya aku mengungkapkan rasa sukaku padanya. Dan ia menanggapinya dengan baik adanya. Ternyata ia juga memiliki rasa yang sama. 

"kamu lagi apa?"
"jangan panggil dengan kata KAMU"
"ohiya sori ya"
"iya tidak apa-apa no" 
"ohiya Oa. Terima kasih ee"
"Sama-sama"
Maklum saja masih awal. Hhhh

Panggilan akrab versi flores timur telah melekat dalam komunikasi kesaeharian kami. Oa, no. Iya, Oa dan No adalah awal cerita yang mengandung banyak rasa.  Tapi sayang, rasa dalam cinta itu masih berumuran jagung namun terpaksa di bunuh dan mengakhirinya dengan sebuah kata yaitu bersambung. 
Tidak tahu episode selanjutnya masih dengan pemeran yang sama atau tidak. "Pasti yang jelasnya tidak lah, masa Iya pemerannya Sudah mati tapi hidup kembali. Kan tidak mungkin" 

Aku merasa bersalah. Setelah tiga hari lamanya jarum cinta itu berhenti pada malam yang kelam, akupun kehilangan arah untuk balik menyapanya. Aku telah melukai dia. Tujuh belas agustus adalah kemerdekaanku yang dipaksa mati. Cinta itu tumbuh dan mati dalam isi kepalaku. Ia berhasil membuatku berhenti untuk menunggu dan merindu. Katanya saat ini ia malas untuk pacaran. Tapi sejatinya itu hanyalah sebuah alasan. Ia membunuh harapanku dengan tidak mempedulikan perkataanku.  Aku sayang padanya. Maka kupaksakan mengakhiri kisah ini.

Setelah beberapa hari, aku mencoba untuk merenung. Semudah itu ia mengatakan pisah setelah ia  membuatku untuk menunggu. 
"Sebelumnya minta maaf. Kita dua urus panggilan masing-masing sudah."

Maka disitulah ku paksakan untuk mematahkan sayapkyu untuk terbang menggapai angan bersamanya dalam bayangan. Aku mencoba untuk mengutip sebuah kata-kata dari seoarang frater waktu kami mengikuti PKKMB (Pengenalan Kehidupan Kampus Mahasiswa Baru) "Kemarin adalah bayangan, besok hanyalah sebuah mimpi".Dan kujadikan hal demikian seperti bayangan dan mimpi. Semuanya hanya sekedar halu. Sebuah imajinasi yang tak pasti.

  Ah bukankah  jika engkau sayang, engkau tak akan rela melepaskannya? Tanyaku dalam hati. Sebab jika engkau melepasknya, maka engkau juga merelakan dia untuk bersama yang lain. Apakah cintaku tak setulus dan tak sekokoh itu? Pertanyaan itu selalu muncul dalam isi kepalaku. "Seandainya saja waktu itu aku mencoba untuk bersabar, lalu mengangkat video callnya dengan hati yang bahagia, dan mencoba untuk mengubur amarah dan rasa kesal itu, mungkin cinta itu masih tumbuh hinga sekarang. Tapi aku salah. Penyesalan itu selalu menghantui hari-hariku. Ya. Penyesalan memang selalu datang di akhir.  
  
 
 "Maaf e di sini jarigan parah"
"Ohiya sayang tidak apa-apa"
Kapan kita begini terus? Hening sekali. Alasan jaringan parah tapi update story wa lancar. Gumamku dalam hati. 

Perenpuan memang begitu, selalu ingin di mengerti. Jika tidak maka kamu akan jadi kaum yang tidak pernah lolos dari salah. Kamu akan tetap menjadi manusia lemah yang selalu ingin mengalah. 

Perempuan  Selain mau menang sendiri, mereka juga merasa paling tersakiti setelah merasa dikhianati dan  mengakhiri lalu pergi. Kemudian kasih postingan di sosmed "ikhlas! Jangan lama-lama menyesal pada orang yang selama ini dikira baik" Dan di situlah aku percaya kalau seribuh kebaikan akan dilupakan setelah ada satu kesalahan yang datang. Selepas kepergianya, aku sempat mengirim pesan kepadanya. "besok tanggal sembilan belas, semoga kita ikhlas pada kisah yang telah ditulis namun terlampau singkat" "Maaf kalau saya adalah kisah terburuk yang pernah engkau tulis"

    Kalian pernah berada dalam posisi sepertiku? Mungkin iya mungkin juga belum tentu. Tetapi salah satu keunikan dari seorang laki-laki adalah merasa baik-baik saja dan berusaha untuk selalu mau memahami wanitanya. Karena kebanyakan laki-laki rajin mengirarkan janji untuk mau mendengarkan cerita dari wanitanya. Entah itu cerita suka yang membawa kebahagiaan  ataupun duka yang membawa pilu. Ya meskipun kadang hanya sekedar trik atau cara agar kesannya ia selalu ada. Tetapi setidaknya laki-laki sudah berusaha untuk menjadi yang terbaik. 

Sembilan belas, angka di mana kisah itu ditulis walapun terlampau singkat dan sadis. Rasanya aku yang berperan dalam tokoh antagonis. Padahal aku telah berusaha berperan sebagi tokoh protaginis dan pernah dipaksa jadi toko tritagonis (orang ketiga)  dikalah ia belum selesai dengan masalalunya yang katanya sangat romantis.

    Sembilan belas adalah cinta yang tumbuh tanpa mekar. Dalam semak ia keluar. Ia tumbuh dalam himpitan belukar yang tak enggan memberinya ia tumbuh segar. Cinta memang begitu. Selalu ikhlas dalalm setiap ruang dan waktu. Tetapi cinta itu Tulus. Lahir dari hati yang tulus namun kadang salah untuk menempatkanya. 

    Sudahlah. Aku tidak tahu lagi. Aku sudah kehilangan arah. Aku hanya ingin sembuh dari sayap yang patah setelah indonesia merdeka. 

Jumat, 18 Agustus 2023

AKU, KAMU DAN JARAK || Puisi Paul





 AKU, KAMU DAN JARAK


Masih terjaga lama

Di ruang tamu duduk menganga

Menatap kekosongan hati dalam kisah yang belum selesai

Tangan mungil itu tak segan diam diri

Siap menari bersama pena di atas kertas putih


Malam itu isi kepalaku masih tertuju

Padamu wahai kekasihku

Yang selalu membuatku candu

Ingin selalu bertemu membagi kisah dalam kasih

Walau kutahu ini hanya sekedar mimpi 


Aku, kamu dan jarak

Tiga kata yang menggambarkan kita saat ini

Ingatlah kata hati jangan ke lain hati

Jangan banyak diskusi pada mereka yang suka iri


Aku, kamu dan jarak

Adalah mimpi kita saat ini

Saat di mana malammu adalah siang untukku

Saat di mana rindu tidak bisa di bayar oleh satu pertemuan

Tapi jangan kau sungkan 


Aku, kamu dan jarak

Kukira itu mudah

Malah menjadi penghambat aku dan kamu

Kita berada di bawah langit yang sama

Namun hangat senja yang menyelimutimu 

Dapat melelehkan Salju  di atapku 




JADIKAN PEKERJAAN SEBAGAI PEMBELAJARAN || Paul

  Anton dikejutkan dengan tumpukan piring kotor yang nampak jelas sedang menunggu di sana untuk segerah di cuci. "ah. Sialan. Sudah mengantuk baru cuci piring lagi. Hufffttt". kali ini Anton kembali menggaruk-garuk kepala sedikit lebih kencang dengan perasaan kesal. Namun, sebelum Anton mencuci piring, ia terlebih dahulu mengupas bawang dan kunyit serta menyiapkan segala macam keperluan masak untuk besok pagi. Ya, begitulah aktivitas yang dilakukan Anton setiap hari



                                                                                **


Malam itu Anton masih terjaga lama di ruang tamu menatap selembar putih yang hampir penuh dengan coretan rindu yang terus menari-nari bersama pena tinta hitam. Ia menatap langit dari balik jendela ruang tamu. Masih sama. Seperti beberapa malam lalu, sebuah lengkungan sabit yang berukuran sedikit lebih besar dan beberapa bintang tampak berkilauan menemaninya dia atas sana. Matanya mulai sayup. Ia tak bisa menahan beban berat yang menggantung di kelopak matanya. Sedangkan bebarapa rumus kimia masih nampak jelas menunggu di depannya. Tinggal satu nomor lagi. Terakhir. Akhirnya selesai. Ia merentangkan tanganya dan menarik nafas lalu beranjak meninggalkan ruangan tamu dan menuju ke dapur. Brakk.  beban berat yang masih bergantung rapi di matanya Itu skejap jatuh pecah bersamaan dengan sebuah gelas kaca yang tak sengaja di senggolnya ketika sedang meraba-raba mencari tombol sakelar untuk menyalakan lampu dapur. "sialan. Untung saja mereka suda tidur" gumam Anton dalam hati sembari membersihkan pecahan gelas itu.



                                                                                    **


Pagi masih gelap. Tampak dari fentilasi kamar terlihar masih pekat. Kira-kira jam tiga subuh Anton telah sadar dari tidurnya. Kepalanya masih berat. Dengan gerakan lamban ia bangun lalu melipat selimutnya dan meletkannya dengan rapih d atas bantal bergambar spiderman. Anton segera beranjak dari kasur yang sedikit usang itu lalu merapikannya. Ia keluar dari kamar dan menuju ke setiap jendela untuk membukanya.  Angin pagi menggigili tubuh Anton yang membuat bibirnya komat-kamit tidak jelas. Ia menatap ke keluar dengan pandangan ke atas.  Kali ini bulan terlihat penuh cahanya bersinar terang sampai ke bumi. 


                                                                                    **


Anton segera menuju ke dapur dengan kondisi yang masih belum stabil. Anton bergeser ke meja dapur dengan kaki di seret. Tangan kanannya menyambar tumpukan bawang tapi lantas segera ia kumpulkan kembali ke dalam kotak. Kesadarannya belum penuh. Jadi Anton harus bekerja dalam stelan otomatis. Begitu tangannya menyentuh air barulah alaram dalam kepalanya menyentak dan menarik kembali kesadaranya. Tangan Anton meraih korek api lalu menyulut ke sumbuh kompor untuk segera menanak nasi alias aron. Anton memilih untuk segera menyapuh rumah bagian dalam, mulai dari ruang tamu bagian depan, ruang tengah, kamar tamu hingga di kamar lantai dua. Sesekali ia tidak lupa untuk mengepelnya. Kaki Anton cukup letih setelah menapaki anak tangga yang ke sekian menuju ke lantai atas. Seketika ada suara dari dalam dapur denga aroma yang cukup menggelisahkan, membuat langkahnya  terhenti sejenak lalu ia segera lari ke dapur dan mendapati nasi yang hampir gosong dalam kuali. Uap dari dalam kuali menyembur tepat di wajah Anton yenag membuat ia mandi keringat subuh-subuh.  "saya tidak pernah membayangkan bakal menemui kerepotan semacam ini" gumam Anton dengan nada sedikit kesal. Tapi sudalah. Inilah jalan hidup Anton yang harus ia tuntaskan selama masa sekolah di Maumere. Anton tidak pernah merasa putus asa. Meskipun harus bangun jam tiga subuh lalu masak dan sebagainya. Bahkan setiap pekerjaan yang dilakukan, ia  menjadikannya sebagai  sebuah proses pembelajaran dan bukan beban. 

Udara  masih dingin. cahaya matahari belum juga keluar dari sarangnya. Ayam tetangga suda turun dari tenggernya namun tuanya belum juga bangun dari tenggernya. Enak ya jadi mereka. Bisa tidur sepuasnya.

 Memang. Masih gelap. Kira-kira jam empat lewat. Biasanya jam begini ibu Anas suda bangun untuk membuat lauk. "Suda jam berapa ini?"  tanya Anton dalam hati dengan kening sedikit berkerut. Anton melihat sebuah jam bergantung diam di dinding tepat dekat pintu kamarnya. jarum merah itu kelihatan bergerak lebih lambat hari ini. "Andai saja ada opsi lompat jam, saya akan lebih memilih tersesat di dimensi lain dan kembali tanpa sadar bahwa waktu sudah berlalu. Supaya bangun seperti biasa di hari minggu bisa tidur sepuasnya. 




 



 




Sabtu, 22 April 2023

"Hidup Memang Begitu" || CERPEN PAUL





Pagi masih gelap. pekat. Setetes embun jatuh dari sela-sela atap pondok mengenai pelipisku. Dengan mata yang masih tertutup aku berusaha menyekanya lalu dengan tenaga yang baru aku segera beranjak dari ranjang sederhana yang di buat ayah di pondok kecil kami. Sekejap aku kembali memejamkan mata lalu dalam hati aku melantunkan puji syukur kepada sang Ilahi. Karena telah menjaga aku dan ibu. Setelah berdoa, Aku keluar dan meregangkan urat-urat sembari mengulangi gerakan senam dasar yang di ajarkan guru sewaktu SD. Setelah itu aku pun mengganti gerakan dengan Push up di atas batu. Pada gerakan ke lima aku mulai lelah lalu dengan tenaga yang masih tersisa aku bangkit berdiri. Ibu sudah bangun sejam yang lalu. Aku melihat ia sedang berjalan di pinggir kebun mencari kayu kering. Urat di pergelangan tangannya mulai mengencang. Ia berusaha menarik kayu kering dari tumpukan jerami yang sedikit lembab karena di selimuti embun semalam hinggah pagi mendapatinya. Tangan kirinya memegang kayu itu dan melukainya dengan parang.  Lalu ia merogokan kayu itu ke dalam tungku dan asap mulai mengepul keluar dari pondok kecil bertanda adanya kehidupan hari itu.

Ibu keluar sejenak dari pondok itu dan menatap ke atas langit yang masih agak remang-remang dan berharap agar mentari cepat merekah. Seekor ayam jantan sudah turun dari tenggernya dan mulai mecari makan.  Tutupan periuk menari-nari di atasnya.  Semburan air yang memberontak  keluar menyebabkan abu dapur beterbangan di sekitar tungku itu. ternyata air sudah mendidih. ibu lalu membuatkan kopi untuk ayah yang baru saja pulang melaut. Biasanya aku menemani ayah melaut. Tetapi hari itu aku yang menggantikan ayah untuk mengiris tuak nya. Karena ia cepat-cepat ke pantai untuk memperbaiki sayap perahunya. kami menyebutnya dengan Ele. Jadinya ia sendiri yang pergi. Hasil tangkapan ikan cukup untuk makan hari ini. Bahkan sisanya bisa dibawa pulang ke rumah.

Matahri telah bergantung indah di ufuknya. Burung-burung tampak mulai menyempurnakan kicauannya. Dan asap di tungku itu terus membumbung ke atas langit. Langit di sepuh biru bersih. gumpalan awan tampak putih tanpa mendung. kelam malam telah ditelan sinar matahari yang menyalak angkuh. Sedangkan ayah masih duduk santai menikmati sebatang rokok surya dan sembari meneguk kopi yang sudah mulai habis sambil menatap tetesan tuak dari buah lontar yang aku iris kemarin sore.  Ia pun mengambil parangnya dan mulai mengasah parang itu. ayah betul-betul memanfaatkan waktu. Ia tidak mau waktunya terbuang begitu saja tanpa aktivitas yang lebih berguna. Aku menyarankan agar biar aku saja yang mengiris tuak di samping pondok itu. ayah pun mengiyakannya. 

Aku menarik nafas setelah kakiku menapaki sekian anak tangga dari batang bambu yang sudah tua dan ayah menatap ku dari bawah sambil mengatakan “hati-hati nak” tangan kananku sudah menggapai satu dahan daun lontar dan kaki kiri ku sudah menancap di sela-sela himpitan dahan lontar dan bambu lalu aku mencari tempat sandaran yang nyaman. Aku mengeluarkan pisau dan melukai buah lontar itu satu per satu. Lalu menadahnya dengan jerigen bekas dan botol aqua. Lalu menurunkan satu jerigen sadapan tuak yang sudah penuh. Ibu jariku penuh dengan luka-luka kecil akibat sayatan pisau yang tajam itu. Namun itu tidak membuatku putus asah dan takut. Semakin tubuh terluka ia semakin kebal dan rasa sakit telah memahamiku tentang kesabaran. Hidup memang begitu. Jika kita mau mendapatkan sesuatu yang kita inginkan kita harus terluka. Apalagi hanya luka kecil ini, pakai daun-daun rumput pun bisa sembuh. Gumamku dalam hati. Aku pun cepat-cepat turun dan mendapati ibu sedang mencari buah lontar tua yang sudah masak. Kami menyebutnya dengan tahak. Tahak artinya matang atau masak. Akupun segera menyayat buah lontar itu dan mengeluarkan sabutnya yang masih segar lalu menempel pada bibir periuk agar uap penyulingan tidak menyembur keluar dan kualitas arak tetap terjaga 

 Sedangkan ayah telah selesai mengasah parangnya dan mulai bergulat dengan rumput dan lumpur.  Aku menatapnya dari sudut pondok itu dengan perasaan bahagia dan bangga. Ternyata panggilan hidup sebagai seoarang ayah tidaklah mudah. Mereka harus bekerja keras. Melawan hujan dan panas. Semak belukar menjadi musuh buyutan. bukan hanya itu. Menjadi seorang ayah merupakan tanggung jawab besar atas hidup keluarganya. Aku melihat ibu sedang berusaha mengibas api dan asap mulai mengepul. Matanya berkerut-kerut menampung air yang makin lama makin penuh.  Dalam benak aku ingin menggambar alien berwajah ibu. Tetapi aku tidak setega itu. Karena hidup memang begitu. kita di lahirkan untuk menderita. Kebahagian tanpa air mata adalah usaha yang tidak nyata. Begitu pula dengan orang-orang kaya. Tinggal duduk di meja main HP, tiba-tiba pelayan datang membawa makanan. Namun itu bukan berarti mereka orang-orang pemalas. tetapi mereka telah bekerja keras hingga akhirnya menjadi sukses berkelas. gumamku dalam hati.

 Mataku penuh serius terus menatap mereka layaknya pengamat yang turun lapangan melakukan observasi. Aku tak bisa membayangkan kehidupan tanpa mereka. Pasti hatiku akan terasa remuk redam, menangis berkepanjangan, meraung ke langit dan melolong-lolong seperti orang gila. Aku hanya melihat ayah tunduk lama sekali. hingga mtahari telah bergeser tepat di sudut sembilan puluh derajat. Memang sudah siang saatnya makan siang. Aku hanya membuang-buang waktu dengan berkhayal. “nak panggil ayahmu makan” seru ibu dari balik periuk tana sambil menyaring tuak untuk segera di suling. 


    LAPORAN HASIL KEGIATAN KATEKESE PEDNALAMAN KITAB SUCI PERTEMUAN KEDUA - OKTOBER 2025 Dikerjakan Oleh: Paulus Leo Lego Hurit (237...